
...“Jadikan kehilangan itu sebagai pelajaran, jangan jadikan kehilangan itu sebagai sebuah halangan untuk kamu menuju kebahagiaan. You should know, you deserve to be happy.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah William menceritakan semua kejadian yang dahulu sudah lama ia simpan dan tutup rapi pada sang putri, ada perasaan lega yang ia rasakan. Terlebih lagi alasan ia mengasingkan sang putri ke luar negeri.
“Harusnya Papa menceritakan padaku lebih awal, agar aku tak salah paham” ucap Kezia pada sang papa seraya mengulas senyum manis.
“Maaf, Papa sedikit terlambat menceritakannya, sayang” ucapnya penuh sesal.
Mendengar itu, Kezia malah tersenyum mengembang seraya menggeleng pelan.
“No, semuanya belum terlambat, Pa. Terima kasih karena sudah memberikan yang terbaik untuk Kezia” ucapnya langsung berhambur memeluk sang papa, William.
William langsung membalas pelukan dari sang putri.
Setelah itu, mereka berdua berkeliling pada markas milik keluarga Ludwig menjelaskan setiap sudut ruangan pada sang putri.
Kezia terpukau pada setiap apa yang di lihatnya baik dari orang-orang yang sibuk belajar bela diri dan berlatih senjata api.
“Aku ingin seperti mereka” ucapnya dengan mata berbibar-binar.
Mendengar itu, William langsung menoleh sang putri yang sepertinya begitu tertarik dengan bela diri dan senjata api.
“Jika kau ingin seperti mereka, maka kau harus belajar, sayang.”
William sendiri tidak mempermasalahkan jika sang putri belajar bela diri dan memegang senjata api, karena itu sebagai bekal Kezia sendiri untuk melindungi dirinya dari bahaya. Karena William tahu, tidak selamanya ia bisa menjaga dan mengawasi Kezia dari tangan-tangan nakal yang ingin menyakiti sang putri.
“Benarkah? Bolehkah aku belajar, Pa?” tanyanya dengan antusias. Kezia bahkan langsung memegang pergelangan tangan William.
“Of course, sayang.”
Sebuah jawaban yang membuat Kezia langsung bersorak dan berjingkrak kesenangan.
Bukan apa-apa, sebenarnya dari dulu Kezia sangat ingin belajar bela diri namun semua itu tidak bisa ia lakukan karena larangan keras yang di berikan William padanya ketika ia berada di luar negeri.
“Bisakah Kezia mengajak teman Kezia juga Pa?” tanyanya lagi.
William yang sedang sibuk meneliti sebuah pistol apakah ada lecet atau tidak langsung menoleh sang putri.
“Ameera?” tanya William memastikan.
Kezia langsung mengangguk mengiyakan.
“Boleh. Tentu saja” jawab William singkat.
“Terima kasih, Pa” ucap Kezia langsung senang.
__ADS_1
Kezia langsung merogoh ponselnya hendak menghubungi sang sahabat.
“Kezia…” panggil William pelan.
“Ya, Pa. Ada apa?”
Sejenak William terdiam, ragu hendak melanjutkan ucapannya. Ia memijit pangkal hidungnya sebentar.
“Pa. Kenapa?” tanya Kezia lagi.
“Ini perihal… kau dan hubunganmu dengan Richard” ucap William menatap Kezia yang tiba-tiba mematung mendengar penuturan sang papa.
Kezia langsung meremas ponsel yang ada ditangannya.
“Shiitt… aku harus menjawab apa” umpat Kezia dalam hatinya.
Kezia tidak menyangka jika sang papa akan menanyakan hal demikian.
Mengerti jika sang putri merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan, William langsung tersenyum pada Kezia.
“Tidak masalah. Jika memang tidak ingin menceritakan pada Papa. Sudah, sebaiknya cepat kau kabari temanmu itu jika dia ingin ikut bergabung juga” jelas William sambil berlalu melihat beberapa barang senjata apa yang telah sampai di markas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah telah selesai berkunjung ke markas, Kezia langsung kembali ke mansion di temani sang asisten, Damian. Selama dalam perjalanan, Kezia bertelpon ria dengan seseorang di seberang sana, siapa lagi kalau bukan Ameera sang sahabat. Hingga tak terasa, Kezia dan Damian sudah sampai di mansion.
“Terima kasih Om” ucap Kezia sebelum turun dari mobil.
Setelah itu Kezia langsung turun dari mobil dan langsung menuju kamarnya.
Brukk…
Kezia menjatuhkan bobot badannya di ranjangnya yang empuk sembari menatap langit-langit kamarnya. Kezia langsung teringat dengan penuturan sang papa mengenai hubungannya dengan Richard.
