Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 42


__ADS_3

...“Mungkin, waktu punya caranya sendiri. Mungkin dipisahkan dulu untuk dipertemukan lagi ketika sudah sama-sama dewasa. Atau mungkin, dipisahkan dulu untuk mengerti, bahwa kembali hanya akan mengartikan tersakiti lagi.”...


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kita harus belajar melepas Kezia. Karena terkadang ketika kita merawat sesuatu yang sudah rusak, justru itu hanya akan merusak kita” ujar Zain sang asisten papanya yang Kezia tidak tahu kapan pria tersebut berada di belakang kursi yang sedang ia duduki.


Kezia sedikit kaget kehadiran Zain di belakangnya. Ucapan dari Zain juga membuatnya kaget, bahkan Zain memanggilnya tanpa embel-embel nona lagi.


“Om Zain...” sapa Kezia sopan.


“Kenapa kau duduk di sini? Angin malam tidak baik untukmu Kezia”


Kezia yang mendengar itu hanya tersenyum kikuk. Ia tidak terlalu dekat dengan sang asisten papa.


“Hanya sebentar Om, sebentar lagi mau masuk ke kamar” jawab Kezia.


Zain yang mendengar penuturan Kezia itu hanya mengangguk saja.


“Papa dimana Om? Apa sudah pulang?” tanya Kezia basa-basi. Sebenarnya kalau di pikir-pikir sang papa pasti sudah pulang saat ini mengingat sang asistennya saja ada di sini.


“Tuan sedang ada di ruang kerjanya, Nona” jawab Zain.


Kezia hanya ber-oh saja mendengar penuturan dari Zain.


“Tadi panggil Kezia saja, sekarang panggil nona lagi” batinnya.


“Nona..” panggil Zain.


“Ya, Om. Kenapa?” tanyanya.


“Boleh kita bicara sebentar?” tanya Zain sopan.

__ADS_1


Kezia tentu saja mengiyakannya, tidak menolak.


“Ada apa Om?” tanya Kezia ketika melihat Zain sang asisten papanya duduk di kursi sebelah dirinya.


“Ehem..”


Sebelum memulai pembicaraan, Zain berdehem terlebih dahulu.


“Maafkan kalau saya lancang Nona. Saya hanya ingin memastikan apakah benar lusa kemarin Tuan Richard menemui Nona dan menyatakan perasaannya pada Nona di rumah sakit?” tanya Zain langsung.


Kezia yang mendengar itu langsung berkedip beberapa kali. Dirinya sedikit bingung bagaimana bisa Zain mengetahui hal itu. Apa Zain membuntuti mereka kemarin atau Richard yang mengatakannya?. Ia berusaha berpikir keras namun tidak mendapatkan jawaban


Mengerti jika sang majikan sedang berpikir keras, Zain lalu membuka suara lagi.


“Dua hari yang lalu saya melihat James, musuh dari tuan William menemui Tuan Richard.”


“James? Musuh Papa?” tanya Kezia menyerngitkan keningnya.


Zain hanya mengangguk saja. Ia kemudian melanjutkan ucapannya.


“Apa?” kaget Kezia. Ia baru tahu dalang dari kejadian yang menimpanya kemarin setelah dia sampai di Indonesia adalah ulah dari pria tersebut.


“Lalu, tujuannya apa Om? Dan mengapa bisa dia mengenal apa lagi bertemu dengan kak Richard?.”


“Saya sedang menyelidikinya Nona. Kemungkinan besar Richard memiliki hubungan dengan James” jelas Zain.


“Saya harap Nona bisa membatasi perasaan anda kepada Tuan Richard. Karena kita tidak tahu pasti ada motif dia mengajak Nona berpacaran. Dan untuk masalah Nona berpacaran dengan Tuan Richard, saya belum memberi tahunya pada Tuan William.”


Kezia langsung mengepalkan tangannya mendengar penuturan dari Zain. Setelah mengatakan itu, Zain langsung berdiri dan pamit pergi.


“Saya pamit pergi, Nona. Jaga diri anda baik-baik. Saya takut kalau Richard adalah seorang mata-mata yang di utus untuk mencari tahu kelemahan dari tuan William” ucapnya dengan raut serius.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Ucapan Zain tentang Richard langsung merasuki pikiran dari Kezia. Ia bingung harus bagaimana. Ia tahu betul Zain adalah orang yang sangat serius dan benar-benar bisa di pegang ucapannya. Apa benar dugaan Zain kalau sang kekasih adalah seoarang mata-mata. Sungguh hal itu membuat kepalanya terasa mau pecah.


Tidak ada pilihan lain selain menanyakan hal ini pada Damian. Ia langsung meminta Damian menemuinya ke taman belakang.


“Ada apa Kezia?” tanya Damian yang baru sampai.


“Om ... Ada yang ingin Kezia tanyakan?” tutur Kezia sembari celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.


“Tentang apa?”


“Tentang kak Richard, Om” ucapnya dengan nada pelan.


Ia kemudian mengajak Damian untuk duduk.


Tak butuh waktu lama, Kezia langsung menceritakan apa yang di sampaikan Zain beberapa saat lalu padanya.


“Apa benar Kak Richard mata-mata, Om?”


“Hal itu masih kami selidiki, Kezia. Dan masalah ini belum kami kasitahu pada tuan William” jelas Damian yang memang tahu apa yang di bicarakan Kezia.


“Kenapa?”


“Karena tuan William sangat percaya pada Richard” jelas Damian.


Mendengar itu Kezia langsung menyerngitkan keningnya.


“Maksudnya?”


“Ya. Ceritanya sangat panjang, Kezia. Kami takut ketika kami memberitahukan hal ini pada Tuan, itu akan menyakiti Tuan William” jelas Damian.


“Lalu bagaimana?” tanya Kezia lagi. Yakinlah, besar harapannya sekarang bahwa Richard bukanlah seoarang mata-mata sebagaimana Zain dan Damian menebaknya.


“Bantu kami, Nona”

__ADS_1


...----------------...


Next💗😘?


__ADS_2