Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Membuat penasaran


__ADS_3

Rasa penasaran yang begitu menggebu, membuat sekretaris Ciko menyimpan rasa penasaran yang begitu kuat.


Dengan sangat hati-hati ia membuka kotak kecil tersebut untuk melihat isinya.


"Kalung." Ucapnya yahh cukup jelas untuk didengar oleh Tuan Herdi.


Tuan Herdi yang pernah melihat isinya saat mendapatkan amanah dari orang tuanya, kini mendekati calon menantunya yang tengah memegangi benda kecil itu.


"Itu kalung liontin, siapa yang lahir dulu diminta untuk memilih yang bukan kuncinya. Sedangkan untuk pemilik kunci, yakni setelah lahir, entah itu yang perempuan atau yang laki-laki." Ucap Tuan Herdi menjelaskan, saat itu juga, ingatan sekretaris Ciko kembali memutar masa lalunya, yang mana jika dirinya mendapatkan kalung yang sama persis.


Suhu tubuh yang awalnya baik-baik saja, kini berasa panas dingin.


"Jadi, kalung itu ..." gumamnya lirih, tetap saja Tuan Herdi dapat mendengarnya.


"Kamu kenapa sekretaris Ciko? kenapa kamu menyebutkan kalung itu, maksud kamu apa?"


Sekretaris Ciko menjatuhkan tubuhnya ke lantai, tubuhnya ikut gemetar. Entah apa yang harus ia jelaskan, dunianya seakan selebar daun kelor.


"Jelaskan kepada saya, kamu kenapa sekretaris Ciko?" tanya Tuan Herdi yang juga ikutan berjongkok.


"Enggak apa-apa, Tuan. Saya hanya terbawa suasana dengan masa kecil saya, tidak lebih." Jawabnya beralasan, lantaran ia takut jika ketahuan jika dirinya yang telah mencelakai perempuan yang akan dinikahinya.


"Kamu serius gak apa-apa?"


"Ya, Tuan. Saya beneran tidak apa-apa, saya hanya teringat dengan kalung milik adik saya yang menjadi bukti satu-satunya bahwa adik saya masih hidup." Jawab sekretaris Ciko kembali beralasan.


'Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar belum sanggup untuk mengatakannya langsung kepada Tuan, jika yang sudah menabrak Nona Landa adalah saya. Meski saya tahu jika Tuan adalah orang baik, tetap saja saya harus berhati-hati.' Batin sekretaris Ciko yang dipenuhi kekhawatiran jika dirinya akan dituding telah mencelakai putrinya Tuan Herdi.


"Hei, masih saja melamun. Gimana menurut kamu, sudah percaya dengan bukti-bukti yang saya berikan sama kamu, 'kan?"


"Ya, Tuan, terimakasih banyak sudah menjaga amanah dari keluarga saya." Jawab sekretaris Ciko berusaha untuk tetap bersikap tenang.


"Rupanya jodoh itu tidak akan kemana. Sejauh kalian berdua berpisah, tetap akan dipersatukan kembali. Saya doakan, semoga kamu dan Landa benar-benar berjodoh. Dua hari lagi kalian berdua akan menikah, persiapkan diri kamu dengan baik. Semua karyawan di kantor akan diumumkan besok, dan kamu tetap berangkat kerja."


"Ya, Tuan. Semoga saja, saya dan Nona Landa tidak akan ada penyesalan setelah menikah, termasuk Tuan dan istri Tuan sendiri.Jawab" Jawab sekretaris Ciko.


"Saya hanya bisa mendoakan untuk pernikahan kamu dengan putri saya, semoga semuanya akan berjalan dengan lancar dan tidak ada suatu halangan apapun sampai acaranya selesai. Oh ya, sekarang sudah larut malam, bagaimana kalau kamu menginap?"


"Semoga saja, Tuan. Sebelumnya saya meminta maaf, saya harus pulang ke rumah." Jawab sekretaris Ciko.


"Baiklah, saya tidak akan memaksa. Hati-hati dalam perjalanan."


"Ya, Tuan. Kalau begitu saya permisi, selamat malam." Jawab sekretaris Ciko sekaligus berpamitan.


Setelah sampai di rumah, sekretaris Ciko segera melakukan ritual sebelum tidur.


"Baru pulang Lu, Bro? betah banget kamu kencannya."

__ADS_1


"Resek Lu, siapa juga yang kencan. Yang ada tuh, kepalaku tambah pening."


"Kenapa? bingung pilih ya?"


"Bukan, hal lainnya. Oh ya, Bro. Di kulkas ada makanannya gak ya, lapar akunya."


"Salah sendiri gak pulang-pulang, calon istrimu tuh, ngambek gak kira-kira."


"Calon istriku ngambek? si Nona Landa kah?"


"Ya iya lah, memangnya sapa lagi, si Embek, gitu. Anaknya Bos Lu sendiri."


