Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Merasa khawatir


__ADS_3

Alangkah terkejutnya saat membaca lembaran kertas yang ada ditangannya. Saat itu juga, Tuan Herdi langsung mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan menantunya bersama putrinya.


Tidak lupa juga, Tuan Herdi segera menghubungi Gane yang juga dimintai bantuan untuk menyelamatkan anak dan menantunya.


"Pa! tunggu, mau pergi kemana?" teriak sang istri saat melihat suaminya putar balik yang terlihat tengah buru buru.


"Landa sama Ciko tengah dalam bahaya, sekarang juga Papa harus mencari keberadaan Ciko dengan Landa. Lebih baik Mama di rumah saja, biar Papa yang akan berangkat." Jawab Tuan Herdi yang melarang lebih dahulu sebelum sang istri mendesaknya untuk ikut mencari anak dan menantunya.


"Tapi, Pa."


"Mama di rumah saja, dan jangan ikutan pergi. Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Kata Tuan Herdi meyakinkan istrinya.


"Baiklah, Papa hati-hati dijalan." Jawab sang istri yang tentunya menyimpan rasa khawatir kepada anak dan suaminya, beserta menantunya.


Karena tidak ingin terjadi sesuatu kepada anak dan menantunya, Tuan Herdi segera bergegas pergi.


Sedangkan di tempat lain yang tidak lain dalam perjalanan, Ciko semakin menambah kecepatannya hingga membuat istrinya sport jantung.


Takut akan ada penyerangan dari Alex, susah payah si Ciko mengendalikan mobil yang ia kendarai.


Gane yang juga khawatir akan keselamatan Ciko yang tengah bersama Landa, tetap cemas dan juga takut terjadi sesuatu pada mereka berdua.


Tidak hanya pada anak buahnya saja untuk dimintai bantuan, tetapi juga melapor ke pihak yang berwajib.


Alex yang sudah lepas dari kendalinya, ingin segera mengejar laju kendaraan yang disetir oleh Ciko.

__ADS_1


Alex yang tengah dikuasai dengan ambisinya, tak peduli jika harus melukai banyak orang-orang termasuk orang yang tidak dikenalinya.


Tidak hanya seorang diri, rupanya Alex sudah memerintahkan beberapa banyak anak buahnya untuk mencelakai seseorang yang dimaksudkan.


Landa yang merasa takut, tubuhnya bercampur keringat dingin, susah payah untuk tetap tenang dalam situasi genting.


Ciko yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya mencari jalan pintas, yakni masuk ke jalur yang masih dipenuhi kebon dan sejenisnya.


Tidak ada satu rumah pun di sepanjang jalan tersebut, sepi dan benar-benar sangat sepi, terdengar suara jangkrik dan burung burung, juga hewan hewan yang lainnya.


"Kita ada dimana ini?" tanya Landa sambil celingukan di area sekitarnya.


"Di jalur hutan, lebih baik kamu tidak usah banyak bicara, tenangkan dulu pikiran kamu. Percaya denganku, semua akan baik-baik saja." Jawab Ciko masih fokus dengan setirnya.


Sedangkan Ciko sendiri masih fokus dengan setirnya, tentu saja untuk meninggalkan jejak.


Namun siapa sangka, jika Alex rupanya dapat mengetahui kemana arah perginya Ciko bersama istrinya.


"Bagaimana kalau kita turun saja, jalan satu-satunya lebih baik kita lari." Ucap Landa memberi saran kepada suaminya.


"Ya, Nanti."


DOR!


Suara hempasan peluru dapat ditangkap oleh indra pendengaran Ciko maupun Landa sendiri.

__ADS_1


"Apa itu? tidak, aku salah mendengarnya."


Saat itu juga, Ciko segera menghentikan mobilnya, dan segera turun.


Dengan terburu-buru, Ciki maupun istrinya segera melepaskan sabuk pengamannya. Kemudian, keduanya langsung turun dari mobil.


Naas, rupanya saat turun sudah ada Alex dengan senjata pis_tolnya yang ia pegang.


Seketika, Landa melotot melihatnya. Sedangkan Ciko sendiri langsung memegangi tangan istrinya agar tidak terlepas maupun terpisah.


"Rupanya kau begitu cepat melupakan aku, Landa."


"Kalau iya, kenapa? ha! karena kamu bukan laki-laki baik yang aku kenal, dan aku menyesalinya mengenalmu." Sahut Landa dengan jarak di antara keduanya hanya beberapa meter saja.


Alex maju satu langkah, sedangkan Ciko mengajaknya mundur dua langkah. Dengan senyum yang begitu sinis, membuat Landa semakin membencinya.


Belum juga dapat lari dari kejaran Alex, ternyata keduanya dikagetkan dengan suara tepukan tangan. Saat itu juga, Landa maupun Ciko segera menoleh ke sumber suara.


Begitu terkejutnya saat melihat dua orang yang tidak asing di ingatannya.


"Pak Bunan, Aina."


"Ya, kami satu misi, kaget?"


Landa dan Ciko saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2