
Sambil menyelesaikan pekerjaannya, Landa mulai sedikit ada perubahan. Meski harus menguras pikirannya, keluhan pada dirinya mulai berkurang.
Sesekali ia menoleh pada sekretarisnya yang terlihat sama sibuknya.
'Yang benar saja, lelaki itu akan menjadi suamiku. Papa ini ada-ada saja menjodohkan aku dengannya, lelaki yang tidak aku kenali, juga tidak aku sukai. Andai saja hubungan aku dengan Alex direstui, alangkah bahagianya aku bersuamikan dia. Sudah tampan, berkelas, serasi juga denganku, lantas kenapa tidak juga direstui. Tau tau disuruh nikah sama lelaki itu, dia tambah lagi menyebalkan.' Batinnya sambil memperhatikan sekretarisnya.
Saat itu juga, ternyata sekretarisnya mendongak dan pandangannya mengarah pada Bosnya.
"Ada apa, Nona?" tanya sekretaris Ciko membuyarkan lamunan Bosnya.
"Gak ada, lanjutkan saja kerjaan kamu." Sahut Landa kembali menatap ke layar komputernya.
Sekretaris mengangguk, dan melanjutkan pekerjaannya.
Cukup lama berkutat di depan layar komputernya masing-masing, tidak terasa jika sudah waktunya untuk makan siang.
Landa yang sudah lama menahan rindu kepada kekasihnya yang bernama Alex, alih-alih untuk melakukan panggilan video.
Saat hendak melakukan panggilan video, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan sebuah foto yang dijadikan foto profilnya di akun media sosialnya.
"Apa-apaan ini, bukankah dia ini perempuan yang berangkat bareng dengan Alex? kenapa mereka berdua foto bareng dengan pakaian pengantin? gak gak, ini pasti hanya prank untukku saja." Ucapnya tak peduli jika sekretarisnya dapat mendengar ucapannya.
Karena penasaran, Landa langsung menghubungi nomor kekasihnya dengan cara video call. Tentu saja untuk memastikan kebenarannya.
Sebelum menekan nomornya, Landa bangkit dari posisinya. Berharap, dirinya bisa melakukan panggilan dengan leluasa, pikirnya.
Saat sambungan telponnya terhubung dengan nomor kekasihnya, Alangkah terkejutnya saat yang menerima panggilan seorang perempuan dengan senyum yang merekah. Ditambah lagi keduanya terlihat dalam satu kamar, dan hanya balutan selimut.
Seketika, ponsel yang digunakan untuk melakukan video call bersama kekasihnya, jatuh begitu saja. Kedua tangannya masih gemetar. Tubuhnya yang awalnya mampu berdiri dengan tegak, kini kedua kakinya seolah tidak mampu untuk menyangga berat badannya.
Sekretaris Ciko yang melihatnya, langsung menjadi penyangga tubuh Bosnya yang hampir saja jatuh ke lantai.
"Nona, Nona, bangun." Panggil sekretaris Ciko sambil menepuk pipi milik Bosnya berulang-ulang.
Tetap saja, Landa sama sekali tidak memberi respon. Otak dan hatinya seolah sulit untuk disinkronkan.
"Nona, bangun." Ucap sekretaris Ciko kembali memanggil Bosnya.
Tidak ada respon dari Bosnya, sekretaris Ciko mengangkat tubuhnya untuk berpindah ke sofa. Kemudian, ia langsung mencari sesuatu yang dapat memberi respon Bosnya yang tengah jatuh pingsan.
"Bagaimana ini?"
__ADS_1
Dengan panik, sekretaris Ciko akhirnya menemukan satu botol kecil minyak angin yang bisa dijadikan alat bantu untuk menyadarkan Bosnya yang jatuh pingsan.
"Maafkan saya, Nona." Ucap sekretaris Ciko melumuri minyak angin ke bagian yang dapat menerima respon.
Setelah kedua kakinya, sekretaris Ciko berpindah ke bagian lehernya, juga pelipisnya. Kemudian, segera meminta tolong pada salah satu karyawan perempuan untuk membantunya.
"Ada apa, Pak sekretaris Ciko?"
"Tolong ya, Mbak. Oleskan minyak anginnya, saya mau ambilkan air hangat di kantin. Jangan diizinkan siapapun yang masuk tanpa seizin saya, mengerti."
"Ya, Pak Sekretaris." Jawabnya.
Sekretaris Ciko yang khawatir dengan kondisi Bosnya, segera berlari untuk mengambil air hangat.
Setelah mengambil, cepat-cepat untuk kembali ke ruang kerja.
"Sudah, Pak sekretaris." Ucapnya.