"Oh, ngambek kenapa?"


"Masih tanya lagi, cemburu sama cewek yang gangguan itu, si siapa itu, A-Aina, ya Aina."


"Sok jadi peramal Lu, tau kalau Nona Landa ngambeknya karena cemburu. Yang ada tuh, alasan aja dia. Soalnya dia itu baru mendapat kabar, kalau kekasihnya yang bernama Alex rupanya sudah menikah. Nah, dianya patah hati. Dah lah, ngapain kamu ngurusin masalah orang. Sudah ah, aku mau masak mie, kalau ada."


"Sekalian, aku juga lapar."


"Maunya, masak sendiri sono."


"Aih, kamu ini. Sama saudara laki-laki itu harus baik, jangan sampai enggak."


"Ya ya ya." Jawab sekretaris Ciko sambil menuju ke dapur.


"Wah, aku harus mengusir Doin nih. Masa ya, aku dan Nona Landa harus satu rumah dengan tu anak. Tidak boleh terjadi, apa jadinya Nanti." Gumamnya sambil merebus Mie instan.


Setelah matang, sekretaris Ciko menyiapkannya di meja makan.


"Bro! udah matang nih mienya." Teriak sekretaris Ciko cukup kencang saat memanggil namanya.


Dengan cepat kilat, rupanya si Doin sudah datang.


"Tinggal makan aja, cepat banget datengnya. Saat di suruh, kek siput."


"Enggak juga, buktinya tadi aku datang dengan cepat saat kamu memberi perintah untuk menjemput calon istrimu."


"Hem. Itupun kamu sudah aku perintahkan sejak belum berangkat ke pantai, kau ini kadang kadang." Kata sekretaris Ciko.


"Ya ya ya, aku makan dulu, laper juga akunya."


"Eh tunggu,"


"Apa lagi sih, Bro. Baru juga mau makan mie, dah di tahan aja."


"Dua hari lagi aku akan menikah, dan aku meminta sama kamu untuk pergi dari rumah ini. Ngontrak dulu kek, apa kek, serah kamu. Pokoknya kamu out dari rumah ini, ok."

__ADS_1


Doin langsung melotot.


"Out dari rumah ini? gile kau ini, tega nian kau mau usir saya. Enggak enggak, mertua Lu kan, kaya dan sangat tajir, melintir lagi. Apa susahnya kamu bilang gak punya rumah."


"Kau ini, mengalah dikit kenapa, Bro."


"Terus, aku tinggal dimana? uang aku pas-pasan kalau buat ngontrak."


"Lu kan gajinya gede dari adik ipar Gue, masa gak bisa ngontrak."


"Adik ipar Lu emang kaya, kayanya sampai melintir, sampai-sampai bikin pinggang Gue encok dan pegel linu."


"Kenapa emangnya? perasaan adik ipar aku baik banget, gak mungkin kalau bayarnya sampai telat."


"Gajiku ditahan, gara-gara ketahuan boros suka bergadang dan habis dah uangku."


"Bagus itu, berarti adik iparku sangat peduli sama kamu."


"Ya sih, tapi nanti aku tinggal dimana, Bro?"


"Tenang aja, nanti aku sewakan rumahnya. Tapi ya tetap, bagi dua."


"Bagi dua? kau ini, pelit kebangetan."


"Ya dong, biar tambah kaya akunya."


"Elu mah. Sudah ah, aku mau makan, bisa bengkak mienya." Kata Doin, dan keduanya segera menikmati mienya.


Rasa lapar yang sudah tidak lagi dirasakan, selesai juga makan mienya. Kemudian, keduanya ssgera beristirahat hingga tidur pulas hingga pagi hari.


.


.


.


Saat sudah terbangun dari tidurnya, sekretaris Ciko segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Sampainya di kantor, semua karyawan dibuat heboh, termasuk Rafaza yang pernah melakukan kerja sama.


Semua dikejutkan dengan berita putri semata wayangnya milik Tuan Herdi yang akan menikah, dan banyak lelaki yang patah hati, termasuk Rafaza.


Rasa penasaran yang sangat ingin tahu lelaki yang akan menikahi Saylanda, semua mencari berita atas sosok laki-laki yang kini menjadi calon suaminya Saylanda.


Sedangkan di tempat lain, tengah duduk dua orang yang tengah berhadapan langsung antara si Bos dengan orang kepercayaannya.


"Bo_doh sekali kau ini, ha! dimana otak licikmu itu. Membu_nuh satu orang saja kau tak mampu." Bentak seseorang yang begitu murka saat harus menerima kabar yang tidak mengenakkan.

__ADS_1


"Maaf, Bos. Lelaki itu cukup ketat dalam penjagaan, saya sendiri sulit untuk memb_unuhnya." Jawabnya sambil ketakutan.


__ADS_2