Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Tidak tahu malu


__ADS_3

Ciko yang merasa gerah dan juga risih karena kelamaan saat beristirahat bersama istrinya, memilih untuk membersihkan diri agar badan terasa segaran. Sedangkan Landa sendiri justru masih menahan kesal, lantaran harus menyuguhi minuman kepada perempuan yang sudah membuatnya cemburu.


"Nih, diminum." Ucap Landa dengan ketus saat meletakkan gelas di depan Aina yang tengah duduk dengan percaya dirinya bertamu di rumah Ciko.


"Gak segitunya juga kali, lagian siapa yang mau minum. Maaf, aku tidak sudi dibuatkan minum olehmu. Ups!"


Jawab Aina yang langsung menyenggol gelasnya hingga terguling di meja dan jatuh ke lantai, tentu saja mengeluarkan bunyi di lantai.


Saat itu juga, Landa menatapnya penuh dengan rasa dongkol, juga penuh geram atas perbuatan dari Aina yang begitu beraninya telah mengerjainya.


"Kau!"


"Apa, mau menampar aku? lakukan saja kalau kau berani. Tapi apa kamu gak sayang dengan nama baikmu yang akan tercoreng Gara-gara kebo_dohan kamu."


"Sekarang juga kau lebih baik pergi dari rumah suamiku, apa perlu aku panggilkan orang untuk menyeret kamu dari rumah ini." Usir Landa dibarengi dengan ancaman.


"Aku gak takut, karena Kak Ciko gak akan berani mengusirku."


"Dih! kepedean, bukannya tadi kau ini sudah diusir? gak ingat apa Lu."

__ADS_1


"Tapi kan, karena kamu yang udah marah duluan. Coba kalau kamu itu diam dan menerima kedatangan aku, gak mungkin juga Kak Ciko mau mengusirku. Mentang-mentang anaknya orang kaya, belagu dan sombong."


"Jaga tuh mulut kamu kalau mau bicara sama orang lain. Makanya punya mulut itu disekolahin, gak cuma dianggurin." Ucap Landa dengan penuh kesal.


Ciko yang sudah memberi perintah kepada Doin, rasanya sudah tidak sabar jika harus menunggu.


Landa yang merasa kesal dan juga dongkol, tidak peduli dengan lantainya yang ada pecahan gelas.


Ciko yang baru saja keluar dari kamar, dikagetkan dengan pecahan gelas di sebelah kaki meja.


"Kak Ciko, kalau mau cari istri itu yang benar dong. Lihat tuh, ada gelas pecah gak mau beresin. Eee palah nyuruh aku untuk beresin lantainya, istri macam apa dia Kak."


Saat itu juga, terdengar suara motor di depan rumah. Ciko maupun Landa dan Aina langsung menoleh ke arah pintu utama masuk ke rumah.


"Permisi, maaf jika terlambat dan membuat menunggu. Kalau boleh tahu, kamu menyuruhku kesini untuk apa ya, Bro?"


"Masuklah, ada perintah untuk kamu." Sahut Ciko sambil melambai tangannya.


Doin yang diminta untuk mendekati Ciko, langsung masuk ke rumah.

__ADS_1


"Suruh ngapain, Bro?"


"Tolong ya, antar Aina pulang sampai ke rumahnya."


Landa yang mendengar suaminya memberi perintah kepada Doin, hanya menahan tawanya.


"Apa, pulang?" tanya Aina yang langsung mengubah posisinya menjadi tegak.


"Ya, Aina. Maafkan Kakak jika terpaksa mengusir kamu, soalnya Kak Ciko gak ingin kamu dan istrinya Kakak terus berdebat. Jadi, Kakak minta sama kamu untuk pulang. Kamu bisa datang ke rumah Kakak asalkan kamu ada temannya, Ibumu atau ayah kamu." Jawab Ciko dengan tegas.


"Awas saja kamu ya, dasar istri gak guna kamu itu." Ucap Aina pada Landa.


"Aina, gak baik bicara seperti itu." Sahut Ciko yang tidak ingin amarah dari istrinya semakin memanas.


"Ya deh ya, besok lagi aku akan ajak kedua orang tuaku datang. Awas saja kamu, kalau sampai aku diusir lagi dari rumah Kak Ciko, aku akan menyatakan bersaing denganmu." Kata Aina dengan percaya dirinya.


"Silakan aja kalau kamu bisa. Ingat ya, jangan menyesal kalau usaha kamu akan sia-sia." Jawab Landa sambil memanasi Aina.


Ciko yang melihat istrinya seperti menantang Aina, langsung menarik lengannya agar tidak semakin membuat suasana memanas dan memancing emosi Aina.

__ADS_1


__ADS_2