
Setelah keduanya selesai makan siang, Landa kembali duduk di tempat kerjanya. Tidak mau pekerjaannya terbengkalai, Landa maupun sekretaris Ciko segera menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.
Lumayan sulit dan juga telah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya jam pulang sudah mengagetkan keduanya yang tengah sibuk dengan tanggungjawabnya.
Sekretaris Ciko yang baru saja menyelesaikan tugasnya, ia tak lupa untuk membereskan meja kerjanya.
Begitu juga dengan Landa, ia juga bersiap-siap untuk pulang. Namun sebelum pulang, Landa mendekati sekretarisnya.
"Maaf, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Landa dengan berani.
"Boleh, memangnya Nona ingin bertanya apa?"
"Bisa gak, temani aku ke pantai."
"Menemani Nona pergi ke pantai?"
Landa mengangguk pelan.
"Ya, aku ingin sekali pergi ke pantai. Kepalaku terasa pening, dan juga membutuhkan sesuatu yang lebih segar lagi." Jawab Landa penuh harap, jika ajakannya tidak ditolak.
"Baik, Nona." Jawab sekretaris Ciko.
Setelah mendapat izin dari sekretarisnya, Landa sedikit lega. Kemudian, keduanya segera keluar dari ruangan kerjanya.
Sambil berjalan beriringan, keduanya selalu menjadi bahan perhatian oleh karyawan yang lainnya. Tentu saja, Bos dan sekretaris jadikan bahan pembicaraan.
"Silakan masuk, Nona." Ucap sekretaris Ciko sambil membukakan pintu mobil, Landa segera masuk, dan juga dirinya.
Selama perjalanan menuju pantai, Landa tengah bersandar sambil melihat jalanan yang ia lewati. Keduanya sama-sama hening, satupun tidak ada yang mengajaknya mengobrol meski hanya sekedar basabasi.
"Maaf, Nona. Kalau boleh tahu, Nona mau pergi ke pantai yang dimana?" tanya sekretaris Ciko sambil menyetir.
"Menurut kamu yang bagus itu dimana, aku nurut saja sama kamu. Soalnya aku jarang pergi ke pantai, dan aku juga tidak tahu tempat mana yang bagus." Jawab Landa yang memang jarang bepergian, selama dari kecil dirinya selalu berlibur ke luar negri, tentu saja tidak begitu paham dengan tempat berekreasi.
"Baiklah, kalau begitu saya yang akan memilih tempat yang akan dijadikan tempat tujuan Nona." Ucap sekretaris Ciko yang sama sekali tidak menoleh ke arah Bosnya.
Ciko yang sadar siapa dirinya, sebisa mungkin untuk tidak lupa dengan statusnya. Sambil menyetir mobil, ingatannya kembali sesuatu mengenai asal usulnya. Saat itu juga jika dirinya baru teringat untuk membahas mengenai bukti yang akan ditunjukkan oleh Tuan Herdi.
Namun, mau bagaimana lagi, dirinya diminta untuk mengantar Bosnya ke pantai. Mau tidak mau, salah satu harus di pending, pikirnya.
Sambil fokus dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba Landa dikagetkan dengan sebuah panggilan masuk ke nomor ponselnya.
__ADS_1
'Aih, Wela. Mau ngapain dia nelfon aku, gangguin aja orang lagi ngilangin penat.' Batin Landa kesal.
Saat itu juga, Landa terpaksa menerima panggilan dari sahabatnya itu.
"Ada apa, Wel?" tanya Landa dengan rasa malas.
Sambil melihat lurus ke depan, Landa dengan fokus mendengar ucapan dari sahabatnya itu.
"Apa! mau ke rumah? aduh, aku gak bisa. Gimana kalau besok aja, soalnya sekarang ini aku mau ke ...." jawab Landa sambil menggantungkan kalimatnya, serta menoleh pada sekretarisnya.
Saat itu juga, rupanya sekretaris Ciko juga menoleh ke ayahnya. Cepat-cepat, langsung menatap lurus ke depan lagi, yakni fokus dengan setirnya.
Sedangkan Landa, dirinya juga tengah mendengarkan sahabatnya berbicara, dan terdengar rengekan untuk merayunya.
"Ya deh ya, nanti aku jemput kamu. Awas loh ya, kalau sampai bikin ulah, aku bakal tinggalin kamu pulang." Jawab Landa yang akhirnya menyerah, setidaknya dirinya tidak sendirian saat sedang patah hati pikirnya.
