Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 9


__ADS_3

...“Jangan berharap sama siapapun, jangan berekspetasi tentang apa pun....


...Karena akan terlalu banyak kecewa, terlalu banyak maaf, tapi akan terlalu sedikit di hargai.”...


Happy Reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Diam, dan menurutlah jika kau tidak ingin terluka" sentak pria bernama Richard yang berlari ke arahnya dan tanpa basa basi langsung memborgol kedua tangannya.


Melihat kedua tangannya yang sudah berhasil di borgol membuat Kezia semakin luruh isak tangisnya apa lagi ketika melihat Damian yang di seret oleh dua orang. Perasaannya sungguh campur aduk saat ini. Takut, marah, gugup dan bingung bersatu.


“Hei kalian. Bisakah kalian membawa Om Damian dengan cara baik-baik? Kenapa harus menyeretnya seperti itu. Dia itu manusia bukan binatang” teriak Kezia. Ia berusaha membuka mulutnya dan berteriak sebisanya untuk mengungkapkan apa isi hatinya. Bukan kah lusa kemarin Damian menegaskan padanya bahwa Ia harus mengekspresikan apa yang Ia rasakan, tidak perlu di pendam. Karena ketika semakin kita memendam, orang lain tidak akan tahu apa yang kita inginkan.


Namun sayangnya, ucapannya tidak di hiraukan oleh sekelompok brimod tadi seakan di anggap angin lalu.


“Yaaaa, apa kalian tuli?” kesal Kezia melihat dari kelompok brimod tadi tidak menghiraukan ucapannya.


Namun lagi-lagi, ucapannya di anggap angin lalu.


“Badjingan, dasar komplotan tidak punya otak!” teriak Kezia bahkan kali ini Ia berusaha memberontak melepaskan tangannya yang di pegang oleh Richard.


Richard yang mendengar seorang gadis yang baru saja Ia borgol ini berkata kasar dan memaki team mereka langsung melototkan matanya, “Bisakah kau diam dan berjalan saja mengikuti pria tadi jika memang kau tidak ingin di seret paksa” tekan Richard pada Kezia.


Ya, Richard berusaha menekan sabarnya menghadapi gadis yang sedang Ia tangkap ini. Andai saja Kezia ini seorang pria, mungkin saja Richard akan memberikan sedikit bogem di wajahnya akibat ucapannya yang sedikit tidak sopan.

__ADS_1


Kezia menoleh pada Richard dengan tatapan sinisnya. “Ck, jangan menatapku seperti itu. Brengsekk!!!” ucap Kezia dengan lantangnya di hadapan Richard.


“Kau..!!” teriak Richard pada Kezia, namun Kezia malah mengangkat kedua bahunya lalu meninggalkan Richard. Kezia melangkah mengikuti mobil polisi yang di dalamnya sudah ada Damian yang sepertinya tidak sadarkan diri.


Sampai di dalam mobil, Kezia langsung menatap cemas pada Damian yang terluka akibat tembakan di kakinya.


“Hiks,,, om sadarlah, ayo bangun Om. Kezia takut” ucap Kezia sembari menggoyangkan badan Damian yang terkulai lemas.


Hingga mobil mulai melaju meninggalkan lokasi yang tadi.


“Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang?” batin Kezia. Ia menangis pilu mencoba tegar tapi tidak bisa. Mencari jalan keluar tapi tidak Ia temukan. Pikirannya benar-benar buntu sekarang.


Yang Ia lakukan sekarang hanya bisa pasrah. Ya, pasrah. Hanya itu yang bisa Ia lakukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Brak..


William memukul mejanya begitu keras kala melihat Kezia menangis ketakutan. Sungguh hatinya terenyuh melihat Kezia yang menangis meraung ketakutan seperti itu.


“Tuntaskan masalah ini malam ini juga, berikan padaku semua bukti tersebut. Seret padaku tikus kecil sialan itu yang hampir saja membuat nyawa putriku melayang. Dan, berikan balasan dari hadiah yang mereka kirimkan.”


Setelah mengatakan itu, William langsung keluar di ikuti oleh asistennya Zain.


William harus menuju ke kantor dimana Kezia dan Damian di bawa.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Kezia di ruang investigasi, ruang yang tertutup dimana di dalam ruangan itu hanya terdapat dirinya dan dua personil polisi.


Kezia menatap sekeliling ruangan tersebut, terdapat CCTV di setiap sudut ruangan, 2 buah laptop di meja milik kedua polisi tadi sekaligus alat perekam suara.


Kezia mengepalkan tangannya bahkan matanya kembali memanas kala Ia melihat tangannya yang benar-benar tidak berdaya akibat borgol dari salah seorang pria di hadapannya.


Richard. Ya, itulah nama pria yang telah memborgol kedua tangannya.


“Hei, apa kau menangis lagi. Berhenti menangis. Kami di sini bukan untuk melihat acting mu atau apalah itu.” Ujar Richard dengan nada sedikit kesal.


Sungguh, Richard tidak memiliki kesabaran yang luas untuk menghadapi wanita di hadapannya ini. Jika boleh memilih, Richard lebih memilih menginvestigasi pria ketimbang harus menginvestigasi wanita.


“Diam kau bapak tua” teriak Kezia.


Brak..


Karena kesal, Richard langsung memukul meja dengan amat keras membuat Kezia dan satu personil polisi yang tadi terlonjak kaget.


“Jaga bicaramu gadis ingusan. Mulutmu pedas sekali. Kalau kau tidak ingin di tangkap seperti sekarang lalu kenapa kau menjadi terroris? Ah, satu lagi. Sopanlah sedikit bocah, kami lebih tua darimu. Aku tidak suka orang berteriak dan juga menangis. Itu cukup menganggu telingaku” ujar Richard dengan mata tajamnya, suara yang begitu pelan namun terkesan menyeramkan di sertai rahangnya mengeras.


Membuat Kezia langsung terdiam bahkan menatap Richard dengan tatapan bertanya.


“Teroris?”

__ADS_1


...----------------...


Next💗😘?


__ADS_2