Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 53


__ADS_3

...“Berdamailah dengan kegagalan menjadi langkah yang penting diupayakan. Sebab, stuck disebuah kesalahan masa lalu akan membuat siapa pun tidak maju-maju.”...


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kak, Tuhan memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan pada kita untuk mengajarkan kita tentang hikmah di dalamnya.”


Kezia kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Richard. Richard yang mendengar penuturan Kezia barusan hanya tertawa hambar.


“Haha.. Memangnya kau tahu apa kegagalan dan kehilangan itu Zia?” tanya Richard dengan nada melemah. Tidak ada nada kemarahan dan membentak. Yang ada hanya nada yang melemah dan terdengar sendu.


Mengerti apa yang di katakan Richard, Kezia hanya mengulas senyum seraya mengangguk perlahan.


“Ya, aku tahu, kak Richard punya luka tersendiri yang mungkin saja luka itu masih belum sembuh dan mengering. Setiap orang memiliki pengalaman terpahitnya sendiri, dan aku pun sama halnya dengan kak Richard. Orang punya luka masing-masing yang tidak bisa ia utarakan dan ia ceritakan pada orang banyak. Namun bukan berarti dengan adanya luka itu, kita tidak melangkah keluar dari lingkaran kesedihan itu” ucap Kezia pelan. Keduanya kembali menatap satu sama lain namun kemudian tatapan itu terputus kala Richard mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Maaf tindakan ku sebelumnya yang begitu pengecut. Memanfaatkan perasaanmu. Namun itu aku lakukan hanya karena keterpaksaan belaka. Bukan berarti aku benar-benar menyakitimu. Aku tidak menyakitimu Zia tapi aku malah melindungi mu dari orang yang ingin menyakitimu” ucap Richard pada akhirnya.


Dan memang apa yang dikatakan Richard itu benar adanya, ia mengutarakan perasaannya pada Kezia bukan berarti memanfaatkan perasaan gadis tersebut kemudian menghancurkannya.


Hal itu ia lakukan semata-mata melindungi Kezia dari tangan saudaranya, James. Karena James memang benar-benar berniat melenyapkan keturunan Ludwig untuk membalaskan dendamnya.


Walaupun tanpa di sengajai oleh Richard ia juga melukai perasaan Kezia, karena gadis tersebut telah berharap dan percaya penuh tentang perasaan yang diutarakan Richard kepadanya.


Mendengar penuturan dari Richard, Kezia lantas terdiam seraya berpikir apa yang di katakan Richard itu benar atau tidak. Dan Kezia akui memang selama ini tidak ada gangguan yang menyakiti atau pun melukainya.


“Baiklah kak, tidak masalah aku pun sudah melupakan akan hal itu. Tenang saja. Dan perihal tujuan kak Richard melakukan itu entah tujuan itu untuk benar-benar melindungiku atau tidak. Tapi, aku akan tetap berterima kasih. Terima kasih kak Richard” ucap Kezia dengan tulus.


Kezia sungguh tidak ingin memperpanjang dan mempermasalahkan apa yang terjadi sebelumnya antara dia dan juga Richard. Kezia benar-benar sudah berdamai dengan keadaan yang ada. Karena ia berpikir, tidak semua harus sesuai dengan keinginannya, terlebih ini menyangkut tentang perasaan, itu semua di luar kendalinya.


Richard yang tadi menundukkan pandangannya, tidak berani menatap manik mata dari Kezia ketika gadis berambut sebahu tersebut berbicara demikian, ia lalu menatap Kezia dengan tatapan entah.


“Zia…” panggil Richard.


“Ya, ada apa, kak? Kalau hanya itu yang perlu di bicarakan ku rasa tadi sudah selesai. Dan kalau sudah tidak ada lagi aku harus pulang. Aku tidak ingin orang di mansion khawatir mencari keadaanku” ucap Kezia lagi.

__ADS_1


Richard akhirnya mengangguk dan mengizinkan Kezia pergi walau sebenarnya hatinya sangat mengganjal ingin mengutarakan sesuatu namun sayang sepertinya ia tidak seberani itu untuk mengutarakan apa yang ada didalam hatinya.


“Aku pamit.”


Richard hanya mampu menatap nanar punggung Kezia yang sudah semakin jauh dipandangan matanya, ia hanya mampu menghela nafasnya panjang.


“Dia baik, tapi kami adalah dua orang yang gagal memahami satu sama lain” lirih Richard sembari terus menatap Kezia dari jarak jauh.


Sementara itu, di lain sisi rupanya ada seseorang yang mengawasi mereka dari jarak jauh.


“Nona Kezia baru saja kembali ke mansion tuan. Sementara Richard sepertinya masih didalam cafe” ucap Zain sang asisten dari William.


Mendengar penuturan dari Zain, William hanya mengangguk saja pertanda mengerti.