Untuk soal sekretarisnya, Landa tidak begitu penting memikirkannya. Setidaknya si sekretaris Ciko dapat diajak kerja sama untuk menjadi bodyguard nya, meski hanya sekedar mengantarkan dirinya ke tempat yang ingin ia tuju, pikir Landa.
"Oh ya, nanti mampir ke rumah teman aku yang kemarin itu ya. Soalnya dia pingin ikut, juga biar aku ada temannya." Ucap Landa pada sekretarisnya.
"Baik, Nona." Jawab sekretaris Ciko dibarengi dengan anggukan.
"Ingat apa, Nona?" tanya sekretaris Ciko yang langsung menoleh.
"Jangan ganjen, apalagi curi pandang dan cari perhatian sama temanku. Aku pastikan, kamu akan segera dipecat dari pekerjaan kamu." Jawab Landa dengan memberi ancaman kepada sekretarisnya.
Sekretaris Ciko yang mendengarnya, pun mengangguk, dan tidak menoleh lagi ke arah Bosnya.
"Saya tidak bisa janji, soalnya saya lelaki normal. Ya ya ya, saya akan penuhi permintaan Nona, asalkan ..." jawab sekretaris Ciko sambil senyum tipis, dan tentunya fokus dengan setirnya.
Ditambah lagi dengan jalanan yang cukup lumayan berkelok, butuh kehati-hatian untuk melewatinya.
"Asalkan apa?" tanya Landa ingin tahu atas rasa penasarannya.
"Tidak ada, Nona." Jawab sekretaris Ciko tak juga menoleh.
"Hem."
Sekretaris Ciko hanya tersenyum tipis saat menoleh dengan sekilas.
"Oh ya, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Ciko yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Boleh, tanyakan saja." Jawab Landa dengan anggukan, tatapannya tetap lurus ke depan.
"Maaf sebelumnya, luka pada punggung Nona itu, karena apa? maaf, jika pertanyaan saya ini sudah lancang."
Landa langsung menoleh. Saat itu juga, Sekretaris Ciko menepikan mobilnya. Takut, obrolannya semakin serius, juga takut mengerem mendadak ketika salah satu diantara keduanya dibuatnya kaget.
"Luka yang ada di punggungku, begitukah maksudnya kamu?"
Ciko mengangguk sambil menatap wajah Bosnya.
"Ya, benar, Nona. Kalau itu privasi Nona, juga tidak apa-apa. Saya tidak memaksakan Nona untuk mengatakannya."
"Ini luka saat aku masih kecil, waktu itu kejadiannya di taman. Sudah lama kok, memangnya kenapa?"
"Gak, cuma ingin tahu saja. Kalau boleh tahu, memangnya siapa yang sudah membuat luka itu, Nona?"
'Aneh, kenapa dia bertanya seperti itu? apakah dia detektif orang lain juga? detektif untuk mencari aku. Ah, gak gak, gak mungkin. Dia tanya kan, tadi dia yang sudah lihat luka yang ada di punggungku. Biasalah, mungkin dia penasaran aja.' Batin Landa yang masih bengong.
"Nona." Panggil sekretaris Ciko yang hendak menenggak air minum dalam botol air minuman.
"Eh, ya. Ini luka yang bikin cowok yang gak bertanggung jawab."
Saat itu juga, sekretaris Ciko tersedak saat menenggak minumannya, lantaran mendengar ucapan dari Bosnya itu.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Landa sambil mengibaskan air minum yang jatuh ke baju kemejanya.
"Enggak apa-apa." Jawab sekretaris Ciko sambil menutup botol minumannya.
"Tuh kan, baju kamu jadi basah. Kamu sih, gak hati-hati minumnya. Sini, biar aku bantuin lepasin baju kamu."
"Eih, jangan. Saya bisa melakukannya sendiri, Nona. Eh tapi ..."
"Tapi kenapa?" tanya Landa bingung.
"Sepertinya saya tidak membawa baju ganti, Nona. Sebentar, saya lihat di belakang. Soalnya waktu saya beli baju, tapi saya lupa ambil." Jawab sekretaris Ciko yang teringat saat membeli baju dan lupa membawanya pulang.
Landa segera memeriksanya, dan dilihatnya ada paper bag, langsung diambilnya.
"Ini ada bajunya, nih." Ucap Landa sambil memberikan paper bag kepada sekretaris Ciko.
"Terimakasih, Nona. Maaf, jika saya sudah merepotkan." Kata sekretaris Ciko sambil menerima, dan segera melepaskan baju kemejanya.
__ADS_1