Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 62


__ADS_3

...Jika ingin dijaga, maka kau harus menjaga terlebih dahulu....


...Apa yang kau harapkan pada diri orang lain harus dimulai dari diri sendiri....


...Sederhana tapi banyak yang lupa....


Happy reading😘💗


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ada hal-hal yang terasa berat sekali untuk dilalui tapi tetap harus dilalui. Terasa sulit sekali diterima tapi tetap harus diterima. Memang benar hidup kadang suka kelewatan memberikan sesuatu. Ya, begitulah pikir Kezia.


Pagi ini Kezia akan melaksanakan aktivitasnya sebagai mahasiswa di kampusnya. Dia tengah bersiap mempersiapkan segala sesuatu untuk masuk kuliah hari ini. Setelah beres ia langsung menuju ke lantai satu dan sarapan pagi bersama sang Papa.


“Apa tidak masalah kau masuk kuliah hari ini, sayang?” tanya William ditengah sarapannya bersama sang putri.


Kezia yang tengah memakan sandwich-nya langsung menoleh sang Papa, “Tentu saja tidak Pa. Jangan cemas begitu. Tenang saja, Kezia pasti bisa” jawabnya dengan senyuman hangat di wajah ayunya.


Bukan apa-apa William menanyakan hal tersebut pada sang putri, ia hanya mencemaskan apa bila Kezia merasa begitu sendirian ketika harus ke kampus karena sahabat karibnya sudah tidak ada.


William kemudian mengangguk ketika mendengar pernyataan dari sang putri, Kezia.


Setelah sarapan keduanya langsung bersiap untuk berangkat, William yang akan berangkat ke kantor dan Kezia yang akan berangkat ke kampus pagi ini. William pun menyempatkan waktunya untuk mengantar Kezia langsung di kampus.


Menurut William, memberikan mobil pada Kezia untuk saat ini sepertinya masih belum cocok. Ia takut tidak bisa mengawasi pergerakan Kezia, walaupun dulu ia sempat memberikan izin pada Kezia untuk membawa mobil.


“Hati-hati dan semangat belajar sayang. Setelah selesai jadwal kuliahmu kau akan langsung di jemput oleh Damian” jelas William pada Kezia. Sementara Kezia hanya mengiyakan saja tanpa ingin protes.


Papanya memang sedikit protektif dan selalu mengawasi aktivitasnya, namun Kezia sedikitpun tidak mempermasalahkan itu karena ia yakin semua itu demi kebaikannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Setengah hari Kezia lalui menjadi mahasiswa di kampusnya, ia juga mulai berbaur dengan mahasiswa yang lain. Dia yang semula begitu introvert mulai keluar dari zona nyamannya, ia mulai berbaur dan bersosial dengan yang lain namun masih dalam tahap biasa saja.


Kezia berada di lobi kampus menunggu Damian yang akan menjemputnya, namun sebelumnya Damian sempat mengabari Kezia kalau ia akan sedikit terlambat untuk menjemput sang nona dikarenakan perjalanan yang begitu amat macet dan Kezia memaklumi itu.


Kezia paham betul bagaimana macetnya kota Jakarta yang begitu padat dengan kendaraan roda empat.


Untuk menghilangkan rasa suntuknya, Kezia memilih berselancar di dunia maya. Ketika dirinya sedang asik berselancar, ia mendapat notifikasi dari seseorang yang selalu membuatnya berdebar tak karuan.


Kamu di kampus, bukan? Mari bertemu sebentar.


Itu adalah pesan yang di kirim Richard padanya. Kezia menyerngitkan keningnya dengan pesan yang dikirim Richard barusan.


“Bagaimana bisa dia tahu aku di kampus?” gumamnya pada dirinya sendiri.


Kezia tak ambil pusing, ia hanya membaca pesan tersebut dan memilih bermain sosmed lagi tanpa berniat membalas pesan dari Richard.


Beberapa menit kemudian, muncul pesan baru lagi dari Richard.


Aku menunggumu Zia. Aku sedang di taman kampus sekarang. Datang ya. Ini tidak akan lama kok.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kezia celingak-celinguk mencari keberadaan Richard dan rupanya Richard tengah duduk disalah satu bangku di taman seraya melambai ke arah Kezia.


Kezia sendiri hanya mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju tempat Richard.


“Ku pikir kau tidak akan datang” ujar Richard langsung berdiri menyambut kedatangan Kezia.


“Ada apa Kak?” tanya Kezia langsung. Ia tidak ingin banyak basa-basi sekarang.


Richard sejenak diam terpaku menatap wajah Kezia yang nampak terlihat datar tanpa ekspresi menemuinya.

__ADS_1


“Ini, aku hanya ingin memberi ini” ujar Richard seraya menyodorkan sebatang coklat yang diikat dengan pita merah.


Kezia menatap coklat yang diberikan Richard, “Mengapa memberikannya padaku?.”


“Ini untukmu. Ku pikir kau sangat membutuhkan ini untuk meningkatkan moodmu” jawab Richard tersenyum dan berharap besar Kezia menerima coklat pemberiannya.


Kezia yang melihat itu, hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.


“Baiklah, terima kasih.”


Setelah mengucapkan itu, Kezia langsung berencana pergi meninggalkan Richard, namun belum ia melangkah tangannya sudah diraih oleh Richard.


“Apa kau masih marah padaku, Zia?” Mengapa sikapmu begitu dingin?” tanya Richard.


“Tidak, aku sama sekali tidak marah. Jadi lepaskan, aku harus pulang.”


Kezia berusaha melepas tangannya dari Richard.


“Tapi mengapa sikapmu sangat dingin, Zia?”


Sungguh, Richard benar-benar terganggu dengan sikap dingin Kezia padanya.


“Itu adalah usahaku untuk membatasi diriku” jelas Kezia sembari melepaskan cekalan tangan Richard.


“Membatasi diri bagaimana, Zia? Apa kau masih berprangsangka buruk padaku. Niatku baik Zia untukmu sekarang. Sungguh”


“Tidak, terima kasih. Tapi sepertinya jangan lagi mari menjadi seperti orang yang tidak mengenal saja. Ku rasa itu lebih baik.”


Richard langsung terdiam seraya menatap Kezia dengan tatapan entah. Kezia yang melihat itu hanya tersenyum hambar.


“Manusia itu mudah sekali berubah. Hari ini dia baik, bisa jadi besok ialah yang paling dalam memberikan luka. Jadi, hitung-hitung kembali seberapa besar harapan kita kepada mereka yang kita temui. Jadi ya harus dikendalikan, sebab harapan itu sering juga membawa luka jika tak bisa kita kendalikan” ucap Kezia.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Kezia langsung meninggalkan Richard yang terdiam mematung.


...----------------...


__ADS_2