
...“Menjaga pikiran agar tetap waras diantara banyak hal yang membuat diri begitu tertekan adalah perjuangan yang saat ini banyak dilalui oleh siapa pun, saya, kamu, mereka dan kita semua.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ayo, Zi keluar. Om Damian pasti sudah menunggu kita diluar” ucap Ameera langsung mengambil tas selempangnya diranjang Kezia.
“Ra tunggu dulu. kamu tahu bukan terlalu banyak yang meributkan bahwa rumah belum tentu berarti pulang. Tak sedikitpun juga yang mengaduh kalau pergi jangan lupa pulang. Sepertinya banyak manusia lupa, ada orang yang ingat kalau dirinya harus pulang meskipun neraka itu rumah. Dia tetap pulang, meski di sana penuh teriakan bahkan mungkin saja dia tidak dianggap ada di sana. Dia tetap pulang, meski rumah itu sudah hancur lebur oleh amarah. Dia tetap pulang tidak peduli berapa banyak darah yang memenuhi kakinya. Sebab baginya tidak ada tempat yang lebih ia rindukan selain rumah itu sendiri, walaupun rumah itu pernah membuatnya hampir melihat kematiannya sendiri.
Mendengar penuturan Kezia barusan, seketika membuat pertahanan Ameera runtuh. Ia langsung terjatuh ke lantai dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya. Terdengar isak tangis Ameera yang bisa didengar oleh Kezia.
Isak tangis yang begitu pilu membuat Kezia juga bisa merasakan bagaimana sakit dan luka yang dialami sahabatnya. Kezia tanpa pikir panjang langsung memeluk sang sahabat seolah memberikan kekuatan dan semangat untuk Ameera.
“It’s okay Ra. Menangislah, jangan ditahan” ucap Kezia sembari menepuk punggung sang sahabat.
“Hiks…. Zi. Aku tidak setegar yang aku kira ternyata. Rupanya aku amat rapuh Zi, hiks hiks” jawab Ameera disela-sela tangisannya.
“Tidak masalah. Tidak ada orang yang benar-benar tegar, semua itu hanya kamuflase Ra” jelas Kezia. Ameera sudah tidak menjawab lagi ia lebih memilih meluapkan kesedihan dan kepiluan hati yang telah berusaha ia tahan namun akhirnya ia runtuh juga.
“Haahh.. Aku harus bagaimaana Zi. Rasanya aku ingin menertawakan skenario hidupku” ucap Ameera sembari melerai pelukan dari Kezia.
Kezia menghapus sisa-sisa air mata yang masih setia betah menetes di pipi sang sahabat.
“Ayo lalui semuanya, aku yakin kamu pasti bisa” ujar Kezia menyemangati Ameera.
Sementara Ameera hanya menghela nafas lega, “Aish sial. Tumben sekali kali ini capeknya beda” gertak Ameera pada dirinya sendiri. Ia lantas berdiri dan ikut menarik sang sahabat berdiri juga.
Sementara Kezia hanya tertawa kecil melihat sikap Ameera.
“Dasar, jangan terlalu sok kuat Ra, luapkan saja” teriaknya pada sang sahabat yang sudah lebih dulu berlalu keluar dari kamar. Kezia langsung mengikuti Ameera.
Di bawah sana, sudah ada Damian yang menggunakan pakaian casual tidak seperti biasanya menggunakan setelan jas.
“Beuh… Om Damian kelihatan ganteng poll kalau pake baju kaos beginian deh” ucap Ameera memuji style Damian sang asisten dari Kezia pagi ini.
Sedikit aneh bukan, dikamar ia tadi menangis sesegukkan tapi sekarang dia seperti baik-baik saja seakan tidak terjadi apa-apa.
“Kau habis menangis Ameera? Mengapa matamu merah?” tanya Damian menelisik.
“Haish mata merah bukan berarti habis menangis. Bisa saja sakit mata” jawab Ameera seraya memukul pelan pundak Damian.
“Shit… Kalau sakit mata kenapa kau ikut Ameera” pekik Damian langsung menghindar. Maklum, Damian sedikit parnoan takut tertular sakit mata.
__ADS_1
Tingkah Damian membuat Ameera dan Kezia langsung tertawa lepas.
“Hahaha hahaha.. Gitu doang takut. Badan doang yang gede, nyali ciut” ledek Ameera pada Damian.
“Bukan ciut, Ameera. Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Sebaiknya kau pake kacamata hitam saja atau tidak perlu ikut dari pada kau menularkan penyakitmu pada orang lain” jawab Damian.
Pernyataan Damian membuat Ameera langsung mencebikkan bibirnya kesal, “Dih takut banget sih om. Ini kelilipan doang kali” jawab Ameera ketus.
Ia langsung berlalu keluar setelah mengatakan demikian. Melihat Ameera yang tampak kesal membuat Damian hanya bisa menggeleng pelan.
