
...“Tidak ada yang abadi, baik bahagia mau pun luka. Suatu saat kita akan tiba di titik menertawakan rasa yang dulu sakit atau menangisi rasa yang dulu indah."...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak menunggu waktu yang lama Richard langsung mendatangi kediaman William untuk membantu Kezia memberikan surprize pada William.
“Apa lama nantinya?” Tanya Richard yang baru sampai sembari menyerahkan box berisi kue yang mereka pesan tadi siang.
Kezia sendiri hanya mengangkat kedua bahunya acuh, “Aku tidak tahu. Bapak tunggu saja dulu” ujarnya begitu santai.
“Bisakah kau mengubah nama panggilan ku, tidak perlu memanggilku dengan sebutan bapak” ucap Richard merasa tidak suka di panggil dengan sebutan itu. Dia merasa amat sangat tua pikirnya.
Kezia yang hendak berlalu meninggalkan Richard yang sedang duduk di sofa sembari memperhatikan ruangan sekitar langsung terhenti dan mengulum senyum.
“Loh, kenapa? Bukannya itu memang pantas ya?.”
Richard yang mendengar penuturan Kezia langsung memasang muka masam, ya walaupun hampir setiap saat Richard juga selalu memasang muka masam.
“Aku tidak setua itu” ucapnya sambil mengambil majalah yang menganggur di atas meja.
“Hem, baiklah aku panggil Om saja” ucap Kezia sembari mengulas senyum tipis.
“Kau bukan keponakan ku” jawab Richard sembari membuka majalah yang sempat di ambilnya tadi.
“Hais, kenapa ribet sekali hanya karena perkara nama panggilan. Kalau gitu atur saja apa bagusnya.”
“Kakak. Panggil saja aku kakak.”
“Kakak?” beo Kezia.
“Hem, iya. Itu lebih baik.”
“Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Kak Richard ya” ucap Kezia dengan ekspresi wajah yang biasa saja namun hatinya bukan main sedang berbunga-bunga. Entahlah apa yang membuatnya berbunga-bunga.
Setelah mengatakan itu, Kezia langsung berlalu meninggalkan Richard seorang diri.
__ADS_1
“Dan aku akan memanggilmu Dek Zia” gumam Richard begitu pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lama menunggu William yang tak kunjung datang bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 00.45 WIB namun William belum juga pulang. Baik Kezia, Dania dan juga Richard sedang berada di kamar milik Kezia. Mereka sudah menyiapakan kue ulang tahun, hadiah dan jangan lupakan mereka bertiga menggunakan topi ulang tahun.
“Huaammm….. Apa masih lama?” Tanya Richard yang sepertinya sudah berada di fase bosan menunggu kedatangan seseorang yang belum ada hilalnya. Bahkan Richard sudah berkali-kali menguap.
“Tunggu sedikit lagi kak, Papa mungkin masih di jalan” jawab Kezia seyakin itu, walau dalam sudut hati kecilnya juga ada perasaan ragu apakah William akan pulang mala mini atau tidak. Namun, sebisa mungkin Kezia tepis.
Huaaammm…
Sekarang giliran Dania yang menguap lebar membuat Kezia langsung mengerucutkan bibirnya ke depan.
“Hehe, maaf Non. Nguapnya tadi refklek belum sempat breafing” ucap Dania mengelak.
“Ish, mana ada kalua nguap harus breafing dulu.”
Kezia hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan dari pelayan pribadinya itu.
Hingga tak berselang lama suara deru mobil hitam yang tak asing di pendengaran Kezia dan Dania masuk ke halaman mansion, memperlihatkan William turun dari mobil yang baru di buka oleh asisten pribadinya.
Ia langsung menuju meja untuk menyalakan lilin di atas kue ulang tahun.
Dania dan Kezia begitu kerepotan membawa segala barang di tangannya sementara Richard hanya diam saja memperhatikan kedua wanita tersebut mondar-mandir tidak jelas.
“Sungguh memuakkan” batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
William yang baru saja masuk ke kamarnya dan baru juga duduk di sofa hendak melepaskan sepatu pantofel sepertinya harus menunda dahulu perkara pintu kamarnya yang di ketok dari luar.
“Siapa? Apa mungkin Zain?” gumamnya sembari berjalan membuka pintu kamarnya.
Klek..
“Kez…”
__ADS_1
“Happy birthday Papa…” ucap Kezia begitu lembut bahkan matanya sudah berkaca-kaca hanya karena mengucapkan kalimat tadi.
Hening, tak ada balasan atau hal apa pun yang di ucapkan William.
William sendiri malah terpaku menatap Kezia anak gadisnya yang dulu begitu kecil sekarang sedang berdiri di hadapannya tengah membawa kue ulang tahun dengan lilin yang tengah menyala di angka 46.
“Selamat ulang tahun Pa, bahagia selalu untuk Papa. Jangan terlalu lelah kerjanya nanti bisa sakit. Ayo make a wish dulu Pa sebelum lilinnya semakin mengecil” ucap Kezia menatap William dengan wajah tersenyum hangat dan tangannya masih setia memegang kue ulang tahun.
Sebuah kalimat yang terbilang cukup sederhana namun itu benar-benar menggetarkan jiwa dari seorang William.
“Terima kasih sayangnya Papa” ucap William dengan nada bergetar menahan gejolak yang ingin tertumpah.
William langsung meniup lilin tak lupa dia melakukan make a wish terlebih dahulu.
“Kemarilah…” panggil William pada Kezia seraya merentangkan kedua tangannya.
Kezia langsung menyerahkan kue tadi pada Dania dan langsung berhambur ke dalam dekapan pria yang sudah berusia 46 tahum.
Sosok pria yang merupakan cinta pertamanya, sosok pelindungnya walau pun cara William menunjukan kasih sayangnya terbilang berbeda. Namun Kezia sangat tahu bahwa Papanya tetaplah menyayanginya.
“Bahagia selalu ya Pa” ucap Kezia dalam dekapan William.
“Papa akan bahagia jika Kezia gadisnya Papa bahagia” balas William mengusap pucuk kepala sang putri semata wayangnya.
“Ya, sepertinya harus begitu. Mari bahagia di jalan masing-masing tanpa mengingat dan menatap ke belakang lagi. Bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu” batin Richard berucap.
...----------------...
Next💗😘?
.
.
.
Jalani dan perankan dengan baik, tak perlu khawatir akan bagaimana alur cerita pada bab ini.
__ADS_1
Jalani saja dengan ikhlas, perankan saja dengan baik. Allah adalah sebaik-baiknya sutradara.
Happy monday yeorobun💗💗💫