Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 43


__ADS_3

...“Kamu tidak akan pernah tahu seberapa berharganya kamu di hidup seseorang yang tidak punya siapa-siapa buat cerita.”...


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada akhirnya hanya tiga hal yang penting. Seberapa besar kamu mencintai, seberapa lembut kamu hidup, dan betapa anggun kamu melepaskan hal-hal yang tidak di maksudkan untukmu.


Kezia termenung menatap dirinya pada pantulan cermin, melihat dirinya dengan tatapan datar membuat dia tersenyum kecut.


“Sialan. Ku pikir kau tulus” ucapnya.


Kezia mengingat kembali pembicaraannya dengan Damian dan Zain beberapa saat lalu tentang Richard. Supaya dia bisa menjaga diri dari Richard. Ya, Zain dan Damian takut jikalau Richard adalah seorang musuh di balik selimut. Namun itu masih belum benar, itu hanyalah dugaan saja dan semoga saja tidak begitu.


“Ya, sebaiknya memang begitu. Biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Bodohnya aku. Aku menganggapmu berharga, tapi kau? Kau mungkin menganggap aku tidak ada apa lagi berharga” ucapnya lagi pada dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari-hari Kezia lalu, dirinya sudah di perbolehkan kuliah karena dirinya sudah mulai pulih. Seperti biasa, William yang akan mengantar sang putri ke kampus. Sekaligus dia akan melakukan perjalanan ke luar kota hari ini. Jadi sebelum dia pergi, William menyempatkan dirinya untuk mengantar Kezia ke kampus.


“hati-hati sayang..” ujar William sebelum meninggalkan area kampus Kezia.


“Iya, Pa. Papa juga hati-hati ya.”Kezia menyalim sang papa barulah dia turun dari mobil.


Setelah itu, Kezia langsung menuju ke ruangan kelasnya. Ia melihat di lobi sudah ada Ameera yang tengah melambai padanya dan di balas senyuman oleh Kezia.


William yang masih belum meninggalkan kampus, dia memantau Kezia dari jarak jauh.


“Damian…” panggil William.


“Ya, tuan.”


“Apa terjadi sesuatu hal yang membuat Kezia terlihat banyak diam sekarang?” tanyanya yang memperhatikan sikap Kezia yang beberapa hari terakhir ini lebih suka diam dan menyendiri.


“Saya kurang tahu tuan. Mungkin suasana hati nona Kezia sedang tidak baik. Akan saya caritahu apa yang membuat nona Kezia lebih banyak diam dan melamun” jawab Damian yang di angguki oleh William sembari menatap putrinya dari kejauhan. Sangat terlihat bagaimana wajah dan sorot mata Kezia yang begitu datar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Muka lo kusut banget Zi, minta di setrika ya itu mukanya. Lo kenapa sih kayak lagi banyak pikiran gitu. Lo ada masalah?” ucap Ameera yang duduk bersebelahan dengan Kezia. Keduanya saat ini sedang berada di ruang kelas sedang menunggu dosen yang akan menyampaikan materi.


“Hem. Aku nggak aapa-apa, Ra.”


Ameera mengerutkan keningnya melihat Kezia yang begitu diam dan datar hari ini. Ameera langsung meletakkan punggung telapak tangannya di dahi Kezia.


“Ga panas. Suhunya normal” ucapnya.


Kezia hanya diam saja ketika Ameera kembali beraksi dengan tingkah konyolnya.


“Kok lo nggak marah sih? Biasanya lo marah kalo gue giniin.”

__ADS_1


Kezia hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


“Ah lo ga seru. Nggak asik” pungkas Ameera kesal karena sikap Kezia.


Kezia sendiri tidak ambil pusing dengan kekesalan Ameera.


Tak lama sang dosen masuk ke dalam ruang kelas dan mulai memberikan pembelajaran kepada mahasiswa. Jika mahasiswa yang lain fokus dengan materi yang di sampaikan dosen lewat layar infokus, beda halnya dengan Kezia. Dirinya nampak berpikir ingin melakukan sesuatu hal sementara sang papa pergi ke luar kota.


Ia lalu memanggil Ameera. “Shttt…. Ra.. Ra…” panggilnya berbisik.


Ameera yang merasa di panggil langsung menoleh Kezia. “Apa?” ucapnya hanya dengan gerakan bibir, tidak menimbulkan suara.


“Nanti ikut aku ya pas siap siap kelas” ujar Kezia.


“Hah? Kemana?”