"Kamu boleh keluar, terimakasih sebelumnya. Ingat, jangan menjadi penyebar berita kalau tidak ingin karirmu berakhir." Jawab sekretaris Ciko yang tidak lupa untuk memberi sebuah ancaman.
"Baik, Pak sekretaris. Kalau begitu saya permisi." Ucapnya yang langsung berpamitan, sekretaris mengiyakan dengan kode anggukan.
Tidak lama kemudian, akhirnya sadar juga dari pingsannya, dan duduk sambil bersandar. Sedangkan sekretaris Ciko menyodorkan air minum yang hangat untuk Bosnya.
"Aku akan minum jika kamu yang mendahuluinya." Jawab Landa dengan kebiasaannya.
Sekretaris Ciko yang tidak mempunyai pilihan lainnya, akhirnya meminumnya. Kemudian, ia memberikannya kepada Bosnya.
Landa yang tidak merasa dihantui dengan kekhawatiran, langsung meminumnya hingga tandas.
"Terimakasih sudah menolongku." Ucap Landa dengan lesu, pikirannya kini kembali dengan apa yang sudah lihat dengan kedua matanya.
"Kalau boleh tahu, Nona ada masalah apa? apakah ada yang meneror Nona?" tanya sekretaris Ciko memberanikan diri untuk bertanya, karena tidak ingin terjadi sesuatu padanya.
"Kamu benar, Alex bukan lelaki yang baik." Jawab Landa dengan lesu dan terlihat tidak bersemangat, juga kelihatan tengah bersedih.
"Maksudnya?"
"Aku dibohongi, ternyata dia pergi ke luar negri untuk menikah. Perempuan yang tidak pernah aku sangkakan, ternyata sekarang sudah menjadi istrinya." Jawab Landa sambil menunduk dan menangis.
"Syukurlah jika Nona sudah mengetahuinya sendiri, sehingga saya tidak susah payah untuk menyampaikannya pada Nona." Ucap sekretaris Ciko yang tengah duduk di sebelah Bosnya.
__ADS_1
"Oh ya, sekarang sudah waktunya untuk istirahat. Nona mau pesan makanan apa? jangan sampai mengabaikan rasa lapar, tidak baik untuk perut kosong."
"Apa saja, yang terpenting bisa mengganjal perutku." Jawab Landa tanpa menoleh pada sekretaris Ciko.
Melihat Bosnya menangis, sekretaris Ciko mengambil tissue.
"Ini, dihapus dulu air mata Nona. Sayang sekali jika harus menangisi lelaki yang sudah menyakiti Nona." Ucap sekretaris Ciko sambil menyodorkan dua lembar tissue yang sudah ia lipat menjadi empat, dan memberikannya kepada Bosnya.
Landa mendongak, dan mengambil tissue yang ada ditangan sekretaris Ciko.
"Terimakasih, maafkan aku yang sudah merepotkan kamu." Kata Landa.
"Saya tidak pernah merasa direpotkan, karena semua ini sudah menjadi tugas saya untuk menjaga Nona." Jawab sekretaris Ciko.
Landa mencoba untuk mengatur napasnya, berharap semuanya akan baik-baik saja. Sedangkan sekretaris Ciko bergegas untuk memesan makan siang.
Setelah menghubungi pihak kantin, sekretaris Ciko membereskan meja kerjanya.
Tidak lama kemudian, suara bel pintu tengah mengagetkan.
"Saya mau buka pintunya dulu, Nona."'
" Silakan."
Ketika membuka pintunya, rupanya pesannya sudah datang.
"Permisi, ini pesanannya, Pak sekretaris."
"Terimakasih, silakan kembali melanjutkan pekerjaan kamu." Jawab sekretaris Ciko sambil menerima satu nampan besar berisi porsi makan siang.
Setelah menutup dan mengunci pintunya, sekretaris Ciko menghampiri Bosnya.
"Silakan, Nona." Ucapnya yang baru saja meletakkan nampan, dan mengambilkan satu porsi makan siang untuk Bosnya.
"Kamu duluan yang makan, setelah itu baru aku." Jawab Landa yang terus menerus dengan kebiasaannya.
Sebenarnya sekretaris Ciko merasa tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi, pikirnya. Lagi dan lagi, sekretaris Ciko terpaksa melakukannya.
Setelah itu, Landa meraihnya. Kemudian, dirinya baru berani makan.
"Kamu juga, jangan dilihatin terus makanannya." Ucap Landa yang kini tidak menunjukkan sikap juteknya itu dihadapan sekretarisnya.
__ADS_1
"Ya, Nona." Jawab sekretaris Ciko dibarengi dengan anggukan.
'Apa ya, sakit hati itu bisa membuat orang yang galak berubah menjadi kalem?' batinnya yang merasa aneh kepada Bosnya yang mendadak berubah.