Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 56


__ADS_3

...“Yang tampak dewasa pun ada waktunya ia kecewa dan tidak baik-baik saja. Yang kuat pun punya lelah dan adakalanya merasa lemah. Jadi saling mengeri dan memahami itu penting, agar diam tidak disalah artikan jadi benci, tak bertegur disangka marah atau tida menyapa dikira jadi lupa.”...


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya Kezia sampai dimansion dan langsung menuju ke kamarnya dilantai dua, namun sebelum itu ia berpapasan dengan sang papa.


“Baru pulang, sayang?.”


“Iya Pa, tumben jam segini Papa sudah dirumah?” ujar Kezia seraya menyalim sang Papa yang tengah duduk diruang tengah.


William yang tadinya sedang fokus pada ponselnya mengecek email yang masuk langsung menghentikan aktivitasnya.


“Kenapa memangnya, apa tidak boleh?” tanya William.


Mendengar penuturan sang papa, menmbuat Kezia langsung menggeleng bahkan langsung mengembangkan senyum diwajah ayunya.


“Tentu saja boleh, Pa. Kezia bahkan senang jika Papa pulang cepat. Jadi, Kezia tidak akan makan malam sendirian lagi” ujar Kezia sembari menyengir.


Pernyataan itu membuat William langsung tersenyum lebar dan mengacak asal rambut sang putri.


“Kau ini, sebaiknya kau mandi sekarang karena sebentar lagi kita akan makan malam” titah William. Hal itu langsung diiyakan Kezia dengan mengangkat dua jempol tangannya.


“Siap my boss. Perintah dilaksanakan” jawab Kezia dan langsung berbalik arah menuju kamarnya diatas seraya berlari kecil.


“Jangan lari sayang” ucap William sedikit berteriak pada Kezia namun Kezia hanya tertawa saja menanggapi ucapan sang papa membuat William hanya mampu menggeleng pelan. Namun bukan berarti dia marah, hatinya bahkan merasa hangat dengan tingkah sang putri bahkan akhir-akhir ini William sering memperlihatkan senyumannya. Sifat kaku, datar dan dinginnya berangsur menghilang bersamaan dengan adanya Kezia sang putri yang menetap di Indonesia.


Berubahnya sifat majikan itu tentu membuat para pekerja dimansionnya dapat lega karena tidak terlalu tertekan dengan sifat kaku sang majikan. Kedatangan sang putri merupakan sebuah keberuntungan bagi para pekerja di sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini mereka sudah berada dimeja makan, bahkan sudah hampir setengah makanan dipiring William mapun Kezia masuk kedalam perut mereka.


Perlahan Kezia melirik sang papa yang sedang fokus menyantap makanannya, ada sesuatu hal ingin dia utarakan namun Kezia mengurungkan niatnya. Tanpa disadarinya, ekor mata William menangkap gelagat sang putri.


“Mau bicara sesuatu, sayang?” tanya William disela-sela makannya.


Kezia langsung mendongak menatap sang papa.

__ADS_1


“Hehe, Papa tahu aja kalau Kezia ingin membicarakan sesuatu hal pada Papa” cengir Kezia tersipu.


William yang sudah siap makan dan mengelap wajahnya langsung menatap sang putri.


“Bicaralah, sayang. Papa akan mendengarnya” ujar William seraya meneguk air putih digelasnya.


Kezia sebenarnya nampak ragu untuk membicarakan hal ini pada sang papa, nyalinya tetap saja ciut jika seandainya respon sang papa marah pada keputusan yang diambilnya. Namun sebisa mungkin Kezia memberanikan dirinya dan membicarakan hal ini pada sang papa.


“Emh… Pa, boleh tidak Kezia menemani Ameera ke Bandung?” pintanya dengan nada pelan dan memelas.


William lantas menaikkan sebelah alisnya, “Maksudnya?.”


Kezia menggigit bibirnya sejenak lalu menghela nafasnya.


“Jadi gini, Pa. Orang tua Ameera sudah ada di Bandung beberapa hari yang lalu, mereka meminta Ameera untuk datang menemui mereka. Tapi sayangnya, Ameera tidak mau menemui orang tuanya karena sesuatu hal” jelas Kezia.


“Mengapa bocah itu tidak mau menemui orang tuanya, apa hubungannya dengan orang tuanya ada masalah?” tebak William seraya menopang dagunya, ia bersandar diatas meja menunggu kelanjutan penjelasan dari sang putri.


Kezia mengangguk mengiyakan perkataan sang papa.


“Iya, Pa. Hubungannya mereka sedikit renggang lantaran sesuatu hal.”


“Bukan kah Ameera tidak ingin menemui orang tuanya, jadi untuk apa kalian ke Bandung?.”


