Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 18


__ADS_3

..."Kopi pertamaku terlalu pahit dan membuat lambungku perih. Hingga bertahun-tahun aku memutuskan untuk tidak meminum kopi lagi....


...Waktu pun berlalu dan aku kembali di suguhkan dengan kopi yang sedikit lebih manis....


...Lambungku mulai sehat tapi ternyata dadaku yang di buat sesak....


...Tapi ini bukan tentang kopi"...


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang ini Kezia mondar-mandir terus di kamarnya berpikir apakah harus Ia memberitahu Richard tentang apa yang akan Ia lakukan hari ini atau tidak mengingat pesan William padanya tadi agar Ia memberitahu segala plan kegiatannya pada Richard.


"Perlu tidak ya?" gumam Kezia berpikir keras.


"Apa nggak usah aja kali ya? Orang si bapak rese itu juga tidak akan tahu" ujarnya lagi sambil tertawa kecil.


Akhirnya Kezia memutuskan untuk tidak mengabari Richard tentang apa saja kegiatannya hari ini. Siang ini Kezia berencana menjenguk asisten yang sedari dulu selalu menemaninya ketika berada di negeri Paman Sam.


"Non, mau kemana?" tanya Dania yang baru hendak mengetok pintu sang majikan namun orangnya sudah langsung membuka pintu kamar bahkan penampilannya sudah sangat rapi seperti hendak mau keluar.


Kezia malah cengir sembari membenarkan anak rambutnya, "Kezia mau keluar sebentar mbak, ada perlu."


"Sudah di beritahu pak Richard belum Non?."


Sungguh pertanyaan yang di berikan Dania membuat wajah Kezia langsung cemberut masam.


“Apa perlu harus di beritahu padanya, lagian Kezia keluarnya mau ke rumah sakit menjenguk Om Damian” terang Kezia.


Dania hanya bisa menggeleng pelan akan tindakan Kezia, Dania bisa menangkap dari gelagat Kezia kalau dia tidak menyukai Richard. Entah karena hal apa Kezia sangat tidak menyukai Richard. Apa karena insiden kemarin yang mana dia dan Damian di tangkap?.


“Non, sebaiknya di beritahu saja dari pada Tuan tahu Nona keluar tanpa pengawasan dan penjagaan dari Pak Richard” ujar Dania bijak memberi saran pada Kezia.


Dan sudah barang tentu Kezia semakin mengerucutkan bibirnya mendengar penuturan Dania barusan.


“Terserah deh Mbak” jawab Kezia kesal.


“Mau ya Non. Biar Mbak saja yang menghubungi Pak Richard kalua Non memang malas memberitahu Pak Richard.”

__ADS_1


“Hem.” Kezia menjawab hanya dengan deheman. Ia bahkan langsung turun ke ruang tengah tanpa menunggu Dania lagi dan mendaratkan pantatnya dengan kasar di sofa. Ia langsung melipat tangan di dada dan jangan lupakan bibirnya yang sudah mengerucut ke depan layaknya mulut bebek.


Sementara Dania hanya bisa menghela nafas, masih untung Kezia menuruti perkataannya walaupun dengan mimik wajah yang tidak bersahabat. Bukan apa-apa sebenarnya dia sedikit memaksa Kezia harus memberitahu kegiatannya pada Richard. Karena William sang majikan telah berpesan kepada mereka semua para pelayan dan lebih lagi di tekankan untuknya karena Dania merupakan pelayan pribadi dari Kezia untuk mengingatkan Kezia jikalau keluar harus bersama dengan Richard.


Tanpa menunda waktu lagi Dania langsung mengambil ponselnya di saku celananya dan mengirim pesan pada Richard.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Jadi kau mau kemana?” Tanya Richard pada Kezia ketika mereka berdua sudah di dalam mobil. Kezia sendiri memilih membuang muka dan memandangi pemandangan di luar kaca.


“Kezia, apa kau tuli?” Tanya Richard lagi dengan sedikit membentak. Sungguh Richard bukan orang yang lembut untuk menghadapi sikap seperti Kezia.


“Ribet banget sih pak. Kezia mau ke rumah sakit yang Om Damian di rawat, antar ke sana. Dan jangan banyak tanya lagi” jawab Kezia sedikit ketus.


