
...“Perihal cinta dalam diam lebih menjadi pilihan. Ketika perasaan ini menjadi rahasia antara saya dengan Tuhan, juga tidak ada campur tangan untuk tuan....
...Perasaan ini sering kali saya sampaikan lewat tulisan.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dorrr…
Satu tembakan yang di lepaskan pria bertopi hitam dan sialnya itu mengenai bahu Kezia. Membuat Kezia yang berlari ke arah Richard langsung menghentikan langkahnya.
Suara tembakan yang begitu nyaring di telinganya dan perlahan Ia mulai merasakan rasa sakit yang nyata di bagian punggungnya.
Mata Richard membulat kala kejadian itu terjadi di depan matanya, tanpa pikir panjang Richard langsung melepaskan satu tembakan pada pria bertopi hitam, tepat pada kaki pria bertopi hitam membuatnya menjerit kesakitan.
Para personil yang lain pun langsung membekuk dua terroris barusan dengan cepat mengingat sudah ada korban. Dua terroris tadi sudah tidak bisa melakukan perlawanan, hendak melakukan bom bunnuh diri juga sudah tidak bisa karena bomnya sudah di amankan oleh pihak polisi.
“Zia…!!” pekik Richard langsung menangkap tubuh Kezia yang hampir jatuh ke tanah jikalau Richard tidak menahannya.
Suara keributan dan kegaduhan kembali terjadi kala ada satu korban yang tertembak oleh terroris.
“Zi..!!!” teriak Ameera menangis histeris melihat sahabatnya tertembak dan sekarang sudah terkulai lepas dalam dekapan Richard.
Hendak menghampiri namun dia di tahan oleh dua personil polisi. “What the f*ck, lepasin gue. Gue mau samperin teman gue” bentak Ameera pada dua personil polisi yang menahan pergelangan tangannya.
“Nanti saja di rumah sakit. Jangan mendekat dulu, kita tidak tahu kalau ada kejadian buruk yang menyusul”
“Zia!!… Zia sadarlah!!” ucap Richard menepuk pelan pipi Kezia yang sudah mulai pucat bahkan matanya perlahan ia tutup.
“Kak sakit..” lirihnya begitu pelan dan setelah itu Ia tidak sadarkan diri.
“Shittt…” umpat Richard kala melihat darah di punggung Kezia begitu banyak kala Ia meletakkan tangannya di punggung Kezia.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Richard langsung membopong Kezia membawanya ke rumah sakit.
“Bang, di sini” teriak Ameera dari dalam mobil. Ya, ketika Ameera tidak di izinkan untuk mendekati Kezia, Ia memilih mengambil mobilnya di basement parkir supaya bisa membawa Kezia ke rumah sakit terdekat.
Richard yang mendengar itu langsung bergegas masuk ke dalam mobil Ameera. Sebelum meninggalkan TKP (Tempat Kejadian Perkara), Richard memberi perintah pada kelompoknya untuk menuntaskan sisa dari keributan yang terjadi dan langsung di angguki mantap oleh kelompoknya.
“Cepat jalankan mobilnya!! Kau tahu rumah sakit yang dekat di sini kan?” Tanya Richard.
“Tau, tenang saja tadi udah gue cek” jawab Ameera langsung melajukan mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah suara sepatu seorang pria yang nampak begitu tegap dengan langkah cepat di ikuti beberapa pria di belakangnya mendekati Richard yang sedang duduk di kursi tunggu depan pintu operasi Kezia di temani Ameera yang terus menangis menyalahkan dirinya.
“Richard” panggil William pada Richard yang sedang fokus pada gawai di tangannya. Suara William tetap tenang namun percayalah wajahnya tidak bisa berbohong, rasa khawatir dan cemas tentang anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
“Tuan William” jawab Richard langsung berdiri dari posisi duduknya.
“Operasinya masih belum selesai Tuan.”
William langsung menghela nafas lelah, Ia benar-benar mencemaskan keadaan Kezia sekarang.
“Duduk dulu Tuan” ajak Richard pada William yang terlihat kelelahan bercampur rasa khawatir di wajahnya. Bagaimana tidak lelah, William yang sedang meeting harus meninggalkan rapat tersebut,belum lagi perjalanan dari Jakarta ke Bekasi.
Ya, tadi setelah mereka bertiga sampai di rumah sakit, Kezia langsung di tangani oleh dokter untuk di lakukan operasi untuk mengambil peluru di punggungnya. Ameera yang mengurus administrasi dan Richard menghubungi keluarga Kezia di Jakarta, William.
Sekilas William melirik Ameera yang tengah menunduk takut menatapnya. Ameera memilin bajunya untuk mengindari tatapan Papa Kezia. Tatapannya begitu tajam dengan raut wajah yang datar tanpa ekspresi.
Lama mereka nunggu sekitar setengah jam dokter masih belum ada tanda-tanda keluar dari ruang operasi.
“Tuan, aku izin ke luar sebentar” ujar Richard yang berencana ingin ke kantin rumah sakit untuk membeli minuman, sementara William beserta asistennya hanya mengangguk saja.
“Apa kau mau ikut?” tawar Richard pada Ameera yang sedari tadi hanya diam dan terus menunduk.
__ADS_1
“I-iya. Aku mau ikut” jawab Ameera langsung berdiri.
Richard hanya mengangguk saja. Bukan tanpa alasan Ia mengajak Ameera untuk keluar, selain agar gadis tersebut tidak terlalu tertekan di samping William. Ya, dari pengamatan Richard, Ia melihat bahwa Ameera sepertinya sedikit takut dan juga tidak nyaman berada di samping William mungkin Ameera takut jikalau Ia di salahkan oleh William atau karena hal apa. Selain itu juga, ada hal yang ingin di tanyakan Richard pada sahabat Kezia ini, bagaimana bisa Kezia dan juga dia berada di daerah Bekasi, lebih tepatnya di tempat mereka sedang mengusut kasus.
Ameera langsung mengekor di belakang Richard.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kau sahabat Kezia, bukan?” Tanya Richard pada Ameera yang baru selesai meneguk minuman mineral untuk menetralisir rasa haus di tenggorokannya.
Ameera hanya mengangguk pelan.
“Bagaimana bisa kalian berada di mall tadi?” Tanya Richard lagi seraya menatap Ameera dengan tatapan tajam dan menyelidik.
“Shitt…” batin Ameera mengumpat, rupanya Richard menanyakan pertanyaan keramat yang begitu ia takuti. Sekilas Ia mengerjap pelan, apa Ia jujur saja atau bagaimana.
“I-itu karena..” jawab Ameera takut-takut, hendak mengatakan tapi tidak jadi, Ia kembali mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menunduk.
“Karena apa?”
“Karena Kezia ingin menemuimu, tapi…”
...----------------...
Next💗😘?
.
.
Duduknya tenang, pikirannya perang 😌🙃
selamat malam yeorobun🗣️🗣️
__ADS_1