Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Sangat terkejut


__ADS_3

"Sini, biar aku aja yang nganter." Kata Landa saat dirinya takut si Wela dapat bisikan dari sekretarisnya itu untuk mengawasinya.


Wela mengernyit.


"Kamu itu aneh, Lan. Nih, kamu kasihkan sendiri sama supir kamu." Ucap Wela sambil menyodorkan air mineral kepada Landa.


Landa tersenyum sambil menerima air mineral dari Wela, dan segera memberikannya kepada sekretaris Ciko. Wela yang penasaran, mengikutinya dari belakang.


Landa yang tidak ingin sosok Ciko diketahui oleh Wela, cepat-cepat memberikannya kepada sekretarisnya.


"Buka," pinta Landa sambil mengetuk kaca mobil.


Sekretaris Ciko yang dikagetkan oleh Bosnya, langsung membukakan pintu mobilnya.


"Silakan masuk, Nona. Tumben, cepat." Ucap Ciko saat melihat Bosnya itu menatap dirinya.


"Aku belum mau masuk, ini air minumnya untuk kamu, biar gak kehausan." Jawab Landa sambil menyodorkan air minumnya.


"Oh, kirain sudah mau pulang." Ucap sekretaris Ciko sambil menerima air mineral dari Bosnya.


Tanpa disadari, dibelakangnya ada Wela yang sangat penasaran. Takutnya, tebakannya itu benar, jika Landa mempunyai pacar lain selain Alex, pikirnya.


"Oh, sama pacar kamu. Bilang kek dari tadi, sampai-sampai kamu harus nyembunyiin dariku. Payah kamu, punya gebetan baru gak mau ngaku, tampan juga pacarmu, Lan." Ucap Wela yang tiba-tiba mengagetkan keduanya.


Landa langsung menoleh kebelakang.


"Dia bukan pacarku,"


"Terus, siapa?"


"Saya supirnya, Nona." Sahut sekretaris Ciko yang langsung menyambar.


"Wah, boleh dong kenalan. Namaku Wela, aku teman akrabnya Landa. Boleh gak, kalau aku minta nomor kamu." Ucap Wela dengan genit.


"Eeeits! nggak nggak nggak, dilarang keras mengganggu supirku. Supirku harus fokus untuk kerja, bukan melayani panggilan telpon." Kata Landa mencegah.


"Lah kan, dia bukan pacar kamu. Masa ya, aku gak boleh kenal sama dia." Ucap Wela sambil mendorong sedikit ke samping, agar dapat melihat dengan jelas sosok sekretaris Ciko.


Alangkah terkejutnya saat dapat melihat ketampanan dari seorang sekretaris Ciko yang tidak jauh beda dengan lelaki mapan dan tajir, benar-benar terlihat sempurna.

__ADS_1


"Ini mah bukan supir, Lan. Tapi, dia ini seorang direktur yang sangat perfect. Oh, kenapa kamu jahat sekali padaku, melarangku untuk kenal dengan supir kamu ini. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?"


Ucap Wela yang terkagum saat melihat sosok sekretaris Ciko dengan sangat jelas dengan kedua matanya. Kemudian, dengan percaya dirinya, Wela menanyakan soal nama.


"Nama saya Ciko, Nona."


"Wah! namanya aja udah cakep, apalagi orangnya. Lan, buat aku aja." Ucap Wela yang seperti terpanah oleh pandangan pertama.


Landa yang awalnya ingin mengobrol banyak dengan Wela, akhirnya diurungkan, lantaran si Wela sedari tadi terus menerus seperti orang yang sedang kasmaran.


"Sudah sudah, aku pulang aja. Mendingan kamu yang main ke rumah aku, ok." Jawab Landa yang akhirnya memilih pamit untuk pulang, dari pada harus berurusan dengan Wela, pikirnya.


"Yah, payah kamu. Ok lah, besok aku main ke rumah kamu." Kata Wela bersemangat, tak lepas main kedip mata dengan sekretaris Ciko.


Landa yang tidak ingin si Wela terus-terusan mengganggu sekretarisnya itu, langsung menutup pintunya.


"Cepat jalankan mobilnya, buruan."


"Ya, Nona." Jawab sekretaris Ciko yang langsung menyalakan mesin mobilnya, dan menancapkan gas.


Dalam perjalanan, Landa terlihat gelisah. Tentu saja, dirinya takut jika ketahuan jika sekretarisnya itu yang tidak lain lelaki yang akan menjadi suaminya.