“Dasar anak gadis sekarang, cepat baper” ucap Damian.
“Kyaaaa… gue masih bisa dengar ya” teriak Ameera dari luar membuat Damian langsung terperanjat kaget.
Kezia semakin tertawa melihat sang asisten kaget bercampur bingung, “Ayo Om kita susul tuh anak. Maklum Ameera lagi masa PMS jadi cepat baper hihi” ujar Kezia.
Damian sendiri hanya mengangguk, “Ternyata wanita kalau PMS menyeramkan juga ya Zi” ujar Damian tak habis pikir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sinilah mereka sekarang, berada di ruang berlatih. Hari ini mereka langsung di ajari oleh Damian. Sebelumnya Kezia dan Ameera sudah berganti baju lebih dahulu, keduanya menggunakan baju atlet bela diri
“Baiklah langsung saja, kita akan memulai pemanasan dan setelah itu akan langsung masuk gerakan basic. Kalian paham?” tanya Damian dengan nada tegas.
“Paham Om” jawab Kezia dan Ameera kompak.
Sekitar tiga jam mereka berlatih tanpa berhenti mengikuti gerakan-gerakan yang diberikan oleh Damian hingga selesai. Kezia dan Ameera langsung merebahkan tubuhnya di lantai setelah disuruh istirahat oleh Damian. Nafas keduanya tersengal-sengal di susul dengan keringat yang membanjiri kening Kezia dan Ameera.
“Ini minumlah”
“Huaaaa terima kasih Om Damian hot” ucap Ameera langsung mengambil minuman yang diberikan Damian kepada mereka berdua. Damian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuaan Ameera yang benar-benar aneh.
“Terima kasih, Om” ucap Kezia.
“Ya, sama-sama Kezia.”
“Latihannya cukup sampai disini saja, yang penting basicnya sudah bisa kalian pahami. Besok sore kita lanjutkan” jelas Damian pada Kezia dan Ameera.
Keduanya langsung mengangguk mengiyakan.
Setelah mengatakan itu, Damian memilih pergi meninggalkan kedua gadis itu untuk beristirihat sejenak.
Kezia dan Ameera langsung meminum hingga tandas air mineral yang diberikan Damian barusan.
__ADS_1
“Haaa… Gila capek banget, badan gue langsung pegal-pegal” keluh Ameera langsung merebahkan kembali badannya di lantai.
Kezia hanya tertawa menanggapi celotehan dari Ameera.
“Lebih baik capek fisik, dari pada capek hati Ra” jawab Kezia asal.
Tapi sepertinya Ameera menanggapinya serius.
“Iya, kau benar Zi” jawabnya sendu.
Kezia yang awalnya tertawa langsung berhenti dan menoleh Ameera yang kembali sendu.
“Terkadang, gue hanya ingin diam tanpa berucap apa pun untuk siapa pun. Namun jugam terkadang aku tidak tahan dengan keadaan ini. Aku lelah Zi, aku selalu berpikir kapan semuanya akan berakhir. Kira-kira kapan ya, Zi?” Tanya Ameera diselingi tawa hambar keluar dari mulutnya.
“Ra…” Kezia langsung memegang sebelah bahu Ameera.
“Kapan ya Zi? Kapan aku kembali mendekap tenang dan pelukku tanpa lagi menggenggam pisau bersayat dalam jemarian kakuku. Tanpa lagi sengaja menghujam panah dalam jantung lemahku yang membuat semesta seolah menjadi neraka dalam kemuakanku. Manusia lain seperti menghina jiwa merisauku bahkan aku pikir juha udara bagaikan api yang seakan siap membunuhku, Zi.”
Ameera sejenak terhenti melanjutkan ucapnnya, ia menoleh pada sang sahabat Kezia yang menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
“Kamu hebat, Ra. Kamu benar-benar hebat sudah berjuang melewati semuanya. Tekanan yang lewati selama ini membuktikan bahwa kamu memiliki pribadi yang kuat dan tegar” jawab Kezia.
“Aku hanya ingin tenang Zi. Kembali pada rumah yang benar-benar menyambut dan menganggapku sebagai anak.”
...----------------...
Next🕊️❣️?
.
.
Holaaaaaaa lama tidak menyapa yeorobun, selamat idul adha bagi yang merayakan yakkk dan have fun untuk liburannya🤗🤗
Libur gabut, ga libur ngeluh. Dasar aku😌🤦
Bulan Juli tanggal satu, hari Sabtu bukan Jumat. Kamu dan dia pasti bersatu tepatnya di hari kiamat. Mwehehe🏃🏃
Malam minggu kelabu, merah muda dan pilu.
Manusia memang tidak ada yang sempurna tapi jangan kebangetan juga brengseknya😑
Maaf aku gabut😝
__ADS_1
Semangat gess besok Senin, hari yg lumayan berat😆😆
Eitzzz.... jangan lupa di dukung karyanya biar aku semangat up nya hehehe