
...“Terlalu banyak yang menuntut agar kita bisa melakukan semuanya, memiliki ini dan itu memenuhi ekspetasi dan standar mereka. Pada hal bisa tetap waras dan mampu bertahan hidup sampai hari ini saja sudah pencapaian yang sangat hebat.”...
Happy reading💗🕊️
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ayoklah. Bismillah aja” jawab Ameera dengan perasaan berdegup kencang.
Ameera yang berjalan lebih dulu dan diikuti Kezia dari belakang, Ameera yang hendak membuka pintu utama yang telah tertutup sempurna langsung menghentikan niatnya kala pintu tersebut dibuka dari dalam menampilkan sosok wanita cantik berambut panjang sangat mirip dengan garis wajah dari Ameera, hanya wanita yang membuka pintu ini adalah sosok Ameera versi wanita dewasa yang sudah matang. Dan bisa dipastikan wanita yang membuka pintu tersebut adalah mami dari Ameera.
Sejenak wanita tersebut terpaku menatap Ameera yang berdiri tepat dihadapannya, ada perasaan yang bercampur menjadi satu bahkan matanya nampak berkaca-kaca. Namun tidak berselang lama, wanita tersebut merubah ekspresi wajahnya ke ekspresi datar.
“Akhirnya kau datang juga” ucap Nela, mami dari Ameera.
“Hmm” jawab Ameera singkat disertai tatapan datar.
Nela hanya mengangguk saja, kemudian tatapannya beralih pada sosok gadis berambut sebahu yang berdiri tepat dibelakang Ameera.
“Dia, siapa?”
“Temanku. Ah ralat. Dia adalah saudara sekaligus keluargaku” jawab Ameera lepas tanpa beban, ia bahkan melirik Kezia yang hanya terdiam saja.
“Tante. Saya Kezia, teman dari Ameera” sapa Kezia kikuk.
Sebenarnya Kezia sedikit kikuk dan canggung berhadapan dengan mami dari Ameera, karena ia sendiri pun bingung harus bagaimana.
“Ah, begitu. Ayo mari masuk” ucap Nela mempersilahkan Ameera dan Kezia masuk ke dalam villa.
Ameera langsung masuk disusul oleh Kezia. Langkah Ameera yang langsung menuju lantai dua yang sepertinya kamar mereka berdua tepat berada di lantai dua.
Ameera sudah berjalan lebih dulu ditangga, sementara Kezia dibelakang. Langkah kakinya langsung berhenti kala Nela yang merupakan mami dari Ameera memanggil namanya.
“Kezia!!” panggilnya pelan.
Sontak Kezia langsung berbalik dan menjawab, “Ya, tante memanggil Kezia?”
“Iya” jawabnya pelan sembari celingak-celinguk melihat Ameera apakah anak itu sudah masuk kedalam kamar atau tidak.
Nela lalu menghampiri Kezia yang berdiri mematung menunggunya, “Ini, tolong berikan pada Ameera.”
Nela menyerahkan bantal guling pada Kezia, “Tante lupa menaruh bantal guling di kamarnya, dia tidak bisa tidur tanpa bantal guling” jelas Nela, sementara Kezia hanya mengangguk saja.
“Iya, tan”
__ADS_1
“Ah, iya. Sekalian juga kita akan makan siang. Tante akan menunggu kalian dibawah. Bilang pada Ameera Papinya belum pulang”
Lagi dan lagi Kezia hanya mengangguk seraya mengulas senyum.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang disampaikan oleh Nela, Kezia langsung menyusul Ameera yang sudah ada lebih dulu di dalam kamar.
Klek…
Kezia melihat Ameera yang sedang tiduran diranjang sembari memainkan ponselnya.
“Lo kok lama. Di interogasi sama nyokap gue ya?” tanya Ameera langsung pada Kezia yang baru sampai.
“Nggak juga. Nih bantal gulingmu” jawab Kezia sembari melempar asal bantal guling tadi kepada Ameera.
“Auh…! Sakit, Zi” Ameera mengaduh lantaran ponselnya jatuh diwajahnya karena bantal guling yang dilempar asal Kezia.
“Upss, sowwry” ucap Kezia meminta maaf namun tidak merasa bersalah. Kezia malah ikut berbaring disamping Ameera diatas ranjang. Sementara Ameera hanya bisa mengelus dada.
“Ra…” panggil Kezia dengan nada pelan, namun matanya tertutup.
“Hem, apa?”
“Keknya mami loh itu baik deh” ucap Kezia sembari membuka matanya menatap langit-langit kamar.
“Aduuh, lucu banget sih candaannya. Bagus bagus gue suka” jawabnya seraya mengangkat dua jempolnya.
