
...“Menjadi naif sekedar untuk menjaga keadaan agar tetap terlihat baik-baik saja. Lalu menjadi manusia munafik hanya untuk menutupi diri agar terlihat baik-baik saja.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari terus berlalu, semua orang melanjutkan aktivitasnya seperti biasanya tak terkecuali Kezia yang hari ini akan pergi ke kampus untuk menuntut ilmu dan setelah selesai kuliah ia akan meluangkan waktunya bersama Ameera untuk berlatih bela diri.
Pagi ini Kezia datang ke kampus dengan mengendarai mobil sendiri tanpa diantar oleh sang sopir maupun sang asisten, Damian. Hal itu dikarenakan Kezia sendiri yang meminta, ia ingin menjalani kegiatannya sebagaimana dia ingin tanpa harus selalu berada dalam pantauan dan penjagaan yanng ketat yang diberikan sang papa selama 24 jam.
Sedikit sulit memang bagi seorang William menyetujui permintaan sang putri, namun dengan berat hati akhirnya ia mengiyakan. Namun sebelum itu, William memberikan syarat pada Kezia agar ia bisa menyetujui permintaan dari sang anak. Yaitu Kezia harus bisa menguasai ilmu bela diri setidaknya seperempat bahkan bermain senjata api. Bukan apa-apa William memberikan syarat demikian, itu bertujuan agar ia bisa sedikit lega melepas sang putri dari pengawasannya. Dan karena kesungguhan Kezia pula ia bisa menyanggupi persyaratan yang diberikan sang papa padanya.
Pagi ini Kezia berada di parkiran kampus menunggu sang sahabat, Ameera.
“Tumben tuh anak jam segini belum nyampe. Biasanya dia paling on time” ujar Kezia seraya melirik arloji di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan 06.50 WIB sementara mereka akan memulai perkuliahan didalam kelas pukul 07.15 WIB. Mata Kezia celingak-celinguk mencari sosok sang sahabat apakah sudah sampai di area kampus atau belum namun ternyata tidak ada.
“Haish.. Tuh anak kemana sih. Di hubungi aja kali ya.”
Kezia langsung mengambil ponselnya didalam tasnya dan menghubungi sang sahabat, Ameera.
Ketika panggilan terhubung, Kezia langsung bertanya dimana keberadaan sang sahabat.
“Bentar, gue udah mau nyampe nih. Lo dimana, masih di parkiran kampus kan? Tungguin gue ya Zi” jawab Ameera dari seberang setelah itu dia langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
“Dih bocah, main matiin sepihak aja” kesal Kezia. Dia tidak tahu saja kalau ia memiliki kelakuan yang sama seperti apa yang dilakukan Ameera tadi.
Tak berselang lama, terlihat Ameera sampai dan mau memarkirkan mobilnya tepat disamping mobil Kezia.
Brak..
Ameera langsung keluar dari mobil dan membanting sedikit pintu mobilnya.
“Duh maaf ya Zi. Gue telat hehe” ucap Ameera nyengir langsung menggandeng tangan Kezia. Sementara Kezia hanya menggeleng pelan.
“Ih kok malah bengong dah. Ayuk masuk bentar lagi kelas mulai apa lagi dosennya killer loh hari ini” ucap Ameera lagi, ia menarik tangan Kezia agar melangkahkan kakinya agar jangan hanya diam berdiri mematung saja.
“Ra, tunggu. Kamu habis nangis lagi?” selidik Kezia menatap manik sahabatnya.
__ADS_1
“Nggak. Gue nggak nangis. Udahlah ayo masuk” kilah Ameera langsung berjalan duluan tidak lagi menunggu Kezia.
Kezia hanya mampu menatap punggung Ameera yang sudah berjalan menjauh dan menghela nafasnya.
“Ini pasti gara-gara kedatangan papi maminya” lirih Kezia.
“Ra, tungguin” teriak Kezia setelah itu. Ia langsung menyusul langkah kaki Ameera yang sudah berjalan lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BRAK..
James langsung memukul meja dengan keras.
“Apa maksudmu, Richard. Mengapa kau berkata demikian? Hah? Apa kau sudah gila?” pekik James penuh emosi. Sementara Richard hanya terdiam saja, tetap tenang dan duduk santai di hadapan James yang sedang emosi luar biasa akibat pernyataannya barusan.
James melirik Richard dengan tatapan tajamnya, “Jangan bilang kau jatuh cinta pada bocah itu sampai kau lupa tentang tujuan awalmu mendekatinya?.”