“Dasar anak muda” ucap William seraya menggeleng pelan.


Setelah itu, William langsung memberikan perintah untuk mengikuti Kezia dari belakang takut anak gadisnya itu kenapa-kenapa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Ameera sudah berada di mansion sang sahabat, Kezia. Ya, hari ini mereka akan mulai belajar ilmu bela diri.


Kezia yang baru keluar dari kamar mandi langsung menoleh pada sang sahabat yang sepertinya sedang lesu.


“Ra, kamu kenapa. Tumben kamu nggak seceria biasanya?” tanya Kezia seraya berjalan di arah meja riasnya.


Namun Ameera tidak menjawab, ia malah fokus pada gawainya yang kembali bergetar. Ameera hanya menatap gawainya yang bergetar tanpa berniat menjawab panggilan.


Kezia lantas melihat Ameera yang sepertinya terdiam dan melamun.


“Ra, hapemu berdering kok nggak diangkat” ujar Kezia sembari berjalan ke arah Ameera.


“Udahlah, biarin aja. Untuk apa aku angkat. Toh ujung-ujungnya aku selalu tidak dianggap bukan oleh mereka” ucapnya dengan nada kesal. Ameera bahkan membuang sembarang handphonenya diatas ranjang milik Kezia.


Ameera kemudian berlalu menuju kamar mandi yang ada didalam kamar Kezia. Kezia sendiri hanya menatap bingung dengan sikap yang ditujukkan Ameera saat ini.

__ADS_1


Hingga beberapa saat Kezia terdiam, ponsel Ameera kembali berdering. Penasaran dengan siapa yang menghubungi sang sahabat di ponsel. Kezia memberanikan diri untuk melihat siapa yang menghubungi dan rupanya itu adalah mami Ameera sesuai dengan nama yang ada dikontak handphone Ameera.


“Ra, mami kamu nelpon tuh, diangkat apa enggak?” tanya Kezia sedikit berteriak supaya Ameera yang berada di kamar mandi bisa mendengar suaranya.


“Nggak usah, Zi. Nggak penting juga kalau di angkat” jawab Ameera dari dalam kamar mandi.


Mendengar itu, Kezia hanya menggeleng pelan. Kezia memang tahu bahwa hubungan Ameera dengan kedua orang tuanya sangat tidak baik. Dan lagi, ponsel Ameera kembali bergetar menandakan bahwa ada notifikasi pesan masuk di ponsel Ameera.


Kezia kembali melihat siapa yang mengirim pesan tersebut, dan rupanya itu mami Ameera.


Kezia memberanikan diri membuka ponsel sang sahabat untuk melihat pesan apa yang dikirim oleh mami Ameera. Rupanya Ameera disuruh datang ke Bandung dikarenakan papi dan maminya sudah ada di Bandung.


Tak lama Ameera keluar dari kamar mandi.


“Ponselmu Ra, maaf tadi membuka pesan dari mami kamu tanpa bilang ke kamu dulu” ucap Kezia tidak enak seraya menyerahkan ponsel Ameera.


Ameera langsung mengambil ponselnya dan meletakkan di dalam tas selempangnya.


“No, problem Zi. Santai aja” ucap Ameera tidak keberatan sama sekali.


“Ra?” panggil Kezia dengan nada pelan.


“Hum, apa Zi” jawab Ameera sembari membenarkan rambutnya lewat kaca di meja rias sang sahabat.


“Kamu nggak ke Bandung menemui papi mami kamu?.”


Seketika Ameera yang sedang sibuk membenarkan tatanan rambutnya langsung berhenti dan menoleh kearah Kezia.


“Nggak, Zi. Aku nggak mau pulang ke rumah yang seperti neraka bagiku” tutur Ameera dengan tatapan kecewa.


Kezia mengerti mengapa sang sahabat mengatakan demikian.


“Ayo, Zi keluar. Om Damian pasti sudah menunggu kita diluar” ucap Ameera langsung mengambil tas selempangnya diranjang Kezia.


“Ra tunggu dulu. kamu tahu bukan terlalu banyak yang meributkan bahwa rumah belum tentu berarti pulang. Tak sedikitpun juga yang mengaduh kalau pergi jangan lupa pulang. Sepertinya banyak manusia lupa, ada orang yang ingat kalau dirinya harus pulang meskipun neraka itu rumah. Dia tetap pulang, meski disana penuh teriakan bahkan mungkin saja dia tidak dianggap ada disana. Dia tetap pulang, meski rumah itu sudah hancur lebur oleh amarah. Dia tetap pulang tidak peduli berapa banyak darah yang memenuhi kakinya. Sebab baginya tidak ada tempat yang lebih ia rindukan selain rumah itu sendiri, walaupun rumah itu pernah membuatnya hampir melihat kematiannya sendiri.”

__ADS_1


...----------------...


Next,❣️🕊️?


__ADS_2