Samping itu, Landa yang melihat sekretarisnya tengah meminum air mineral, tenggorokannya ikut ingin minum.


Tanpa pikir panjang, Landa langsung menyambar satu botol air mineral di tangan sekretaris Ciko. Kemudian, Landa meminumnya.


"Nona, itu bekas saya. Tadi saya tidak menenggak saat minum." Ucap Ciko yang tidak enak hati, lantaran bekas dirinya minum.


"Gak apa-apa, justru ini yang lebih bagus. Kalau kamu berani meminumnya, tandanya minumannya aman." Kata Landa sambil menatap lurus ke depan.


"Terserah Nona saja, saya hanya merasa tidak enak hati saja. Soalnya saya merasa kurang ajar telah memberi sesuatu yang sudah menjadi bekas saya. Oh ya, kenapa Nona tidak jadi main ke rumah teman Nona."


"Males, nanti yang ada maunya dekat sama kamu. Bukannya mengobrol denganku, justru aku dicuekin dia yang terus menggoda kamu."


"Oh, kirain apa." Ucap sekretaris Ciko sambil melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang sedang.


Cukup lama dalam perjalanan pulang, rupanya sudah sampai di depan rumah. Landa merasa lega, lantaran tidak harus menguras energi dan pikiran, pikir Landa yang teringat kepada Wela yang begitu semangat saat bertemu dengan sekretarisnya.


"Tunggu, Nona. Ini, kunci mobilnya. Saya mau kang pulang saja, soalnya Tuan Herdi tidak ada di rumah."

__ADS_1


"Kok kamu tahu."


"Tadi Tuan Herdi mengirimkan pesan kepada saya, bahwa ayahnya Nona sedang berada di rumahnya Tuan Gane."


"Oh, kirain pergi kemana."


"Kalau begitu saya permisi, Nona." Ucap sekretaris Ciko berpamitan saat sudah mengembalikan kunci mobil kepada Bosnya.


Landa yang benar-benar ingin beristirahat, segera bergegas masuk ke dalam rumah. Sedangkan sekretaris Ciko, cepat-cepat untuk pulang ke rumahnya.


Di lain sisi, Tuan Herdi tengah mengobrol sesuatu pada adik iparnya sekretaris Ciko.


"Maaf, Tuan, jika saya sudah menunggu lama." Ucap Gane sambil membawa sesuatu ditangannya, seperti foto masa kecilnya bersama keluarganya sekretaris Ciko.


"Gak apa-apa, Tuan Gane. Saya tidak buru-buru, saya akan bersabar." Jawab Tuan Herdi.


"Ini, semua foto kenangan ada disini. Silakan Tuan Herdi melihatnya sendiri." Ucap Gane sambil menyodorkan beberapa album dimasa lalunya.


Karena rasa penasaran dengan sosok Ciko yang ia dengar dari Gane soal kisah masa lalunya, Tuan Herdi merasa tertarik untuk mengupas tuntas soal sekretaris putrinya itu.


"Maaf, saya ingin melihatnya dulu."


"Silakan, Tuan." Ucap Gane dengan anggukan.


Dengan seksama melihat foto yang sudah lama, satu persatu, Tuan Herdi melihat ada yang mengingatkan kembali memorinya dimasa lalu.


Tuan Herdi langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna saat melihatnya.


"Wicaksono Diningrat."


Tuan Herdi maupun Gane langsung mendongak, sama-sama menatap satu sama lain saat Tuan Herdi menyebutkan nama orang tuanya sekretaris Ciko.


"Tunggu tunggu, Tuan Herdi kenal?"


Tuan Herdi yang mendapat pertanyaan dari Gane, masih diam. Otaknya sedang kesulitan untuk berpikir, seolah harus mengingat kembali memory yang sudah lama hilang.


"Tuan, Tuan Herdi tidak apa-apa, 'kan?"


Tiba-tiba napasnya Tuan Herdi terasa sesak, sampai lupa dengan sebuah amanah dimasa lalunya. Sungguh, bagai mendapatkan hantaman batu keras.

__ADS_1


"Tuan, minum dulu, supaya pikiran Tuan Herdi kembali tenang." Ucap Gane memberi saran kepada Tuan Herdi yang terlihat tengah memikirkan sesuatu yang begitu sulit untuk dijelaskan.


__ADS_2