Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 63


__ADS_3

...Iya capek. Gapapa menghindar sebentar pergi ke tempat sepi hanya untuk menangis. Gapapa kok. Nggak ada yang salah dengan menjadi lemah. ...


...Jika sudah agak lega dan tenang, angkat kepala dan yuk berjalan lagi. Pelan-pelan juga gapapa. Toh semua orang punya waktunya sendiri-sendiri....


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Kezia sedang fokus menatap coklat pemberian Richard padanya, tak ada ekspresi apapun diwajahnya. Datar. Itulah kata yang bisa menggambarkan ekspresinya.


Damian yang melirik Kezia lewat pantulan kaca hanya terdiam juga ketika sang nona terdiam terpaku menatap coklat yang ada ditangannya.


Kezia lantas meletakkan sembarang coklat tadi di bangku sebelahnya.


“Mengapa membuangnya sembarangan, Kezia. Kalau tidak mau berikan padaku saja” ucap Damian menawarkan diri.


Sontak mendengar penuturan dari Damian, Kezia buru-buru mengambil coklat barusan dan memasukannya di dalam tasnya.


“Nggak boleh, itu punya Kezia, Om” ucap Kezia.


Damian hanya tertawa melihat tingkah Kezia barusan, “Kau itu aneh Zia, tadi kau membuangnya seakan kau tidak menginginkannya namun kau kembali mengambilnya kala diminta oleh orang lain.”


Kezia hanya diam, tidak ada niatan untuk menjawab perkataan barusan. Sementara Damian hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap Kezia barusan.


“Apa coklat itu pemberian orang lain atau kau membelinya sendiri?” tanya Damian.


“Pemberian orang” jawab Kezia sekenanya.


Dan Damian hanya ber-oh saja mendengar penuturan Kezia barusan seraya mengangguk-angguk.


“Dari siapa?” tanya Damian lagi. Sepertinya Damian sedikit kepo siapa orang yang memberikan coklat tersebut.


“Rahasia.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Kezia langsung tersenyum mengejek Damian yang sedang fokus menyetir didepan. Sepertinya ke-kepoan Damian sangat terlihat diwajahnya.


“Baiklah, tidak masalah jika tidak ingin memberitahuku.”


“Hahaha,,,, Om kepo sekali ingin mengetahuinya yah? Kalau bener-bener kepo Kezia akan kasitahu kok.”


Damian lalu melirik Kezia dipantulan kaca spion mobil seraya tersenyum.


Keduanya lantas tertawa, menertawakan sikap absurd masing-masing.


“Itu pemberian Richard, Om” ucap Kezia.


Sejenak, Damian akui ia sedikit kaget mengetahui siapa yang memberikan Kezia coklat tersebut dan tak butuh waktu lama ia kembali menetralisir wajah kagetnya dengan wajah biasa saja agar tidak terlihat kentara.


“Kalian bertemu lagi?.”


“Yah. Bertemu lagi. Aneh sekali. Pada hal aku sudah tidak berniat ingin menemuinya, Om.”


Sejenak Kezia terdiam dan berpikir keras mengapa ia masih saja mau menyetujui ajakan dari Richard untuk bertemu.


“Entahlah, Kezia juga tidak tahu.”


Damian hanya mengangguk saja, dia juga tidak berniat melanjutkan lagi obrolan tersebut. Damian bisa melihat ada sesuatu hal yang mengganjal dibalik coklat tadi. Namun bukan urusannya pula untuk menggali info lebih jauh. Jadi ia membiarkan Kezia menyelami sendiri apa yang sedang ia rasakan.


Kezia yang suntuk di dalam mobil, ia lalu mengambil coklat pemberian Richard tadi dan memakannya seraya menatap pemandangan luar dari kaca jendela.


Kamu itu aneh, aneh sekali. Kadang kamu berhasil membuatku merasa seolah satu-satunya. Membuat ku tersipu malu karena merasa terpenting dan segalanya. Tapi semudah membalikan telapak tangan dengan sekejap, kamu bisa langsung membuatku merasa menjadi orang paling prihatin di permukaan ini. Seolah ingin tak ingin, acuh tak acuh, kau diami aku semau dan sesuka hati.


Kira-kira sampai kapan hubungan ini berada di zona abu-abu? Sampai kau bosan lalu temukan pengganti ku? Atau sampai aku lelah lalu mundur terlebih dahulu?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain sisi, Richard menemui saudaranya James di base.

__ADS_1


“Katakan ada apa? Jika kau datang kesini hanya untuk menasihati ku atau ingin berdebat denganku. Aku tidak bisa meladenimu. Aku sibuk” ucap James yang sedang menuangkan air didalam cangkirnya.


Richard hanya tersenyum, “Tidak. Aku datang kesini bukan untuk berdebat atau menasihatimu.”


“Lalu untuk apa kau kesini?.”


“Aku di pindahkan ke bagian interpol sekarang. Jadi kemungkinan besar kita akan jarang bertemu. Jaga dirimu baik-baik. Jauhi yang menurutmu tidak menguntungkan dan berujung sia-sia. Ingat, hari sial itu tidak ada didalam kalender, Kak” ucap Richard.


“Kau dipindah tugaskan lagi?” tanya James.


Dan Richard langsung mengangguk.


James memijat pangkal hidungnya, kemudian melirik Richard dari kejauhan.


“Apa kau tidak bisa memilih mundur saja dari profesimu itu. Kau bisa bekerja menjadi orang kantoran. Ayah punya banyak cabang perusahaan dan kau bisa memilih kemana kau ingin bekerja” ujar James menawarkan.


“Tidak, aku tidak mau. Aku sudah terlanjur mencintai profesi itu.”


Jawaban yang membuat James hanya bisa menghela nafas kasar.


“Baiklah terserah kau saja. Jaga dirimu baik-baik” ucap James sembari memunggungi Richard.


“Iya, kak James juga jaga diri baik-baik. Aku pamit kak” ucap Richard sopan. Tidak ada nada ketus dan dingin dari suaranya.


“Hmmm” jawab James singkat.


Setelah itu, Richard pergi meninggalkan James didalam ruangan. Melihat Richard yang sudah keluar dari ruangan, James lantas berbalik melihat apa Richard masih ada atau tidak. Dan benar saja, Richard sudah tidak ada.


“Dasar keras kepala. Kau selalu bertolak belakang dengan pemikiran ku Richard. Tapi, terima kasih sudah menjadi saudara yang selalu mengingatkan” ucap James nampak begitu pelan.


James lantas mengepalkan kedua tangannya, “Ku harap semua ini cepat berakhir.”


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2