
...“Aku menemukanmu di antara luka, berkubang dengan sakit yang tiada tara. Iba tiba-tiba menyerang rasa sembari tertatih kau berkata, ‘jangan pandang aku dengan iba ketika kaki ini masih mampu menyangga luka. Maka pandang aku dengan bahagia, karena dari sakit ini aku belajar untuk tidak putus asa.”...
Happy reading💗😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sudah tidak terlalu sakit” jawab Kezia seadanya. Dirinya malah terdiam terpaku menerima pelukan dari Richard.
“Di tahan kangen, di ungkapkan juga aku sadar bukan siapa-siapa” batin Kezia menjerit ingin berteriak.
Akhirnya Kezia memberanikan diri untuk membalas pelukan dari Richard. Biarkan kali ini dia egois dan ingin mengekspresikan perasaannya.
“Zia…” panggil Richard di tengah pelukan mereka.
“Ya, apa?”
“Bisakah aku terus bersamamu seperti ini?” ucap Richard dengan nada melemah. Seakan ada perasaan sendu yang luar biasa kala Richard mengucapkan kalimat tadi.
Sejenak Kezia membisu. Semua kalimat yang di ucapakan Richard padanya sangatlah ambigu.
“Aku tidak akan pernah menjanjikan itu padamu, kak. Aku menggenggam dan memelukmu hari ini adalah sebuah kesempatan yang Tuhan berikan. Kita sama-sama tahu bukan bahwa pertemuan akan di akhiri oleh perpisahan” jawab Kezia jujur.
Mendengar penuturan Kezia barusan, Richard melonggarkan pelukannya pada Kezia untuk menatap wajah Kezia.
“Mengapa kau terlalu pasrah, Zia”
Seolah jawaban yang di berikan Kezia tadi tidak sesuai dengan keinginan hati Richard. Sementara Kezia yang mendengar penuturan Richard hanya mengangkat kedua bahunya.
Melihat itu, Richard hanya bisa menghela nafas pelan. “Mau ke taman?” tanyanya pada Kezia.
“Taman?” beo Kezia.
“Ya, di rumah sakit ini ada taman. Ayo ke sana Zia” ajak Richard antusias.
“Aku perlu izin Papa kak. Aku takut Papa akan mencari ku” jawab Kezia. Ia sudah tidak ingin membuat sang papa khawatir lagi untuk mencari keberadaannya.
__ADS_1
Richard yang mengerti akan hal kecemasan Kezia langsung mengangguk.
“Tunggu sebentar aku akan menghubunginya” tuturnya seraya mengambil ponsel di saku jasnya.
Tak lama Richard langsung menghubungi William untuk meminta izin membawa Kezia ke taman dan itu langsung di dengar oleh Kezia, William sendiri mengiyakan asal tidak terlalu lama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kenapa sepi?” tanya Kezia pada Richard yang sedang mendorong kursi rodanya. Mereka berdua sudah sampai di taman rumah sakit dan lumayan sepi. Ia memposisikan Kezia berada di dekatnya, dimana dia duduk di salah satu bangku taman yang kosong.
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Bukan kah itu lebih baik” jawab Richard asal.
Mendengar itu Kezia hanya mengangguk saja. Dia dari tadi lebih banyak diam untuk mengatur degup jantungnya yang tidak karuan.
“Zia…” panggilnya pelan.
“Hum, apa?”
“Langitnya nampak cerah bukan hari ini” ucap Richard seraya menatap ke arah langit yang memang cuacanya cukup cerah hari ini.
“Kakak suka langit?” tanyanya sembari menoleh pada wajah Richard yang nampak menikmati pemandangan langit cerah di depan matanya.
“Ya, aku suka senja dan aku pun suka langit, Zia” jawabnya sembari menoleh Kezia.
“Oh..” jawab Kezia ber-oh saja sambil manggut-manggut saja.
Richard menoleh Kezia, entah mengapa dia tertawa pelan kala melihat mimik wajah Kezia yang nampak bingung dengan penuturannya barusan.
“Kau tau tidak, mengapa aku suka langit?”
Dan di balas dengan gelengan kepala Kezia.
“Karena setiap aku melihatnya, aku tahu bahwa aku sedang menatap pada setiap doaku. Aku menatap tentang seberapa banyak umpatan ku tadi malam untuknya. Dan itu membuatku lebih tenang.”
“Bukankah dia tidak menjawab mu, kak?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Kezia membuat Richard tersenyum tipis. Tangannya terulur mengusap pelan kepala Kezia.
“Zia, terkadang apa yang kita sampaikan cukup untuk sekedar di dengar. Kita tidak melulu butuh jawaban tentang beberapa hal” jelasnya seraya menarik tangannya dari kepala Kezia.
Dan akhirnya Kezia mampu mengerti apa maksud dari Richard yang mengatakan dia menyukai langit.
“Cih. Kakak aneh sekali seperti anak senja saja” ucap Kezia di susul gelak tawa yang keluar dari mulutnya.
Tidak tanpa alasan dia mengatakan hal itu, sosok Richard yang diam, datar dan kaku sangat aneh saja jika menyukai semacam langit. Kezia pikir, Richard menyukai semacam olahraga nyatanya langit. Sedikit konyol menurutnya.
Kezia langsung membuka kemasan botol air mineral yang sempat dia bawa tadi dan meneguknya.
“Tidak masalah bukan. Semua orang bebas menyukai apa yang dia suka. Termasuk aku yang menyukaimu” tandas Richard.
Uhuk… Uhuk… Uhuk..
Kezia langsung terbatuk mendengar penuturan terakhir dari Richard.
“Menyukaiku?”
“Ya, aku menyukaimu” jawab Richard serius.
“Hahaha… Hahaha… bercandanya lucu sekali kak. Sudah hentikan leluconnya. Sangat tidak cocok dengan mimik kak Richard yang nampak datar itu” jawab Kezia berusaha tertawa walau jatuhnya nampak hambar.
Richard malah menyilangkan kedua tangannya di dada, “Aku serius Zia.”
“What?” pekik Kezia.
Sungguh banyak hal ucapan dan sikap yang di berikan Richard yang membuat Kezia berdebar sangat kencang. Sangat tidak aman untuk kesehatan jantungnya.
“Ayo pacaran.”
...----------------...
Next💗😘?
__ADS_1