
...“Jangan terlalu sering menghakimi diri sendiri. Maafkan jika nyatanya banyak gagal yang dilakukan. Maafkan jika nyatanya banyak ekspetasi yang tidak bisa diwujudkan. Maafkan jika nyatanya banyak kesalahan yang sering diperbuat. Terlebih, banyaknya hal-hal yang menyakiti diri sendiri yang bukan karena orang lain, melainkan karena diri sendiri.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nyatanya memang benar setiap orang punya waktunya masing-masing, kalau hari ini bukan harimu, besok mungkin milikmu. Bisa jadi bulan depan, kemungkinan juga kamu harus menunggu tahun depan untuk dapatkan waktumu itu. Jangan berkecil hati, semua punya porsinya masing-masing. Tak apa gagal dan sakit, bulan depan gagal, pun tahun depan dapatkan kegagalan.
Kamu punya waktumu, terus cari dan temukan. Mari berusaha dengan keras, kita harus pantang menyerah. Ingat ya!
Itulah yang dialami Kezia dan Ameera sekarang, mereka punya waktu masing-masing dalam kehidupannya. Saat ini keduanya sedang berada di tol menuju kota kembang.
Ameera fokus menyetir sembari menyalip beberapa mobil yang ada didepannya. Raut wajahnya nampak datar dan ia pun irit bicara tidak seperti biasa ia akan cerewet dan selalu nyerocos. Sepertinya Ameera lebih memilih untuk hanyut dalam pikirannya sendiri.
Entah apa yang sedang dipikirkannya, apakah perkara ia akan menemui papi maminya atau ada hal lainnya. Hal itu membuat Kezia sedikit gemas sebenarnya, ia merindukan sosok sahabatnya yang lebih banyak bertingkah dari pada diam dan irit bicara seperti ini.
“Ra, kamu kok betah diam terus dari tadi. Lagi sariawan ya?” kelakar Kezia.
Ameera hanya tertawa pelan mendengar penuturan sang sahabat, “Sialan, lo sumpahin gue biar sariawan. Jelek banget niat lo” jawab Ameera berpura-pura kesal dengan omongan Kezia barusan.
Sementara Kezia langsung tertawa keras.
“Nah akhirnya kamu ngomong juga. Mulutmu ternyata tetap tajam meski berjam-jam tidak diasah” ejek Kezia seraya mengangkat dua jempolnya ia berikan pada Ameera.
Kezia kemudian menghela nafas pelan, lalu melirik Ameera lagi yang sepertinya kembali fokus menyetir dan menatap ke arah depan.
“Pada hal kamu manusia, Ra. Kok kamu bisa lupa sih?” tanya Kezia terheran-heran namun tatapannya tertuju pada langit cerah di luar kaca jendela mobil.
Ameera langsung terkekeh pelan mendengar penuturan Kezia barusan, “Hellowww.. Lo kemana aja selama ini. Gue emang manusia bukan bidadari yang kehilangan selendangnya” jawabnya seraya tertawa merasa terhibur karena ucapan Kezia barusan.
“Gue serius, Ra” ucap Kezia lagi. Kali ini ia menatap mata sang sahabat yang menatapnya dengan tatapan bingung.
“Maksudnya?”
“Maksud aku, nge-ekspresiin emosi itu wajar. Bukankah kamu sering mengatakan hal demikian di kala aku selalu murung. Dan sekarang giliranmu. Kamu boleh tunjukkin perasaan kamu tanpa harus di tahan apa lagi di pendem. Kalau kamu mau marah, nangis, senang sampai jinggrak-jinggrak juga, ya itu nggak akan merubah pandangan orang lain sama kamu” jelas Kezia.
__ADS_1
Ameera sontak tertegun. Kalimat barusan seakan menamparnya keras-keras. Sejak dulu ia selalu menasihati dan mengingatkan sang sahabat untuk bisa mengekspresikan apa yang selalu dirasakan. Tapi lihatlah, ketika itu sampai padanya ia tidak berani merealisasikan ucapannya sendiri.
Ia memegang erat setir mobil lalu tertawa hambar.
“Gue lucu banget ya, Zi. Gue pinter menasihati dan menyemangati orang lain untuk masalahnya namun untuk masalahku sendiri aku tidak bisa. Menurut lo bagaimana, badut banget nggak sih gue nya?” ucapnya seraya tertawa palsu meluapkan kekesalannya pada diri sendiri.
Kezia malah tersenyum seraya menepuk melakukan tos pada lengan Ameera.
