
Tidak mempunyai pilihan lain selain pulang, Aina dengan perasaan dongkol harus pulang diantar oleh Doin, teman akrabnya Ciko sekaligus yang kini tengah menjadi orang kepercayaannya.
"Antar Aina pulang, jangan turuti kemanapun dia ingin pergi. Sampaikan kepada kedua orang tuanya dengan cara baik-baik, katakan yang sebenarnya." Ucap Ciko memberi perintah kepada Doin.
"Ok, Bro. Ya udah kalau gitu aku mau langsung mengantar Nona Aina untuk pulang ke rumahnya." Jawab Doin dengan anggukan.
"Janji ya Kak, lain waktu jangan usir aku lagi kalau main ke rumah Kak Ciko." Ucap Aina sebelum pulang.
Ciko mengangguk.
"Ya, tapi jangan sendirian. Jika sendirian, maka terpaksa harus Kakak usir." Jawab Ciko tak lupa memberi syarat kepada Aina.
"Ya, Kak. Dan kamu, jangan kepedean dulu, suami kamu masih memberiku kesempatan untuk datang ke rumah ini. Jadi, aku gak takut dengan ancaman darimu." Kata Aina dengan berani pada Landa.
__ADS_1
"Aina, pulang." Ucap Ciko untuk menyudahi perdebatan antara Aina dengan istrinya.
"Ya deh, Kak. Kalau gitu aku pamit pulang dulu, sampai bertemu dilain waktu lagi. Tapi ingat ya, jangan mengusirku lagi." Kata Aina, Ciko sendiri mengiyakan dan juga dengan kode anggukan kepala.
Setelah berpamitan pulang, kini tinggallah Landa dan suami yang hanya berada di dalam rumah yang ukurannya tidak begitu luas.
Landa yang melihat pecahan gelas masih berserakan di sebelah kaki meja, langsung berjongkok dan memungutinya.
"Ambil sapu aja, biar lebih mudah untuk membersihkan pecahan gelasnya." Ucap Ciko memberi saran kepada istrinya.
Kemudian, Ciko menatap wajah ayu istrinya dengan serius. Juga, dengan kedua tangannya yang memegangi kedua lengannya.
"Maafkan aku, gara-gara Aina, kamu harus menjadi sasarannya. Secepatnya aku akan memproses masalah pada Tuan Hardika, yakni untuk membahas kebenarannya." Ucap Ciko merasa bersalah, lantaran istrinya yang harus mendapat sasaran dari seseorang yang bernama Aina.
__ADS_1
"Terus, kapan pertemuannya? kamu sudah menghubungi Papa, 'kan?"
"Sudah, besok aku dan Papa mau ke rumah Bos Gane. Kalau kamu gak keberatan, kamu bisa ikut. Di sana ada adik iparmu, Nanney yang tengah hamil besar. Kamu gak kesepian, juga tidak sendirian di sana. Tapi terserah kamu, mau ikut apa enggaknya."
"Aku penasaran, tentu saja aku ikut denganmu." Jawab Landa.
"Ya udah, kamu ambil dulu sapunya. Setelah itu, bereskan pecahan gelasnya. Aku mau ke dapur dulu untuk melihat belanjaan yang tadi aku pesan."
"Yah lupa, belanjaannya belum aku ambil di depan rumah. Soalnya tadi pas mau ambil, gak tahunya sudah ada Aina yang tiba-tiba mengagetkan aku." Kata Landa yang teringat dengan belanjaan yang belum ia ambil di teras rumah.
Karena harus membereskan pecahan gelas di dekatnya, segera pergi ke belakang untuk mencari sapu. Setelah itu, Landa membereskannya sendirian. Sedangkan suaminya mengambil belanjaan yang sudah dipesan, dan membawanya ke dapur.
Ada beberapa ada jenis ikan, juga daging maupun yang lainnya serta jenis sayuran yang ia beli untuk dipilih dan dimasak untuk hidangkan di meja makan.
__ADS_1
Selesai membereskan lantai yang didapati banyak pecahan gelas, Landa pergi ke dapur untuk membantu suaminya memasak.