Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 61


__ADS_3

...“Terkadang kau terlalu takut kehilangan sampai menjaganya terlalu kuat dan menggenggamnya terlampau erat. Kau lupa bahwa tiap-tiap yang pergi memiliki segudang alasan tidak peduli sekuat kau berusaha mempertahankan.”...


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Nela, Kezia dan Ameera berada didalam mobil, mereka sedari tadi hanya diam tak bersuara sama sekali. Terlebih Nela yang kebanyakan memilih menangis dalam diam, ia lebih memilih menatap diluar kaca jendela. Sementara Kezia, ia juga ikut diam saja karena bingung harus bersikap bagaimana.


“Mami, kita akan kemana?” tanya Ameera membuka suara.


“Hotel. Kita perlu istirahat sebentar” jawabnya seadanya. Ameera langsung mengangguk.


Tak menunggu waktu lama mereka sampai di salah satu hotel bintang 4 di kota Bandung.


Sebelum turun dari mobil, Ameera sempat menanyakan satu pertanyaan pada Nela.


“Apa mami yakin dengan keputusan yang mami ambil? Berpisah dengan papi?.”


“Ya, itu adalah keputusan yang terbaik.”


Setelah mengatakan itu, Nela langsung turun dari mobil dan menuju tempat resepsionis untuk melakukan check in.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kezia dan Ameera satu kamar sedangkan Nela satu kamar. Tiba dikamar Kezia dan Ameera langsung merebahkan badannya diranjang empuknya.


“Hufftt….. Melelahkan” keluh keduanya kompak.


“Zi, maaf ya. Harusnya lo ga disini melihat drama keluarga gue” ucap Ameera tak enak.


“Haissh, kamu ngomong apa sih Ra. Udah nggak usah mikirin begituan” balas Kezia.


Keduanya kemudian terdiam dan melamun hanyut dalam pikiran masing-masing.


Kezia langsung teringat Richard yang ia temui beberapa saat di sekitaran villa orang tua Ameera.


“Ra..” panggil Kezia.


“Hum.. apa Zi?” sahut Ameera yang menjawab namun dengan mata terpejam.


Dengan ragu-ragu Kezia menceritakan kalau ia bertemu dengan Richard disekitar pekarangan villa.


“What? Lo serius?” tanya Ameera memastikan.


Kezia lantas mengangguk, “Bener Ra, dia bahkan mengirim pesan padaku.”


Kezia langsung memperlihatkan isi chat dari Richard padanya tadi siang.

__ADS_1


“Kok dia bisa disini?”


Kezia hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore menjelang malam, Kezia dan Ameera datang ke kamar Nela. Mereka melihat Nela sedang sibuk berbicara dengan seseorang diseberang telepon, dan sepertinya mereka membahas hal yang serius.


Nela yang menyadari putrinya masuk kedalam kamarnya ia langsung menyelesaikan sambungan teleponnya.


“Iya, aku mau suratnya harus segera keluar malam ini dan dia juga harus menandatangani” ucapnya sebelumnya mengakhiri panggilan.


“Hai sayang, kalian berdua disini? Apa kalian lapar? Ayo makan bersama” ujar Nela basa-basi.


“Iyah Mi, kita barusan di sini. Mami barusan menghubungi siapa?” tanya Ameera penasaran.


“Pengacara Mami. Dia yang akan mengurus perceraian mami dan papimu, Ra” jawab Nela tersenyum.


“What? Are you seriously?


“Benar, Nak.”


Sebenarnya Ameera sedikit tidak suka dengan keputusan yang diambil oleh maminya, namun karena Nela sudah mantap, tak ada sedikit pun penyesalan atau pun keterpaksaan, Ameera hanya memberikan dukungan pada maminya. Menurutnya, biarlah orang tuanya menyelesaikan masalahnya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ameera dan Kezia masih berada di kota Bandung menemani Nela mami dari Ameera menyelesaikan segala pengajuan perceraiannya. Untungnya Yuda sang suami tidak memperpanjang atau membuat sedikit drama tentang perceraian mereka, ia langsung menyetujui dan menandatangani surat perceraian yang diajukan Nela melalui perantara pengacaranya.


Pagi ini mereka sedang sarapan pagi di restoran hotel yang mereka inap. Nela mulai membuka pembicaraan.


“Kapan kalian akan kembali ke Jakarta?”


Kezia yang sedang menyantap hidangannya langsung menoleh Ameera.


“Mungkin hanya Kezia yang akan kembali Mami, untuk Ameera tidak.”


