
...“Jingga berkata, ‘senja itu pintar, datang ketika rindu benar-benar rindu.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Memangnya kenapa dia tidak boleh jujur?” ucap seorang pria yang baru saja sampai di depan pintu ruangan Kezia.
Suara bariton pria yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Kezia, menggunakan pakaian lengkap seragam Sabraha PDLT lengkap dengan baretnya, di tangannya menenteng seragam jas PDU yang sepertinya sudah di lepaskannya tadi. Dan orang tersebut adalah Richard.
Bukannya menjawab, Kezia dan Ameera malah terdiam karena terpaku melihat Richard yang sangat gagah dan berlipat kali ganda tampannya menggunakan seragam polisi. Seragam baju yang terlihat sangat pas di badan Richard membuatnya terkesan sangat seksi dan amat sangat tampan.
“Cubit gua Zi. Gua nggak mimpi kan?” ucap Ameera menoleh Kezia.
Mendengar penuturan Ameera, Richard mengerutkan keningnya sementara Kezia malah mengikuti instruksi dari Ameera mencubitnya.
“Auh.. sakit” ucap Ameera mengaduh karena sepertinya cubitan Kezia sangat sakit.
“Sakit Zi. Kira-kira juga kalo emang mau nyubit. Lo ada dendam apa sama gue” kesal Ameera.
“Ya abis kamu aneh Ra. Malah minta cubit. Ya, aku cubit lah” jawab Kezia merasa tak bersalah dengan apa yang di lakukannya.
“Ya nggak segitunya juga Keziaaaa!” ucap Ameera tidak habis pikir.
Kedua orang tersebut malah asik berdebat kecil seakan melupakan kehadiran Richard di ruangan, “Ehem…” dehem Richard sedikit keras.
“Eh Kak Richard” sapa Kezia tersenyum kikuk. Perasaannya sedang berdegup kencang sekarang menatap Richard yang berdiri tak jauh di ranjangnya.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya seraya mendekati ranjang Kezia.
“Su-sudah lebih baik kak” jawabnya terbata-bata.
Mengetahui sahabatnya yang nampak gugup dan Ameera juga berpikir kedua orang tersebut sepertinya perlu bicara empat mata, dia mempunyai ide supaya orang tersebut bisa berbicara leluasa.
“Eh gue ke bawah bentar ya Zi, gue lupa ambil sesuatu di mobil. Kalian lanjut aja ngobrolnya. Bang nitip Kezia ya..” ucapnya langsung berlalu tanpa menunggu jawaban dari Kezia sedangkan Richard hanya menganggu saja.
Sebelum keluar dari ruangan, Ameera menatap Kezia dan memberi semangat pada sahabatnya, “Kezia fighting!!” ucapnya pelan bahkan suaranya nyaris tak terdengar tak lupa tangannya ia kepalkan memberi semangat pada sahabatnya. Setelah itu, Ameera benar-benar keluar dari ruangan meninggalkan Kezia dan Richard.
“Fighting apanya. Situasi ini sangat tidak baik untuk kondisi jantungku Ra” ucap Kezia dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Zia..” panggil Richard menatap Kezia yang sedang menatap ke arah pintu.
Melihat itu, Richard hanya mengulas senyum tipis, sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat.
“Maaf baru bisa datang membesuk mu” ucap Richard memulai obrolan.
Kezia yang mendengar itu hanya mengangguk saja. Tidak masalah baginya Richard datang terlambat membesuknya. Kezia juga sadar posisi, tidak mungkin dia menuntut Richard untuk membesuknya lebih awal bukan?.
“Tidak mau bertanya sesuatu hal pada ku Zia?” ujar Richard sembari menarik kursi untuk dekat di ranjang Kezia.
Kezia menatap Richard sejenak walau akhirnya dia kembali memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Richard yang nampak berbeda. Tatapan yang sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
“Bertanya apa. Ku rasa tidak ada.”
__ADS_1
Membuat Richard yang mendengar menarik nafas panjang.
“Zia..” panggilnya lagi.
“Kezia kak, bukan Zia!!” protes Kezia, namanya Kezia bukan Zia.
“Tapi aku lebih menyukai jikalau aku memanggilmu dengan nama Zia” ucap Richard serius.
“Kenapa?” tanyanya bingung.
Ia kembali menatap Richard yang sedang menatapnya pula. Kedua tatapan mereka bertemu dan beradu cukup lama.
Entah sadar atau tidak, tangan Richard terulur memegang tangan Kezia. Tak ada juga penolakan dari Kezia, semuanya seakan mengalir begitu saja.
“Aku lebih suka memanggilmu Zia. Kau tahu arti Zia itu apa?” tanyanya pada Kezia.
Kezia hanya menggeleng pelan membuat Richard mengulas senyum.
“Zia itu artinya sesuatu yang bercahaya dan bersinar. Dan kau sama halnya Zia. Kau datang di kehidupanku yang gelap gulita membawa secercah penerangan dari sinarmu.”
Ungkapan yang membuat Kezia berkedip lebih cepat. Sungguh perkataan Richard barusan sangat banyak manisnya, Kezia tidak mau terlampau berharap lebih.
Sadar kedua tangan mereka juga sedang bertaut, Kezia memilih untuk menarik tangannya yang sedang di genggam lembut oleh Richard. Namun sepertinya Richard tidak menginginkan Kezia melepaskan tautan tangan mereka.
“Aku merindukanmu, Zia.”
...----------------...
__ADS_1
Next💗😘?