
Setelah dirasa cukup aman, Landa langsung melepaskan tangannya.
"Maaf, tadi aku harus berbohong." Ucap Landa setelah melepaskan tangannya.
"Kenapa mesti berbohong, Nona? kalau nanti mengikuti kita, bagaimana?"
"Gak apa-apa, bukankah sebentar lagi kita akan menikah. Aku rasa si Niko akan percaya dengan omonganku." Jawab Landa yang bercampur aduk rasanya.
"Terserah Nona saja, saya tidak bertanggung jawab. Memangnya Nona sudah yakin mau menikah dengan saya? pikirkan baik-baik, jangan gegabah untuk menentukan keputusan. Saya tidak mau akan ada penyesalan setelah menikah, lebih baik pikirkan mulai dari sekarang. Waktunya tinggal beberapa hari lagi, masih ada waktu untuk berpikir." Ucap sekretaris Ciko sambil menatap Bosnya dengan serius.
'Entahlah, aku merasa nyaman aja dengannya. Apa mungkin karena rasa sakit hatiku dengan Alex, hingga aku ingin mencari pelampiasan.' Batin Landa yang justru tengah melamun.
"Nona," panggil sekretaris Ciko sambil melambaikan tangannya tepat didepan wajah Bosnya.
"Eh ya, maaf. Nanti aku akan pikir lagi, sekarang ini aku ingin menghilangkan rasa penat di kepalaku. Apakah kamu bersedia memberiku solusi yang tepat? maksud aku untuk melupakan lelaki yang sudah menyakiti aku."
"Saya tidak bisa menjamin. Kalau Nona bersedia, mari ikut saya." Jawab sekretaris Ciko mencoba memberi ajakan kepada Bosnya, Landa mengangguk.
Tidak ada rasa malu sama sekali, bahkan tidak peduli jika di cap perempuan ganjen sekalipun.
"Maaf, Nona. Apa ini tidak terlalu berlebihan? kita belum menikah, dan Nona adalah atasan saya." Ucap sekretaris Ciko merasa risih karena tidak ada hubungan apapun yang spesial dengan Bosnya, lantaran si Bos perempuannya yang tengah menggandeng tangannya layaknya sepasang kekasih, maupun sepasang suami-istri.
"Biarin, biar kalau ketemu orang yang aku kenal, tau kalau aku sudah menikah. Jadi, ucapan yang tadi aku lontarkan pada Niko itu memang benar seperti yang dilihat, bukan rekayasa." Jawab Landa yang masih menggandeng tangan sekretarisnya.
"Kak Ciko!" teriak sosok perempuan cantik yang tengah berlarian saat melihat Ciko berjalan di tepian pantai.
Landa yang terkejut, menggenggam tangan sekretarisnya lebih erat lagi.
__ADS_1
"Lepaskan!" Bentak sosok perempuan tersebut dengan tatapan sinis terhadap Landa.
Karena terkejut, Landa tak kuasa untuk mempertahankan genggamannya. Tangannya yang awalnya erat saat menggenggam, langsung terlepas begitu saja.
Saat itu juga, langsung memeluk tubuh sekretaris Ciko.
"Aina, apa-apaan kamu." Ucap sekretaris Ciko yang langsung melepaskan pelukan dari Aina.
"Aku kangen sama Kakak, kok jadi galak gini sih. Terus, perempuan ini siapa? pacarnya Kak Ciko?"
Landa yang berada di sebelahnya, langsung memutar balikkan badan dan meninggalkan sekretarisnya.
Dengan sigap, sekretaris Ciko langsung menyambar tangan Bosnya sedikit menarik. Kemudian, merangkulnya layaknya istri sendiri.
"Namanya Landa, istrinya Kak Ciko." Ucap sekretaris Ciko yang langsung memperkenalkan Bosnya yang dianggap istrinya sendiri.
Aina sangat terkejut mendengarnya, sungguh seperti tak percaya.
"Istrinya Kak Ciko? kapan Kakak menikah?"
Landa yang mendengar pertanyaan dari Aina, penasaran dengan jawaban apa yang akan diucapkan oleh sekretarisnya itu.
"Satu minggu yang lalu, pernikahan kami hanya sederhana. Maafkan Kakak kalau tidak memberi kabar undangan sama kamu dan juga keluarga kamu." Jawab sekretaris Ciko meyakinkan.
"Kakak jahat!" Tuduh Aina dengan emosi, kekecewaan yang harus dia dapati.
Aina langsung pergi dan berlari yang cukup kencang, sekretaris Ciko begitu khawatir.
__ADS_1
"Nona, saya harus mengejar Aina. Anak itu kadang keras kepala, kamu tunggu saja disini." Ucap sekretaris Ciko meminta izin untuk mengejar Aina, perempuan yang dikenalinya.
"Aku tetap ikut, aku akan ikut mengejar perempuan itu." Jawab Landa yang tetap bersikukuh untuk ikut.
Satu sisi, sekretaris Ciko juga takut terjadi sesuatu pada Bosnya. Akhirnya memilih mengejar dengan jalan cepat.
Sedangkan Aina, kini sudah berada ditepian pantai yang terdapat gundukan batu.
"Aina! turun, Nak. Kamu kenapa? ceritakan sama Mama dan Papa, Aina! ayo turun." Teriak seorang lelaki dan perempuan yang tidak lagi muda.
"Aku benci kamu Kak Ciko!" teriak Aina frustrasi.
Sekretaris Ciko dan Bosnya kini tengah mengejar dan mencari keberadaan Aina, perempuan yang sudah dianggapnya adik, dan sudah lama tidak pernah bertemu beberapa tahun yang lalu.
"Aina!" teriak sekretaris Ciko dengan lantang.
Landa yang melihat sekretaris Ciko yang begitu khawatir, merasa cemburu.
'Apakah perempuan tadi itu pacarnya? tapi, kenapa sekretaris Ciko tidak mempunyai respon apapun, yang aku lihat hanya khawatir saja. Tapi, sepertinya perempuan itu menyukainya.' Batin Landa mencoba untuk menebaknya sendiri.
"Aina! maafkan Kakak." Teriak sekretaris Ciko memanggilnya, dan merasa bersalah.
"Perempuan tadi apakah mantan pacar kamu? maksudnya aku, masih pacar kamu?" tanya Landa karena penasaran.
Sekretaris Ciko langsung menoleh.
"Bukan, saya tidak mempunyai hubungan apapun dengannya. Saya hanya menganggap Aina itu adikku, tidak lebih."
__ADS_1
"Oh, kirain. Maaf, aku sudah salah sangka." Kata Landa sambil berjalan, sekretaris Ciko mengimbangi langkah kakinya sambil celingukan mencari keberadaan Aina yang ia tahu sangatlah ceroboh.