Jawaban yang membuat Kezia dan Nela langsung menatap Ameera serius.


“Maksud kamu apa, Nak?”


“Iyah, Ra. Maksud dari perkataan kamu apa?” tanya Kezia pula.


“Iyah, gue udah mutusin kalo nggak akan tinggal di Jakarta. Bukankah setelah perceraian dengan Papi, Mami akan kembali ke Singapura seorang diri?”


Nela mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Ameera barusan. “Iyah memang benar. Jadi kaitannya dengan Mami apa?


Sejenak Ameera meletakkan garpu beserta sendoknya di piring kemudian menatap Nela dan Kezia bergantian.

__ADS_1


“Iyah, gue udah mutusin untuk ikut Mami ke Singapura nanti. Ameera nggak mau Mami kesepian. Ah dan ya, aku ingin menghabiskan waktu dengan Mami” jawab Ameera mengulas senyum.


Nela langsung terpaku terdiam menatap putrinya dengan tatapan berkaca-kaca, “Apa kamu yakin sayang? Apa kamu tidak membenci atau marah pada mami lagi?”


“Tentu saja tidak” jawab Ameera mantap. Ia sudah mengambil keputusan yang begitu sulit sebenarnya.


Untuk Kezia sendiri, perasaannya campur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena Ameera benar-benar membuka dirinya untuk menerima Maminya, namun dilain sisi ia juga sedih karena keputusan Ameera untuk ikut maminya di Singapura membuat Kezia harus kehilangan sosok sahabatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya mereka bertiga langsung ke Jakarta.


“Apa tante sama Ameera tidak mau mampir ke mansion dulu. Kenapa buru-buru sekali kembali ke Singapura?” ucap Kezia yang mengantarkan Ameera dan Nela di bandara. Ia ditemani oleh Papanya, William.


“Maaf, sayang. Ada beberapa hal yang harus kita urus di sana. Tenang saja, next time kita pasti akan bertemu” jawab Nela mengusap pelan lengan Kezia yang sepertinya sedang menahan diri untuk tidak menangis.


Ameera langsung memeluk sang sahabat Kezia, “Hiks…. Kita pisah lagi. Gue pasti bakalan merindukan lo. Lo harus jaga diri baik-baik ya.”


Keduanya memeluk sembari menangis.


“Hem, kamu juga. Jadi anak yang baik dan patuh ya sama mami kamu sekarang. Bahagia selalu di sana” ucap Kezia sendu.


Ameera langsung mengangguk.


Hingga tiba waktunya, Ameera dan Nela harus menuju ke ruang boarding, mereka harus segera masuk ke dalam boarding karena pesawat mereka akan segera berangkat.


Kedua wanita itu saling melambai dari kejauhan dengan tatapan sedih.


William yang ada disamping Kezia berusaha menenangkan sang putri dengan merengkuh membawanya kedalam dekapan.


“Hiks…. Kezia sedih, Pa. Kezia pasti akan merindukan Ameera.”


“Di lain waktu kalian bisa bertemu kembali sayang. Jangan menangis ya. Ayo pulang, putri Papa pasti sudah sangat kelelahan karena perjalanan jauh” imbuh William mengajak Kezia untuk pulang.


Kezia hanya mengangguk saja.


Selama dirinya berjalan kaki menuju mobil dan di gandeng oleh sang Papa. Kezia berpikir bagaimana perjalanannya selama ia ke Bandung. Jujur saja, ada hal yang bisa ia petik dari kejadian-kejadian yang di alaminya.


Untuk setiap masalah yang di laluinya dan juga Ameera sebenarnya hampir sama, tentang keluarga. Dengan kejadian itu, pribadi mereka dibentuk dengan begitu keras. Ya, namanya juga dibentuk pasti nggak enak. Ibaratnya sedang di pahat, pasti tersayat.


Bertumbuhlah baik-baik ya Ra, aku pun begitu. You will the best version of you.


Dan untuk memilih pasangan, Kezia mampu mengerti bahwa mencari pasangan bukan hanya karena cinta saja sekarang, segala aspek harus di pikirkan baik-baik.


Ternyata memang benar, dalam memilih pasangan itu nggak perlu cepat karena itu bukanlah pertandingan. Yang penting tepat. Seumur hidup itu lama, bukan waktu yang sebentar. Cari pasangan yang benar-benar menerima kita apa adanya tanpa menuntut suatu hal yang diluar kemampuan kita.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2