“Udah ikut aja nanti” putus Kezia. Setelah itu dirinya langsung fokus menatap infocus yang berisi tentang pembelajaran yang sedang di sampaikan dosen.


Membuat Ameera langsung kesal setengah mati. “Untung teman gue. Ngasitau kok setengah-setengah. Gue sumpahin umur lo setengah-setengah baru tau rasa lo.”


Kezia masih bisa mendengar umpatan yang di lontarkan sahabatnya itu, ia hanya mengulas senyum saja merasa tidak tersinggung dan menganggap umpatan Ameera itu hanyalah sebagai lelucon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selesai perkuliahan, Kezia langsung mengajak Ameera mendatangi sebuah apartemen.


Mereka baru saja sampai di basement parkir.


“Tidak ada” jawab Kezia singkat.


“What?” pekik Ameera langsung menghentikan langkahnya.


Sontak Kezia ikut berhenti juga.


“Terus kita mau ngapain ke sini Kezia Ludwig?” desak Ameera langsung menarik tangan Kezia untuk menuju lift lagi supaya mereka pulang saja kalau tidak ada hal yang mereka lakukan di sini.


“Sebentar, Ra. Temanin aku sebentar saja. Temanin aku ke resepsionist, ada yang ingin aku tanyakan” pintanya dengan mimik wajah memelas.


Ameera langsung bungkam, dan mau tidak mau harus ikut lagi karena Kezia yang menarik pergelangan tangannya.


Sampai di meja resepsionist, Kezia melirik sekitar untuk memastikan sesuatu.


“Ra, kamu tunggu di sofa aja” ucapnya langsung mendorong Ameera kea rah sofa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


Ameera hanya mengiyakan saja, tidak ada protes. “Cepat ya. Jangan lama-lama.”


Kezia langsung menanyakan sesuatu hal pada resepsionist yang bertugas dan tak butuh waktu lama Kezia kembali menghampiri Ameera yang tengah duduk dan sedang asik bermain gawai.


“Ayo” ajak Kezia langsung menarik tangan Ameera.

__ADS_1


“Kemana?” tanyanya bingung.


“Nanti kamu juga tahu sendiri” jawabnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tibalah mereka di lantai 18, Kezia melirik nomor apartemen XX dari kejauhan sembari memegang kartu yang sepertinya tentang detail pemilik apartemen no XX.


“Huftt…. Semoga dia ada” lirihnya tanpa sadar.


“Dia ada? Siapa maksud lo Zi?” Tanya Ameera penasaran.


“Nanti aja aku jelasin” tampik Kezia.


“Nggak. Lo harus jelasin sekarang. Sebenarnya kita datang ke tempat ini tujuannya apa?” desak Ameera langsung menahan lengan Kezia.


Kezia langsung menghela nafas kasar.


“Aku ingin memastikan sesuatu hal Ra” jawabnya


“Iya. Gue tahu. Tapi memastikan tentang apa. Zi, ingat lo jangan membahayakan nyawa lo sendiri” terang Ameera.


Ameera melirik seracik kertas di tangan Kezia dan langsung merebutnya.


“Ini apa, Zi? Apartemen siapa yang lo selidiki?” selidik Ameera langsung menatap sahabatnya dengan sorot mata tajam.


“Apartemen Richard” jawabnya.


“What the f*ck? Are you crazy?” Sentak Ameera langsung dengan suara meninggi.


Bahkan raut wajahnya langsung berubah panik dan cemas.


“Ayo pulang, Zi” ucap Ameera langsung menarik tangan Kezia.


“Ra, lepas. Gue belum memastikan orangnya ada apa engga” ujar Kezia langsung menepis tangan Ameera.


Dada Kezia seketika bergemuruh hebat. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


“Zi, lo kenapa sih. Jangan nekad deh. Please, gue takut lo kenapa-kenapa”


Ameera berusaha mengajak Kezia untuk kembali sebelum kedatangan mereka di lihat oleh Richard.


“Ra. Kamu mau tahu tidak cerita bagaimana aku sekarang” ucap Kezia pelan kala tangannya di tarik paksa oleh Ameera.


Ameera seketika langsung diam, menatap sorot mata sahabatnya yang Nampak sendu.


“Apa?”


“Aku tidak takut di khianati atau di bohongi lagi oleh seseorang, karena hal itu hanya membuktikan dirinya sendiri. Aku juga tidak takut di kecewakan lagi, karena hal itu sudah berkali-kali. Aku sudah terbiasa.”

__ADS_1


...----------------...


Next💗😘?


__ADS_2