Kezia malah bingung karena respon Ameera yang tertawa terbahak-bahak.
“Aku serius, Ra. Kok kamu malah ketawa sih” heran Kezia.
Ameera langsung memutar bola matanya malas, “Dia jahat, Zi. Mana ada baiknya” sarkas Ameera.
“Eh, Ra. Kamu pernah dengar nggak sih perumpan tentang sejahat-jahatnya harimau, ia tidak akan memakan anaknya” ujar Kezia.
Ameera langsung menaikkan sebelah alisnya, “Jadi?”
“Mami kamu itu baik kok. Kayaknya jahatnya tuh diluar doang, dalemnya baik. Buktinya dia ngasih bantal guling kan sama kamu. Mami kamu sangat tahu betul kebiasaan kamu yang tidurnya harus make bantal guling.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berselang satu jam, Kezia dan Ameera turun kebawah untuk makan siang, dari tangga mereka berdua bisa melihat kalau mami Nela sudah menunggu mereka untuk makan siang bersama.
Nela langsung berdiri dari tempat duduknya mengajak Ameera dan Kezia untuk bergabung dengannya.
__ADS_1
“Ayo, kalian berdua makan dahulu. Kalian pasti sangat lapar, setelah ini kalian nnanti istirahat saja” ucap Nela.
Sementara Ameera dan Kezia langsung duduk saja. Ameera langsung mengisi isi piringnya dengan nasi dan lauk pauk. Sejenak, Ameera menatap lauk pauk yang ada diatas meja merupakan makanan kesukaannya.
“Makan yang banya Ameera, mama menyuruh mbok memasak makanan kesukaanku” pungkas Nela. Ameera sendiri hanya diam tidak menjawab penuturan sang mami.
Mereka bertiga makan dalam diam hanya dentingan sendok yang sedang beradu dengan piring sesekali juga Nela mencuri pandang pada Ameera yang sedang makan.
“Jangan memperhatikan gue seperti itu. Gue risih” ucap Ameera menghentikan acara makannya. Ameera tahu sejak tadi maminya terus mengamatinya entah karena apa tapi yang jelas Ameera tidak menyukainya.
Nela langsung gelagapan seakan mencuri pandang Ameera adalah hal yang begitu salah.
“Ma-maaf, Ra. Mami hanya ingin leluasa menatap putri mama lebih lama.”
PRANK…
Ameera langsung menjatuhkan sendoknya pada piringnya, ia langsung menatap Nela dengan tatapan sinisnya, “Jangan sembarangan bicara. Jangan mengatakan demikian seakan gue begitu kalian inginkan” sarkasnya tak terima karena ucapan Nela barusan.
Kezia langsung mengingatkan Ameera untuk menjaga sikapnya terhadap maminya.
“Ra, jangan begitu.”
“Dia pantas mendapatkan demikian, Zi.”
Nela hanya terpaku terdiam menatap sang putri yang memang sangat membencinya. Ameera langsung tersenyum sinis menatap maminya.
“Sebaiknya katakan dengan jelas tujuan gue harus datang ke tempat ini. Mau mendengar umpatan kasar kalian lagi. Tentu saja, boleh. Aku sudah menyiapkan batin untuk menerimanya” ucap Ameera lagi.
“Ra, tenangin diri kamu.” Kezia langsung menyentuh pergelangan tangan sang sahabat.
“Kenapa, Zi. Disini geu nggak salah. Mereka yang salah Zi. Menurut lo wanita ini baik? Iya dia baik, tapi dia pembohong” sarkas Ameera, ia bahkan langsung menunjuk Nela yang hanya terdiam ditempat duduknya.
“Ameera, duduk dan makanlah kembali. Tidak baik bertengkar didepan makanan” ujar Nela, ia melanjutkan makanannya. Ia juga tidak menanggapi perkataan Ameera barusan, seakan apa yang dikatakan Ameera barusan belum ia dengar atau mungkin saja ia anggap sebagai angin lalu.
Kezia juga hanya terdiam, ia menatap Nela yang sedang menyantap makanannya dengan tatapan datar, namun garis wajahnya menunjukkan gurat nelangsa dan sendu.
“Ck, lihatlah dia!! Berusaha baik-baik saja. Munafik sekali” ejek Ameera seraya tertawa.
“Ameera!!! Dasar anak tidak berguna!!. Mulutmu masih saja mengeluarkan sampah. Kau memang tidak berguna sama sekali” ucap seorang pria yang baru saja datang dari arah ruang tamu menuju meja makan.
...----------------...
Next❣️🕊️?
__ADS_1