Ameera lantas menaikkan sebelah alisnya karena sikap Kezia barusan.
“Semangat terus ya, Ra” ucap Kezia.
“Lo aja yang semangat, gue udah nggak kuat” balas Ameera acuh.
“Lah kok gitu?.”
“Lagian basi banget, Zi. Kata semangat bagi gue untuk saat ini udah nggak mempan. Mau satu dunia bilang semangat pun ya gue nggak akan bisa semangat.”
Kezia hanya terkekeh mendengar ucapan Ameera, rupanya temannya ini memang sedikit keras kepala jika dinasehati.
Ameera malah mengulas senyum tipis. Ada perasaan hangat yang menjalar dihatinya mendengar ucapan Kezia yang notabene Kezia adalah orang luar baginya. Biasanya energi positif orang dapatkan dilingkungan keluarga, tapi dia dapatkan energi positif itu dari orang lain.
Terkesan lucu, tapi ia malah bersyukur. Ketika di rumah ia tidak mendapatkan sosok yang tulus maka ia mendapatkan sosok yang tulus seperti keluarga dari sahabatnya.
“Makasih, Zi” ucap Ameera tulus.
“Untuk?.”
“Makasih karena lo udah menjadi salah satu hal terbaik yang gue punya. Gue merasa beruntung, bersyukur dan bahagia akan hal itu.”
“Aku pun sama halnya, sangat bersyukur memiliki sahabat kayak kamu.”
Keduanya lantas melempar senyum. Sebenarnya jalan cerita hidup mereka hampir sama mungkin itu yang membuat mereka benar-benar bisa saling mengerti satu sama lain.
Mungkin pelajaran yang bisa kita ambil, persahabatan itu indah. Jika semua yang berbeda mampu saling mengerti, menjadi harmoni. Tidak ada yang saling pergi hanya karena ada yang lebih menarik, tidak ada yang pergi dan datang seenaknya. Berbagi suka dan suka bersama, tapi tetap saling menjaga privasi diri.
__ADS_1
Namun sayang, persahabatan seperti ini amat sulit didapat, telah tenggelam namun ada yang lebih memilihnya untuk menjadikan persahabatan ini cadangan dan memilih mereka yang memiliki persahabatan yang lebih bebas serta menarik.
Tak terasa perjalanan mereka juga sudah mendekati tujuan. Ameera juga sudah mulai banyak berbicara tidak diam seperti tadi membuat Kezia sedikit lega karena perubahan mood sahabat.
Mereka mulai menikmati perjalanan mereka dengan bertukar canda tawa sembari memutar beberapa playlist lagu kesukaan mereka berdua.
“Zi, nanti kalo gue ketemu papi sama mami. Gue harus gimana ya?” tanya Ameera menanyakan pendapat sang sahabat.
“Harus gimana bagaimana, Ra?”
“Ya kan gue udah lama nggak ketemu sama mereka. Gue bingung harus bersikap apa.”
Kezia hanya tersenyum seraya mengangguk, “Posisikan dirimu sebagai anak, Ra. Redamkan aja perasaan benci. Dan semua akan mengalir sebagaimana mana mestinya.”
Ameera lantas langsung menggeleng, “Aduh gue nggak bisa redam perasaan benci gue ke mereka. Soalnya permanen ini bencinya” jawab Ameera.
Karena gemes, Kezia langsung mentoyor kepala sang sahabat. “Penyaringan mulutnya rusak ya. Pinter amat ngelesnya kamu tuh.”
Ameera sendiri hanya menyengir tidak jelas.
Tak berselang laa, akhirnya mereka keluar dari tol dan langsung menuju jalan Dago alamat papi maminya berada.
“Ra, lo udah beli buah tangan nggak buat papi mami kamu?” tanya Kezia.
“Halah, nggak usah. Belum tentu mereka icip entar” jawab Ameera yang sepertinya sudah menebak sikap kedua orang tuanya.
Akhirnya mereka tiba disebuah villa yang cukup besar dan asri di jalan Dago. Suasana yang begitu sejuk dan asri membuat Kezia berdecak kagum. Mobil mereka langsung diparkirkan di halaman ketika satpam membuka pagar untuk Kezia dan Ameera.
“Ayo turun, Ra” ajak Kezia pada Ameera yang tadi hanya diam saja memperhatikan pintu rumah yang sepertinya tertutup rapat.
“Ayoklah. Bismillah aja” jawab Ameera.
...----------------...
Next❣️🕊️?
__ADS_1