Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Takut hatinya akan terluka


__ADS_3

Setelah ayahnya Aina pergi, sekretaris Ciko segera mengganti pakaiannya. Sedangkan Landa menunggunya di luar ruangan ganti.


Sambil menunggu, ponselnya pun berdering. Cepat-cepat segera mengambilnya, dan melihat siapa yang tengah menelpon dirinya.


"Papa," gumamnya saat melihat kontak nomor ponsel milik ayahnya.


"Ada apa, Pa?" tanya Landa tanpa harus menyapa ayahnya.


Sambil memegangi ponselnya, Landa mendengar orang tuanya bicara dengan seksama.


"Ya, Pa, nanti Landa kasih tahu sama sekretaris Ciko untuk pulang. Tapi masalahnya, itu orang lagi mementingkan perempuan lain." Ucap Landa dengan suara dongkol.


Saat itu juga, sekretaris Ciko langsung menyambar ponselnya. Tidak peduli jika harus mendapat omelan ataupun dipecat sekalipun, sekretaris Ciko sama sekali tidak peduli.


"Maaf, Tuan, saya sedang ada kendala yang belum bisa saja jelaskan. Sebentar lagi saya dan Nona Landa akan segera pulang secepatnya. Sekali lagi saya meminta maaf." Ucap sekretaris Ciko, dan Tuan Herdi segera mengakhiri panggilan telponnya.


"Saya minta sama Nona untuk bicara dengan fakta. Jangan mencari topik untuk membuat alasan lain dari kenyataan." Ucap sekretaris Ciko begitu serius.


"Kenyataannya memang begitu, 'kan? kok mencari topik lain untuk dijadikan alasan." Jawab Landa dengan muka yang dibuat cemberut.


"Saya harus menemui Aina sebentar, setelah itu kita akan langsung pulang." Ucap sekretaris Ciko yang langsung berputar arah untuk menemui Aina yang tengah melakukan pemeriksaan atas kondisinya.


"Kenapa gak nikahin aja itu perempuan." Gerutunya berdecak kesal sambil mengejar langkah kaki sekretarisnya.


Saat sudah menemukan keberadaan dimana Aina tengah dilakukan pemeriksaan, sekretaris Ciko segera menghampiri kedua orang tuanya.


"Bagaimana keadaan Aina, Pak, Bu?" tanya sekretaris Ciko ikut duduk di tengah-tengah kedua orang tua Aina.


"Masih diperiksa, Nak Ciko. Doakan Aina ya, semoga tidak kambuh lagi sakitnya." Jawab ibunya dengan lesu.


"Semoga Aina kuat, dan juga bisa sembuh dari sakitnya. Maafkan atas kelalaian saya yang sudah membuat Aina seperti ini, Bu."


"Memangnya apa terjadi di pantai tadi, Nak Ciko? soalnya tiba-tiba Aina manjat bebatuan yang sangat tinggi dan berteriak memanggil namamu."


"Tadi tidak disengaja saya bertemu dengan Aina, dan sempat kesal saat istri saya ini tengah menggandeng tangan saya. Juga, saya tidak mungkin untuk menyakiti hati istri saya. Jadi, saya mengaku bahwa perempuan yang tadi bersama saya itu, adalah istri saya. Saat itu juga, Aina shock." Jawab sekretaris Ciko yang akhirnya harus membohongi atas statusnya itu.


"Jadi, kamu sudah menikah?" tanya ibunya Aina yang begitu terkejut mendengarnya.


"Ya, Bu, saya meminta maaf jika saya tidak memberi kabar kepada Ibu, Bapak, juga Aina. Karena pernikahan kami itu dadakan, tidak sempat untuk mengundang orang-orang dekat saya." Jawab sekretaris Ciko, sedangkan Landa baru saja datang.

__ADS_1


Ibunya Aina langsung mengarahkan pandangannya ke arah Landa yang baru saja datang.


"Oh, dia istri kamu?"


"Ya, Bu, dia istri saya, namanya Saylanda." Jawab sekretaris Ciko memperkenalkannya pada ibunya Aina, kemudian ia berdiri didekat Bosnya yang diakui istrinya.


"Sangat cantik, juga serasi sama kamu." Ucap ibunya Aina memuji.


Mau bagaimanapun, tidak ada paksaan ataupun membencinya, karena jodoh itu mempunyai takdir masing-masing.


"Bagaimana keadaannya A-Aina, Bu?" tanya Landa sambil mengingat nama tersebut dari sekretarisnya saat memanggil namanya.


"Sedang dilakukan pemeriksaan, Nak. Sini, ikut duduk disebelah Ibu."


"Terima kasih, Bu."


Saat itu juga, seorang dokter telah keluar dari ruangan pemeriksaan.


