
Karena sebuah permintaan dari istrinya, Ciko akhirnya menuruti kemauannya dan mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya.
Sebelumnya, Ciko membukakan pintu mobil bagian depan.
"Aku tidak mau duduk di sebelah kamu, duduk disebelah lelaki pengecut sepertimu." Ucap Landa dan memilih untuk membuka sendiri pintu mobilnya, dan menolak untuk duduk di depan.
Ciko yang sedang tidak ingin berdebat dengan istrinya, memilih untuk diam. Kemudian, dirinya segera masuk dan mengendarai mobilnya.
Selama perjalanan, Ciko sama sekali tidak membuka suaranya. Begitu juga dengan Landa, sama halnya yang sama sama diamnya.
Tidak memakan waktu yang lama karena jarak rumah yang tidak begitu jauh, akhirnya sampai juga di halaman rumah kediaman keluarga Ningrat.
Landa yang sudah dikuasai emosinya, juga kekesalannya terhadap suami sendiri atas kesalahan dimasa kecilnya, masih disimpan kebencian oleh seorang Landa.
"Siap tidak siap, aku harus bisa menerima apa yang akan Tuan Herdi putuskan padaku. Mau bagaimanapun aku memang salah, karena aku tidak bertanggung jawab dalam kejadian masa lalu itu." Gumamnya saat baru saja turun dari mobil.
"Loh loh loh, kok pulang? ada apa, Nak?" tanya sang ibu yang dikagetkan dengan kedatangan putrinya.
Landa masih diam, dan menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan raut wajah yang terlihat kesal, dan seperti ingin marah besar, pikir ibunya.
"Suami kamu mana, gak ikut?" tanya sang ibu sambil celingukan di sekitarnya untuk mencari keberadaan menantunya.
__ADS_1
"Landa, kok pulang, dimana suami kamu?" tanya sang ayah yang juga kaget saat melihat putrinya pulang ke rumah.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya." Sapa Ciko yang sudah terbiasa dengan panggilannya.
"Kok masih Tuan dan Nyonya, kami ini sudah menjadi orang tua kamu. Panggil saja Papa dan Mama, ya."
"Ya, Pa." Jawab Ciko sedikit menunduk.
"Ngomong-ngomong kalian berdua ini datang kemari ada perlu apa? kalian berdua sedang tidak berantem, 'kan?" tanya ayahnya Landa memperhatikan satu persatu diantara mereka berdua.
"Kedatangan kita berdua itu mau menunjukkan sesuatu sama Papa, biar Papa dan Mama mengetahui kebenarannya siapa suami Landa yang sebenarnya, suami pilihan Papa dan Mama."
"Landa, gak baik bicara seperti itu soal suami kamu."
"Landa! jaga bicaramu." Bentak ayahnya.
Landa yang mendapat bentakan dari ayahnya, hanya menahan kesal.
"Gak baik kalau ngomongnya sambil berdiri. Silakan duduk Nak Ciko." Ucap Tuan Herdi kepada menantunya.
"Ya, Nak Ciko, silakan duduk. Kita selesaikan permasalahannya terlebih dahulu." Timpal ibu mertuanya.
__ADS_1
"I-iya, Ma." Jawab Ciko sedikit gugup.
Setelah semuanya duduk saling berhadapan, Tuan Herdi justru pandangannya kini tertuju kepada putrinya sendiri.
"Landa, kenapa dengan suami kamu?" tanya sang ayah ingin tahu.
Bukannya langsung menjawab, justru menoleh pada suaminya. Ciko sendiri sama sekali tidak menoleh pada istrinya, juga lebih memilih untuk tetap pada posisinya.
"Papa ingin tahu kan, seseorang yang sudah merebut kebahagiaan Landa di masa kecil itu?"
"Maksudnya kamu itu apa, Landa? Papa belum mengerti yang kamu katakan."
"Masa Papa lupa sih, dulu yang sudah mencelakai Landa yang waktu itu kita sedang berada di taman. Papa dan Mama kenapa menjadi lupa sih?"
"Soal kamu di tabrak sepeda?"
"Ya, Pa, benar. Dan, sekarang juga Landa mau ngasih tahu ke Papa sama Mama siapa yang sudah mencelakai Landa."
"Memangnya siapa?" tanya Tuan Herdi pada putrinya sambil menoleh ke arah istrinya.
"Ini dia pelakunya, menantu Papa sendiri yang sudah mencelakai Landa di masa lalu, Pa. Dia ini orangnya yang sudah membuat Landa harus cidera, dan juga harus gagal dalam impian, lelaki ini orangnya, lelaki pilihan Papa." Jawab Landa dengan penuh kesal, juga menoleh pada suaminya.
__ADS_1
Tuan Herdi langsung menoleh pada menantunya yang terlihat tengah menunduk.