Kezia langsung menyanggah pertanyaan Willliam.


“Kemarin Ameera tidak ingin menemui orang tuanya, tapi tadi ia sudah berubah pikiran kalau besok ia akan ke Bandung menemui pap maminya yang ada di Bandung” jawab Kezia.


“Kalau begitu, bagus. Biarkan dia menemui orang tuanya” balas William.


Kezia langsung menggeleng pelan, “Tapi Kezia tidak bisa membiarkannya datang sendirian, Pa. Aku takut Ameera kenapa-kenapa. Lagian sudah sangat lama Kezia tidak bertemu dengan orang tuanya” jelas Kezia.


“Jadi?.”


“Jadi, izinkan Kezia menemani Ameera ya, Pa. Please?” pinta Kezia seraya mengatupkan kedua tangannya pada William.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini nampak Ameera sedang menatap layar ponselnya, rupanya gadis itu baru selesai menghubungi sang mami yang ada di Bandung. Tanpa disadarinya bening aiar mata kembali menetes dipipinya.

__ADS_1


“Haishh.. Sial. Beraninya kamu membasahi pipiku” gerutunya pada diri sendiri. Setelah itu langsung meringkuk memeluk kedua kakinya dan menangis sesegukan.


“Hiks.. Apa boleh sesakit ini? Aku sudah muak” ucapnya frustasi.


Ameera langsung teringat pembicaraannya dengan sang mami yang memaksanya ke Bandung hari ini.


Dengar Ameera, harusnya kau bersyukur kami masih membiarkanmu hidup dan menjalani kehidupanmu dengan bebas. Apa karena kau sudah besar kau sudah berani menentang kami?, hanya untuk sekedar menemui kami saja, kau tidak mau. Harusnya aku menuruti perkataan papimu semenjak kau berada dalam kandungan, agar kau dimusnahkan saja kalau tahu kau akan menjadi gadis pembangkang seperti sekarang.


Pernyataan yang membuat hati Ameera begitu tersayat-sayat. Apa harus diperjelas sekali kalau dia ini tidak diinginkan. Mentang-mentang kedua orang tuanya mengharapkan anak laki-laki namun sayangnya ia terlahir sebagai anak perempuan.


“Ck, kalau boleh aku memilih aku juga tidak ingin lahir dari perempuan seperti dia dan mempunyai papa yang tidak bisa menerima kenyataan” lirihnya pada diri sendiri.


Ameera meluapkan emosinya dengan menangis sesegukkan sampai ia puas dan perasaannya sedikit lega.


Ternyata memang benar, kadang seseorang butuh jeda dari riuh untuk menghimpun tenaga dan beristirahat dari jenuh. Seseorang memang perlu ruang untuk dirinya sendiri. Mungkin saja ia ingin tenang. Jadi, jangan salah paham dulu, karena seseorang mungkin lelah dan butuh diredam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat pukul 08.15 WIB Ameera telah siap untuk berangkat ke kota kombang dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sebelum pergi, ia mengecek satu persatu barangnya apakah ada yang tertinggal atau tidak.


“Hp sudah, charger sudah, power bank sudah, dompet sudah, kartu e-toll sudah. Oke, jadi sekarang tinggal berangkat” ucapnya kemudian langsung menggendong tas punggungnya. Ia langsung keluar dari apartemennya tak lupa ia menguncinya menggunakan akses card.


Ameera langsung menggunakan lift menuju basement parkir mobil.


Setelah lift terbuka, ia langsung menuju mobilnya dan meletakkan barang bawaannya di kursi kemudi belakang. Ameera langsung memakai seatbelt mobilnya. Ia langsung menyalakan mobilnya.


Hendak berangkat, pandangannya teralihkan ketika sosok yang paling dikenalinya mengetok kaca jendela mobilnya. Buru-buru Ameera langsung membuka kaca jendela mobilnya.


Nafas orang tersebut tersengal-sengal karena berpikir Ameera sudah lebih dulu berangkat karena terlebih dahulu wanita cantik berambut sebahu tersebut datang ke apartemen apakah Ameera masih ada atau belum.


“Kezia? Lo ngapain di sini?” tanya Ameera bingung.


Bukannya menjawab lebih dulu, Kezia langsung masuk ke dalam mobil dan meletakkan tas punggungnya disamping tas sang sahabat.


“Kok masih nanya aku ngapain ke sini. Tentu saja untuk menemuimu. Ayo, kita berangkat sekarang sebelum macet melanda” jawab Kezia santai seraya mengedipkan sebelah matanya.


“What?” pekik Ameera kaget.


...----------------...

__ADS_1


Next🕊️❣️?


__ADS_2