Kedua orang tua Aina langsung bangkit dari posisinya dan menghadap pada Dokter yang baru saja memeriksa kondisi putrinya.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya ibunya Aina dengan khawatir.


"Ya, Dok, bagaimana keadaan putri saya?" tanya ayahnya Aina menimpali.


"Saya, Dok. Maaf, ada apa ya, Dok?"


"Pasien meminta anda untuk menemuinya seorang."


Landa yang mendengarnya, timbul rasa cemburu dan merasa berat untuk merelakan sekretarisnya menemui Aina.


Sekretaris Ciko menoleh ke arah Bosnya yang terlihat menahan kesal.


"Nak Ciko, Ibu mohon, temui Aina ya?" pinta ibunya Aina penuh harap, takut akan terjadi hal buruk yang dialami putrinya.


"Ya, Nak Ciko, Bapak mohon. Dan untuk Nak Landa, Bapak Mohon izinkan suami kamu untuk bertemu dengan putri Bapak."


Napas Landa yang mulai terasa panas, ingin rasanya menghilang dalam sekejap. Mau melarang, dirinya sama sekali bukan siapa-siapanya. Di satu sisi, sekretaris Ciko akan menjadi suaminya.


Entah karena merasa dikecewakan oleh kekasihnya yang bernama Alex, hingga merasa nyaman dengan sekretarisnya sendiri.

__ADS_1


"Ya, silakan jika suami saya bersedia." Jawab Landa dengan suara yang terasa berat untuk memberi keputusan.


"Serius, Nona gak akan marah?" bisik sekretaris Ciko didekat telinga Bosnya.


"Terserah kamu," jawab Landa dengan suara yang lirih.


"Kalau gitu, bagaimana kalau saya ditemani Ibu. Mau bagaimanapun, saya mempunyai istri. Tentu saja saya tidak mungkin untuk membuatnya marah, setidaknya ada Ibu." Ucap sekretaris Ciko.


"Baiklah, Ibu akan menemani kamu untuk bertemu dengan Aina." Jawab ibunya Aina yang akhirnya menuruti keinginannya sekretaris Ciko.


Setelah Landa mengizinkan, sekretaris Ciko dan ibunya Aina masuk ke dalam. Sedangkan Landa sendiri tengah menunggunya dengan perasaan campur aduk.


Saat sudah masuk ke dalam ruangan, dilihatnya Aina tengah duduk bersandar dengan kedua kakinya yang diluruskan.


"Kak Ciko," panggil Aina pada sekretaris Ciko yang tengah berjalan mendekat.


"Kamu ini sangat bandel, kalau gak ada Kakak, bagaimana? kamu jangan mengulangi hal yang seperti tadi, sangat berbahaya dan bisa menghilangkan nyawa kamu." Kata sekretaris Ciko mengingatkan.


"Karena aku yakin, Kak Ciko pasti akan menolongku. Buktinya Kakak langsung menolongku, ya 'kan?"


"Lain kali kamu jangan mengulanginya lagi, sayangi nyawa kamu. Lebih baik kamu selalu positif thinking, jangan suka menyiksa diri sendiri." Kata sekretaris Ciko yang terus memberi nasehat kepada Aina.


"Ya deh, ya. Besok lagi aku gak akan mengulangi lagi, tapi ada syaratnya."


"Memangnya apa syaratnya?" tanya sekretaris Ciko.


"Nikahi Aina."


Ciko langsung kaget mendengar permintaan dari perempuan yang ada dihadapannya itu.


"Aina, Kakak sudah menikah. Tidak mungkin harus menyakiti istrinya sendiri, berdosa besar. Aina masih mempunyai masa depan panjang, masih banyak laki-laki yang mau menerima kamu, dan Aina tinggal pilih."


"Enggak! Aina maunya sama Kak Ciko, bukan laki-laki lain. Semua laki-laki di luaran sana semuanya pembohong, tidak ada yang baik, kecuali Papa dan Kak Ciko."


Sekretaris Ciko yang mendengarnya, pun menghela napasnya panjang.


"Aina, tenangkan diri kamu. Kakak ngerti perasaan kamu yang pernah di tinggal pacar kamu, tapi Kakak juga gak mungkin untuk meninggalkan istri Kaka." Ucap sekretaris Ciko mencoba untuk berbicara pelan-pelan.


"Jadi wanita simpanannya Kak Ciko juga mau, asal Kak Ciko mau bertanggung jawab." Kata Aina yang tidak mau goyah.

__ADS_1


Landa yang saat itu tengah menguping dengan celah pintu yang tidak begitu renggang, mencoba untuk mendengar pembicaraan antara sekretarisnya dengan Aina.


Landa tidak bisa membayangkan jika sekretarisnya itu telah sah menjadi suaminya, dan ternyata menduakan dirinya, benar-benar tidak bisa membayangkan akan hal itu.


__ADS_2