
...“Kecewa terdalam itu ketika kita di bilang tidak pernah mengerti seseorang pada hal kita sudah selalu mengalah.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bapak yang di belakang tidak bisa di ajak kerja sama Om. Beda kayak Om” ucapnya berbisik.
“Apa Zia?.” Tanya Richard langsung pada Kezia yang seolah mengatakan dirinya tidak bisa di ajak kerja sama.
Kezia langsung melirik sengit Richard kala pria itu menghampiri Kezia dengan tatapan bertanya serta juga mengubah namanya menjadi Zia.
“Bapak ga usah dekat-dekat. Jauhan dikit. Alergi saya deket sama orang yang wajahnya datar” ucap Kezia.
“Kau tadi bilang apa. Aku mendengar semuanya” ucap Richard lagi.
“Kepo banget jadi orang Pak. Kalau memang udah sempat dengar ya jangan nanya lagi ” ledek Kezia pada Richard yang masih setia dengan wajah datarnya.
Damian sedikit bingung melihat interaksi antara Kezia dan Richard, “Apa kalian berdua tidak akur?.”
Kezia mengangkat kedua bahunya acuh sementara Richard hanya diam saja.
“Pak Richard harap maklumi Kezia. Tolong jaga dia baik-baik apa lagi dia baru datang ke Indonesia setelah beberapa tahun lamanya” ucap Damian pada Richard.
“Ya, aku sudah pasti melakukan itu. Aku pria yang akan bertanggung jawab pada tugas yang ku emban” jawab Richard.
Sementara kezia memutar bola matanya malas mendengar penuturan dari Richard barusan.
“Dan aku pribadi meminta maaf atas insiden yang kemarin” ucap Richard lagi. Ia perlu meminta maaf pada Damian karena insiden kemarin sehingga Damian harus di rawat intensif di rumah sakit.
Ya, walau sebenarnya Richard tahu siapa dalang di balik insiden itu.
“Tidak masalah, kau tidak perlu meminta maaf bung. Itu bukan kesalahanmu, kau hanya menjalankan tugasmu saja” ucap Damian yang berpikir memang Richard tidak salah di sini. Mereka hanya tim yang di kerahkan untuk memberantas terroris.
Richard hanya membalas penuturan Damian dengan senyuman.
“Em, jadi bisakah kau membantu Kezia nantinya?” lanjut Damian lagi seraya melirik Kezia yang sedang duduk di kursi tempat ranjangnya dengan wajah di tekuk.
“Apa liat-liat?” sentak Kezia dalam mode galak pada Richard yang sedang melihatnya.
“Cih, percaya diri sekali” balas Richard dengan tatapan sinis.
__ADS_1
“Iiiii…. Om Damian liat sendiri kan kelakuan si Bapak Es ini tuh gimana, nyebelin banget jadi manusia. Kesal setengah mati akunya” ucap Kezia mengadu pada Damian tentang bagaimana sikap Richard padanya.
Sementara Damian, Ia hanya tersenyum kecil melihat bagaimana kesal dan emosinya Kezia pada pria bernama Damian.
“Kalau kesal itu ngamuk, bukan sabar” ucap Richard lagi.
“Kyaaa… Kezia itu ngomong sama Om Damian ya bukan sama Bapak” tunjuk Kezia pada Richard.
“Jangan merasa tersakiti, kita berdua saling menyakiti dengan cara yang berbeda” balas Richard dengan nada penekanan.
Ucapan tersebut langsung membuat Damian dan Kezia bingung akan kalimat yang di ucapkan Richard barusan.
“Maksudnya?.”
“Ah, sudahlah. Aku hanya bercanda saja tadi.”
Richard tidak melanjutkan ucapannya lagi, Ia memilih duduk di tepi ranjang Damian.
“Bercanda? Dia masih waras kan? Letak bercanda di kalimat yang tadi itu yang mana?” ucap Kezia dalam hati.
“Pak Richard…” panggil Damian pada Richard.
“Richard saja, tidak perlu memanggilku bapak” ucap Richard santai tidak sedater dan sedingin tadi.
“Baiklah. Katakan saja apa yang perlu ku bantu dan apa yang harus aku lakukan.”
“Kezia, lihat dia mau membantu bukan?” ujar Damian pada Kezia yang sepertinya masih dalam mode galak.
“Hem, iyain aja deh Om” balas Kezia malas.
Ia lebih memilih bermain dengan gawai di tangannya dan berselancar di dunia maya.
Sementara Damian dan Richard terlibat pembicaraan santai untuk menghilangkan rasa hening di ruangan mereka saat ini.
“Mohon maklumi sifatnya. Dia aslinya baik dan tidak semenyebalkan itu kok” ujar Damian melihat sekilas Kezia yang sedang senyum-senyum sendiri ketika bermain ponsel, sontak Richard ikut melihat Kezia dengan tatapan tak terbaca.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah selesai menjenguk Damian di rumah sakit, Damian dan Kezia langsung bertolak ke sebuah toko kue yang cukup terkenal.
Dan seperti biasa lagi, suasana hening terjadi lagi di dalam mobil hingga mereka sampai di tempat toko kue yang menjadi tujuan mereka.
__ADS_1
“Turun” ucap Richard pada Kezia.
“Tau. Tanpa di bilang pun Kezia pasti bakalan turun” balas Kezia dengan sinis, Ia langsung turun dari mobil dan sedikit membanting pintu mobil.
“Dasar bocah” ucap Richard tak habis pikir dengan kelakukan Kezia yang menurutnya sangat keanak-anakkan.
“Pak tungguin. Mau ngejar apa sih sampai jalannya kayak di kejar-kejar massal” gerutu Kezia yang kesal dengan Richard karena jalan Richard yang terlampau cepat.
Richard langsung menghentikan langkah kakinya, “Makanya jalan yang cepat jangan lelet. Siput saja sepertinya akan lebih cepat di banding kamu.”
Mendengar penuturan Richard, Kezia langsung berdecak pinggang menatap sinis Richard.
“Yang logis dikit kalo ngomong Pak. Ya kali siput lebih cepat di banding saya” sanggah Kezia tak terima dengan ucapan Richard barusan.
“Kenapa tidak? Bukankah memang begitu faktanya” balas Richard sedikit sadis yang membuat Kezia semakin tambah marah.
“Dasar rica-rica” teriak Kezia.
“Rica-rica?” beo Richard pada ucapan Kezia barusan.
“Iya, rica-rica. Mulutnya pedas banget. Jahat banget”
Setelah mengatakan itu Kezia langsung berlalu meninggalkan Richard yang masih terpaku akibat panggilan dadakan dari Kezia.
“Tunggu..!!” panggil Richard pada Kezia, hal itu membuat Kezia langsung berbalik menatap Richard dengan tatapan kesalnya.
“Apa lagi?.”
Richard melangkahkan kakinya menghampiri Kezia yang sedang berdecak pinggang padanya.
“Kau tahu Kezia, baik atau jahat, peduli atau tidak, orang lain tetaplah orang lain, bahkan sekalipun ia orang terdekatmu. Yang paling mengerti dirimu hanyalah kamu. Maka kuatkan betismu, mantapkan hatimu. Lakukan yang terbaik sesuai versimu lagi porsimu.”
...----------------...
Next💗😘?
.
.
Di kasih dua mata, tapi malah menilai orang lain lewat telinga🙃🏃🏃
__ADS_1
yuuuk bisa yukkkk nyelesain hari jumatnya dengan mempertahankan senyuman😊😊😊