“Aku jatuh cinta atau tidak, itu bukan urusanmu. Ah, dan ya. Sebenarnya itu bukan tujuanku itu adalah tujuanmu, kak” jawab Richard dengan santai tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Kau!!!” gertak James langsung menunjuk Richard dengan jari telunjuknya, rahangnya sudah mengeras bahkan wajahnya terlihat memerah karena amarah.
Mendengar penuturan Richard padanya, membuat emosi James semakin naik.
“Argh…” James berteriak keras meluapkan kekesalannya.
“Akan ku bunuh gadis itu dengan tanganku sendiri. Dia telah mencuci otakmu” ucap James menggebu-gebu, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Diam!!” gertak Richard langsung. Ia langsung tidak terima dengan ucapan James barusan.
“Berani kau menyentuhnya sedikit saja, apa lagi menyakitinya. Akan ku pastikan aku sendiri yang akan membunuhmu juga” ucap Richard tidak main-main.
Richard langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlalu keluar dari ruangan sang kakak, James.
“Lihatlah, sekarang kau berani meninggikan suaramu bahkan ingin membunuh saudaramu sendiri hanya untuk melindungi anak dari musuh kita” jawab James tidak terima dengan pernyataan yang dikatakan Richard barusan.
“Terserah!!” balas Richard acuh. Richard langsung keluar dari ruangan dan menutup pintu ruangan James dengan keras.
__ADS_1
Brak…
Setelah kepergian Richard, James langsung berteriak keras meluapkan kekesalannya dan menjambak rambutnya frustasi.
“Sial, rupanya dia sudah tidak bisa diajak bekerja sama” ucap James pelan penuh kecemasan. Ia menggigit jarinya seraya berpikir keras apa yang harus ia lakukan. Karena rencananya sudah pasti akan gagal jika Richard tidak berada dipihaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah selesai kelas, Ameera langsung di hadang oleh Kezia untuk tidak segera keluar dari ruangan.
“Sekarang kamu harus cerita. Kamu kenapa Ra, jangan menyimpan dan memendamnya sendirian” pinta Kezia memohon pada sang sahabat.
Ameera hanya terdiam, ia bingung harus bagaimana menanggapi penuturan Kezia barusan.
“Maaf, Zi” ucap Ameera pelan.
“Aku nggak butuh maaf, Ra. Aku butuh penjelasan tentang apa yang membuat kamu seperti ini. Apa ini berhubungan sama papi mami kamu?” tanya Kezia lagi.
Lama menjawab, akhirnya Ameera mengangguk lemah. Ia langsung menunduk menghindari tatapan mata sang sahabat.
“Hadapi, Ra.”
Kalimat yang membuat Ameera langsung menatap Kezia. “Maksud lo?.”
Kezia langsung duduk disamping Ameera, “Iya, temui saja mereka. Jangan menghindari mereka. Aku akan menemanimu bertemu dengan papi mami kamu” jelas Kezia pada Ameera.
Ameera malah menggeleng lemah, “Nggak. Gue nggak menemui mereka lagi” balas Ameera. Matanya langsung memerah dan tanpa sadar ada cairan bening yang membasahi pipinya.
“Hiks.. hiks..” Ameera langsung menangis. Ia langsung menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya dan membaringkan wajahnya di meja.
“Mereka nggak sadar Zi, kalau perkataan papi mami itu sudah menghancurkan harapan dan bahkan mentalku.”
Kezia hanya mampu mengelus punggung Ameera, ia juga bingung harus bagaimana. Ia tahu betul bagaimana hancur dan remuknya perasaan Ameera. Dahulu ia pernah merasa berada diposisi Ameera yang ia lakukan hanya bisa menangis dan terdiam.
“Ra, aku juga pernah diposisi yang sama kayak kamu. Aku pernah berpikir, jika boleh memilih tentu saja aku tidak ingin lahir dari keluarga yang berantakan apa lagi tidak mengharapkan kehadiran ku sebagai anak. Namun, aku selalu percaya, dibalik itu semua, pasti ada hikmah dibalik itu semua. Tentang papa dulu yang aku pikir dia selalu menciptakan luka untukku, aku tetap mencintainya sebagaimana aku mencintai diriku. Tidak ada alasan untuk membencinya, meski aku hanya dihadiahi luka.”
...----------------...
__ADS_1
Next🕊️❣️?
Eits jangan lupa tap vote ya guys sebelum mengakhiri membacanya mumpung lagi Happy Monday