Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Berterus terang.


__ADS_3

Ketika berada di dapur, Landa membantu suaminya untuk menyiapkan makan malam. Suasana cukup kening selain suara alat alat dapur yang dipergunakan untuk memasak.


"Sini biar aku aja yang masak, ini kan pekerjaannya perempuan." Ucap Landa membuka suara saat mengupas bawang putihnya.


Ciko yang mendengarnya, pun langsung menoleh.


"Gak apa-apa, laki-laki juga tidak dilarang untuk memasak. Kamu kan belum mandi, lebih baik mandi aja dulu. Soal masak, biar aku selesaikan. Kalau kamu sudah mandi, nanti boleh temani aku masak." Jawab Ciko dengan cekatan saat menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.


"Gak ah, biar sekalian kotor. Jugaan nanti kalau gerah aku bakal mandi lagi. Jadi, biarin aku ikut memasak bareng kamu." Kata Landa yang tetap ingin membantu suaminya memasak.


Ciko yang tidak mungkin untuk menolak, akhirnya mengiyakan kemauan istrinya membantunya memasak.


"Ternyata selain jago di bidang pekerjaan kantor, rupanya kamu jago masak juga ya. Oh ya, kalau boleh tahu, kok kamu gak nikah nikah dari dulu. Maaf, bukan sok ingin tahu, cuma ya memang ingin tahu sih."


Ciko kembali menoleh pada istrinya, saat itu juga si Landa ikutan menoleh pada suaminya.

__ADS_1


"Kan pernah aku katakan, belum menemukannya yang pas untuk aku jadikan istri." Jawab Ciko sambil memotong ikan.


Landa pun tersenyum mendengarnya, merasa jika jawaban suaminya hanya asal-asalan.


"Terus, kenapa kamu mau menikahi aku? apakah aku ini perempuan yang benar-benar pas untuk kamu?" tanya Landa dengan berani, dan tak peduli dengan rasa percaya dirinya itu soal tanya jawab yang terdengar begitu konyol pikirnya.


"Pertanyaan macam apa aku ini, kenapa juga aku mesti bertanya macam begituan segala, coba. Aih, mau ditaruh dimana muka aku ini, oh! no." Gumamnya mengrutuki diri sendiri.


Ciko menggeser posisinya, tentu saja lebih dekat lagi jarak antara dirinya dengan sang istri.


Ciko mengambil pi_sau yang ada di tangan istrinya, dan meletakkannya.


"Entah lah, aku sendiri gak tahu, kenapa aku bisa merasa kamulah perempuan yang aku pilih. Awalnya aku sedikit ragu dengan keputusan untuk menerima perjodohan dari ayahmu, tapi aku pikirkan lagi untuk memantapkan pilihanku. Tidak hanya itu saja, aku pun meminta pendapat dengan adikku. Karena aku merasa merasa nyaman aja walaupun kamu acuh tak acuh terhadapku, tapi itu membuatku yakin untuk memilih kamu untuk menjadi istriku." Ucap Ciko lebih dekat lagi jarak diantara keduanya.


Landa yang tidak pernah mendengar pengakuan dari laki-laki dengan suara yang lembut, juga tatapannya yang teduh.

__ADS_1


Detak jantung yang awalnya normal normal saja, kini berubah tidak karuan dengan detak jantungnya yang mulai berdegup kencang laksana orang yang tengah kasmaran.


Landa yang tersipu malu atas pengakuan dari suaminya, menundukkan kepalanya karena malu.


Ciko yang sama halnya seperti orang yang tengah kasmaran, langsung mengangkat dagu milik istrinya hingga keduanya saling beradu pandangan satu sama lain.


"Kenapa kamu menunduk?" tanya Ciko dengan senyumnya yang tipis, tentu saja semakin membuat Landa kalang kabut dengan kondisi detak jantungnya.


"Aku malu aja, soalnya aku pernah menghina kamu, juga bicara yang kurang baik. Itu, soal aku yang menolak perjodohan. Maafkan aku ya, udah bicara yang enggak enggak sama kamu. Juga, aku gak tahu kalau kamu orangnya baik, dan tidak seperti yang aku kira. Mungkin bisa dikatakan, aku perempuan yang sangat beruntung mempunyai suami seperti kamu." Jawab Landa sambil menatap wajah suaminya dengan perasaan malu, juga merasa bersalah saat ucapannya penuh cacian, juga hinaan.


Ciko yang mendengar ucapan penyesalan dari istrinya, langsung memeluknya. Landa sama sekali tidak menolaknya, justru merasa nyaman saat mendapat pelukan dari suaminya.


Seumur umur mengenal laki-laki, baru dengan Ciko lah mendapatkan perlakuan yang begitu lembut. Meski sudah ia hina dan diberi cacian, tidak ada dendam atau benci kepada dirinya.


'Untung saja aku tidak jadi menolak, jika aku kabur dan memilih Aina, mungkin akan menjadi sebuah penyesalan yang dalam buatku.' Batin Landa saat berada dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2