
...“Aku sungguh ingin belajar bagaimana ombakmu bergolak, agar aku memahami setiap butir pasir dalam dirimu....
...Agar aku bisa bergerak seirama, dengan pasang dan surut arusmu.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kau yakin dengan rencana mu ini Ra?” cemas Kezia tidak yakin dengan ide yang di berikan Ameera.
“Yakin lah” jawab Ameera mantap.
Kezia kembali menarik napas panjang, “Kalau Papa tahu aku ke sini gimana?”.
“Tinggal bilang ketemu abang Richard, aman kan” jawab Ameera lagi seraya membuka seatbelt yang dia gunakan.
Kezia malah menepuk jidatnya, “Aduh Ra. Segalanya kamu buat aman. Nggak ada berpikir kritisnya sama sekali” kesal Kezia.
“What?” tanya Ameera bingung dengan penuturan Kezia barusan.
“Aku takut Papa marah Ra” cicit Kezia.
“Duh… lo kok penakut banget sih. Sesekali keluar dari zona nyaman lo deh. Udah ah ngobrolnya, langsung cabut aja ketemu abang Richard di kantornya” ucap Ameera antusias.
Ya, Ameera dan Kezia saat ini sedang berada di parkiran Detasemen Khusus 88. Bukan tanpa alasan mereka ke tempat ini, yaitu untuk mengantar Kezia menemui Richard dan sekedar menanyakan kabar saja.
Kedua gadis itu langsung turun dari mobil menuju pos penjagaan.
“Cari siapa bu?” tanya salah seorang polisi yang sepertinya sedang piket menjaga pos.
“Mau ketemu Kak.. Emm... maksud ku Pak Richard Allaric” ucap Kezia.
“Pak Richard sedang tidak ada di kantor bu. Mereka sedang ada tugas di lapangan” jelas sang polisi tadi.
__ADS_1
“Apa ibu sudah membuat janji dengan beliau?” tanyanya lagi.
“Belum” jawab Kezia jujur.
“Oh. Kalau mau ketemu beliau setidaknya buat janji dulu bu. Baru bisa bertemu dengan beliau.”
Membuat Kezia dan Ameera langsung lesu, “Memangnya Pak Richard ke lapangan yang gimana sih Pak?” tanya Ameera langsung.
“Maaf bu, untuk hal itu bersifat rahasia” jawab polisi tersebut mantap.
Membuat Kezia dan Ameera langsung menelan kekecewaan. Akhirnya mau tidak mau mereka harus pulang tanpa membawa hasil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tengah mereka sedang berjalan menuju lorong parkir, mereka berdua sayup-sayup mendengar pembicaraan beberapa personil polisi yang menggunakan kaos polo dengan logo polisi di bagian dada mereka serta tulisan punggung baju yang bertuliskan POLISI.
“Apa Perwira Richard masih monitoring di lokasi XXX?” tanya salah seorang polisi kepada rekannya.
“Iya. Dari kemarin mereka sudah mengawasi. Dari perkiraan yang mereka dapat. Sepertinya kelompok terroris ini akan melakukan misinya kisaran sore sampai malam ini. Makanya kita harus bergerak cepat membantu Perwira Richard. Katanya mereka kekurangan personil.” Jelas rekannya pada temannya.
“Ikuti mereka Ra, jangan sampai kehilangan jejak dan jangan sampai ketahuan juga” ucap Kezia memberi instruksi pada Ameera yang tengah mengikuti mobil polisi yang tadi.
“Iya, lo tenang aja. Untuk masalah ini gue ahlinya” jawab Ameera mantap.
Sementara Kezia pikirannya sudah kemana-mana. Rupanya Richard sedang dalam tugas menangkap kelompok terroris. Ia takut jikalau Richard terluka dalam tugasnya.
Sampai di lokasi, mobil mereka tidak terlalu dekat dengan parkiran polisi yang tadi.
“Sebaiknya kita tunggu di sini saja” ujar Ameera sementara Kezia hanya mengangguk pelan.
Rupanya mereka berada di basement parkir di mall yang cukup terkenal di daerah Bekasi.
Kezia membuka ponsel dan mengirim pesan pada Richard untuk sekedar menanyakan kabar dan sedang apa. Namun bukannya balasan, di baca saja tidak bahkan pesan yang terkirim masih centang satu. Membuat Kezia di rundung galau.
__ADS_1
“Lo cemas?” tanya Ameera yang sejak tadi memperhatikan Kezia seperti tidak tenang.
Kezia hanya mengangguk pelan, “Perasaan aku nggak tenang” ucapnya pelan.
Ameera hanya mengangguk, entah kenapa Ia juga tiba-tiba deg-deggan, perasaannya menjadi tidak tenang seperti akan terjadi sesuatu hal yang akan menimpa mereka.
“Gue juga Zi. Biasanya gue nggak begini” balas Ameera.
“Eh Ra, Ra… Itu polisi yang tadi turun dari mobil. Ayo kita ikuti” ucap Kezia langsung membuka seatbelt nya tanpa pikir panjang.
“Apa nggak sebaiknya kita di sini aja Zi” ucap Ameera yang mendadak nyalinya menciut.
“Nggak bisa Ra. Sebaiknya kita ikuti saja. Mana tahu kita bisa ketemu Kak Richard juga kan” jelas Kezia langsung turun dari mobil.
“Ah shitt… Harusnya aku tidak memberinya ide gila ini. Ternyata Kezia lebih gila dari aku” ucap Ameera menjambak rambutnya frustasi. Dan mau tidak mau Ia harus keluar dari mobil dan mengikuti langkah Kezia.
“Zi, tunggu. Lo jalannya cepat banget sih kayak orang yang lagi di kejar sama masa lalu aja” ucap Ameera yang berusaha mensejajarkan langkahnya pada Kezia yang berjalan begitu cepat seraya celingak-celinguk seperti mencari seseorang.
“Ra, kamu liat dua polisi yang tadi nggak?” tanyanya seraya menggigit kukunya untuk menetralisir gugupnya.
Ameera malah menggeleng pelan, “Kok mereka hilang ya. Cepat banget jalannya” ucap Ameera sembari ikut mencari juga.
Namun belum sempat beberapa detik mereka mengedarkan pandangannya, terdengar suara dentuman senjata dan pecahan kaca yang di iringi teriakan histeris pengunjung mall di salah satu lorong di lobi mall. Semua orang menjadi gaduh, ketakutan bahkan ada yang sampai menutup telinga akibat dentuman suara yang begitu keras dan cukup bising. Tak lama suara dentuman itu kembali terdengar, teriakan histeris semakin bertambah bahkan ada suara orang yang menangis.
Membuat Kezia dan Ameera bertukar pandang, mereka menelan salivanya pelan. Ameera langsung memeluk tangan Kezia, “Gue takut Zi. Cabut aja yuk.”
Baru saja Ameera mengatakan untuk pergi dari mall ini, terdengar suara bunyil pistol yang di tembak ke atas langit ruangan.
Dor…
“Jangan ada yang mencoba melarikan diri. Tiarap semua!!!…” ucap seorang pria muda mengunakan jaket hitam dan juga topi hitam, tak lupa senjata api di kedua tangannya yang sedang Ia arahkan pada sekitarnya, salah satunya Kezia dan Ameera.
“Apa kau tuli. TIARAP cepat..!!!”
__ADS_1
...----------------...
Next💗😘?