Richard langsung menjalankan mobil setelah Kezia memberitahu tujuannya mau kemana. Selama perjalanan keduanya tidak terlibat pembicaraan sama sekali. Entahlah kenapa dua orang ini sangat irit berbicara walaupun untuk sekedar basa-basi mungkin Richard dan Kezia berpikir tidak perlu bicara basa basi yang pastinya sudah basi. Mereka lebih memilih hanyut dalam pikiran masing-masing sehingga suasana hening saja yang menghiasi perjalanan Kezia dan Richard.


“Turunlah!” ucap Richard pada Kezia setelah mereka sampai di parkiran rumah sakit.


Kezia sejenak melirik Richard, “ruangannya dimana?” cicitnya.


Richard menarik senyum tipis di wajahnya yang bahkan nyaris tak terlihat.


Kezia malah melongo melihat sikap Richard barusan, “Itu orang ngerti bahasa manusia tidak sih, yang di tanya ini yang di jawab ono. Kegeser otaknya apa gimana?” gerutu Kezia dengan sikap Richard yang benar-benar datar.


Namun begitu, Kezia tetap turun dari mobil dan mengikuti langkah Richard yang sudah mendahului walau dengan perasaan dongkol dan juga mimik wajah yang cemberut.


“Sudah sampai. Masuklah” ucap Richard pada Kezia ketika mereka sudah sampai di ruangan rawat inap VVIP.


Mendengar itu, Kezia langsung melongok masuk tanpa menjawab ucapan Richard barusan.


Klek..


Kezia bisa melihat Damian sedang terlelap di ranjangnya tapi orangnya tidak tidur, Damian sedang sibuk dengan gawai di tangannya.


“Om Damian” sapa Kezia mendekati Damian.


“Kezia kau datang ke sini sendirian?” tanya Damian cemas pada Kezia karena yang masuk di ruangannya hanya Kezia.


Kezia melirik ke belakang untuk melihat Richard yang masih setia berdiri di depan pintu.

__ADS_1


“Aku tidak sendirian kok Om, tadi bareng orang itu” tunjuk Kezia pada Richard yang baru masuk ke dalam ruangan Damian.


Damian langsung lega melihat ada orang yang mendampingi Kezia di rumah sakit.


“Om, bagaimana kabarnya? Sudah mulai pulih?” tanya Kezia langsung.


Sejujurnya Kezia sangat mencemaskan keadaan dari Damian, kalau saja dia tidak memaksa Damian untuk pergi ke tempat galeri kemarin. Mungkin saja keadaan Damian tidak akan seperti ini.


“Sudah lebih baik dari kemarin Kez, kau tidak perlu khawatir” balas Damian menenangkan Kezia karena Damian sangat tahu bagaimana watak Kezia. Ia akan menyalahkan dirinya dari insiden tersebut dan hal itu memang benar adanya karena itulah yang di rasakan kezia sekarang.


Damian melirik Richard yang hanya diam dan berdiri di belakang Kezia dalam posisi beberapa meter, Damian melempar senyum pada Richard sementara Richard jangan di tanya bagaimana responnya sudah pasti ekspresinya tetap datar bahkan untuk sekedar membalas senyuman dari Damian saja tidak.


Melihat itu Damian langsung tersenyum kecut, Ia memang mengetahui bagaimana watak Richard yang begitu datar nan dingin terhadap orang banyak.


Damian melihat Kezia lagi dan hendak menanyakan sesuatu. “Jadi bagaimana, malam ini adalah ulang tahun dari Tuan William. Apa Kezia mau merayakannya malam ini?.”


Kezia malah menghela nafas seraya menggeleng pelan.


“Entahlah Om. Kezia tidak tahu” ucapnya pelan dengan nada lesu.


“Why?” tanya Damian menaikkan sebelah alisnya.


Kezia malah melirik sejenak Richard di belakang.


“Bapak yang di belakang tidak bisa di ajak kerja sama Om. Beda kayak Om” ucapnya berbisik.


“Apa Zia?.”


...----------------...


Next💗😘?


.


.


Masih rada demam dan sedikit rindu. Kata dokter ga boleh jatuh cinta dulu🙂🏃🏃


Selamat hari Jumat yeorobun...

__ADS_1


yang lakik jangan lupa sholat Jumat ya🤣😁


__ADS_2