“Richard….” Lirihnya dengan suara pelan.
Lamunannya jadi buyar kala ponselnya berdering di hubungi oleh nomor tidak di kenal.
Karena merasa nomornya asing, Kezia langsung menolak panggilan tersebut. Namun lagi-lagi nomor tersebut kembali menghubunginya bahkan berkali-kali meski pun Kezia sudah berulang kali menolak. Membuat Kezia jadi kesal sendiri.
“Siapa sih. Ganggu ketenangan orang aja” gerutunya langsung menerima panggilan dari nomor tidak di kenal tadi.
“Zia..” panggil seseorang tersebut dalam panggilan yang baru diterima Kezia. Suara yang begitu familiar dan sangat di kenali Kezia membuat Kezia langsung terbangun dari tidurnya. Ia kembali memastikan kontak yang sedang menghubunginya kontak Richard atau bukan.
“Keluarlah, lihat aku di atas balkon kamarmu” ucapnya lagi.
Kezia sama sekali tidak bersuara namun ia mengikuti apa yang di katakan seseorang di seberang sana untuk pergi ke arah balkon. Kezia langsung menuju balkon kamarnya dan menatap sekelilingnya. Ketika ia sibuk mengedarkan pandangannya, Kezia langsung terpaku menatap seorang pria yang sedang berdiri tak jauh di luar mansionnya sedang menatap Kezia dari atas balkon kamar Kezia.
“Ayo bertemu” ucap Richard dengan suara baritonnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ada apa ingin menemuiku” ucap Kezia to the point pada sosok pria yang sedang berdiri tak jauh dengannya. Pria tersebut adalah Richard, pria yang meminta Kezia untuk bertemu. Keduanya bertemu di salah satu café yang dekat di mansion William.
Richard hanya terdiam menatap Kezia yang sepertinya menatapnya begitu dingin bak es kutub utara.
“Bagaimana kabarmu, Zia?” tanya Richard pelan.
“Baik. Sangat baik. Jadi katakan ada apa ingin menemuiku. Jangan membuang-buang waktuku percuma, tuan” ucap Kezia formal namun sangat terkesan dingin.
“Kau tidak merindukan aku, Zia?” tanya Richard. Membuat Kezia langsung menggebrak meja dengan sangat kuat.
BRAK…
Sontak para pengunjung café langsung menatap ke arah Kezia dan Richard. Richard sendiri bahkan kaget dengan sikap Kezia barusan.
“Berhenti omong kosong, tuan Richard Anderson” sarkas Kezia langsung.
Sebuah ucapan yang membuat Richard terpaku terdiam menatap Kezia dengan tatapan tak terbaca.
“Ck, lihatlah Anda, tuan. Anda sangat munafik!!” ucap Kezia tatapan merendahkan ia layangkan pada Richard yang masih terdiam.
Richard langsung mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Kau sudah tahu?” tanya Richard dingin.
“Ya. Aku sudah tahu!!. Bahkan semuanya!!. Kau yang berniat mendekatiku karena tujuan tertentu dan latar belakangmu juga. Asal usul keluargamu. Kau bukan Richard Allaric tapi Richard Anderson!!” ucap Kezia jelas penuh penekanan.
“Maaf.”
Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Richard, ia bahkan langsung menunduk tidak berani membalas tatapan tajam Kezia.
Kezia yang sudah malas langsung mengambil tasnya di atas meja dan hendak pergi. Namun baru juga hendak melangkah pergelangan tangannya di raih dan di tahan oleh Richard.
“Lepas” desis Kezia memberontak melepaskan pergerlangan tangannya dari tangan Richard.
“Apa kau sangat marah karena tindakan yang aku ambil?” tanya dengan nada melemah.
Keduanya sejenak saling menatap satu sama lain, hingga tak lama Kezia kembali menarik pergelangan tangannya pelan dan Richard pun melepaskan tangannya.
“Ya, aku menyangkan tindakanmu itu, kak Richard, sangat. Tapi ya sudah semuanya sudah berlalu. Hentikan sandiwaramu jangan melangkah ke jalan yang salah terlalu jauh” ucap Kezia berusaha tenang.
Ia menatap Richard yang menatapnya dengan tatapan bersalah membuat Kezia juga jadi tidak enak hati.
“Kak, Tuhan memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan pada kita untuk mengajarkan kita tentang hikmah di dalamnya.”
...----------------...
Next💗🕊️?
__ADS_1
Maaf baru bisa di update ya🤭🤭
Besok di pastiin akan selalu up, hehe