Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 47


__ADS_3

...“Dia obat. Tapi aku meminumnnya melebihi dosis. Jadilah racun.”...


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Dia memblokir ku?” Tanya Richard pada dirinya sendiri.


Ia lantas kembali menatap kamar tersebut, ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan sekarang. Yang ia lakukan hanya menatap kamar tersebut dari jauh sembari menerka-nerka pada dirinya sendiri apa yang sedang di lakukan pemilik kamar tersebut di dalam sana.


Sementara pemilik kamar di dalam sana baru saja selesai berbincang dengan sahabatnya lewat sambungan ponsel.


“Huffttt…..”


Kezia menghela nafasnya dengan kasar, perkataan sahabatnya masih teringat jelas di ingatannya.


Lo berhak blok, delete contact, hide atau remove followers orang-orang yang buat lo sedih, termasuk dia, Richard. Yang merusak bahagia dan ketenangan jiwa lo, lakuin untuk diri lo dan itu bukan sesuatu hal yang childish kok, Zi.


Dan benar setelah Ameera mengatakan hal itu pada Kezia, Kezia langsung melakukannya. Karena pikirnya itu memang ada benarnya.


“Jika ternyata bukan aku seseorang yang kau inginkan. Maka aku akan menjadi seseorang yang tidak bisa kau miliki.”


Setelah itu, ia langsung mematikan lampu kamarnya.


Tidak tahu saja, kalau orang yang sedang ia pikirkan mati-matian juga sedang memantaunya dari kejauhan, tepatnya di luar mansion.


“Sepertinya dia sudah berencana mau tidur” ucap Richard.


Karena melihat sang pemilik kamar sudah mau tidur, akhirnya Richard meninggalkan mansion tersebut lewat motor sportnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Kezia sudah mulai menunjukkan keceriaannya lagi, tidak ada tatapan dan raut wajah yang sendu. Hari ini ia akan ke kampus untuk mengikuti perkuliahan.


Ketika ia menuruni tangga, di lantai satu sudah ada sang asisten, Damian yang tengah berdiri dan sepertinya sedang menunggu dirinya.


“Sedang menungguku?” ucapnya setelah sampai di lantai yang sama dengan Damian.


Mendengar itu, Damian hanya mengulas senyum seraya memberi hormat pada sang majikan.


“Mari sarapan, Nona” tutur Damian.


“Haish…. Mulai lagi deh, Om. Panggil Kezia saja jangan menggunakan embel-embel nona” protes Kezia langsung berkacak pinggang.

__ADS_1


Damian tergelak mendengar penuturan Kezia. Ia sangat paham bahwa Kezia sudah dari dulu memintanya untuk tidak di panggil dengan sebutan nona. Namun tetap saja kadang mulut selalu salah menyebutnya.


“Baiklah, Kezia” ucap Damian.


Mendengar itu, Kezia langsung mengulas senyum cerahnya.


“Ayo temani aku sarapan, Om” ajak Kezia pada Damian dan langsung di angguki oleh Damian.


Sejenak Damian melihat perubahan dari atasannya, sudah tidak ada sendu yang di perlihatkannya di mimik wajahnya.


“Apa ada sesuatu hal Kezia? Sepertinya suasana hatimu nampak bahagia sekali” ucap Damian pada Kezia yang sedang sibuk mengolesi selai pada roti tawarnya.


Kezia yang mendengar itu langsung menatap Damian, bahkan tangannya sejenak berhenti mengolesi selai di rotinya.


“Ya. Aku sedang bahagia, Om” jawabnya sembari mengulas senyum tipis.


“Benarkah? Bahagia karena apa?” Tanya Damian jadi penasaran.


Kezia sejenak tertawa hambar seraya melanjutkan mengolesi selai pada rotinya.


“Ya, aku bahagia dengan caraku menangani semua hal. Aku melakukan begitu banyak pertempuran diam-diam. Aku harus merendahkan diri, mengikhlaskan, bangkit sendiri, menyeka air mataku sendiri dan menepuk punggungku sendiri.”


Damian langsung menyerngitkan keningnya menatap Kezia.


“Hahaha… Sudah Om. Lupakan saja apa yang aku katakan tadi. Oh iya, Papa pulang hari ini kan?” Tanya Kezia langsung mengubah topik.


Mendengar itu, Kezia langsung mengulas senyum.


“Baiklah. Aku juga sudah sangat merindukan Papa” ucapnya seraya memakan roti tawarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


William baru saja sampai di mansion miliknya setelah melakukan perjalanan bisnis di temani oleh sang asisten, Zain.


“Zain…” panggil William pada sang asisten.


“Ya, tuan.”


“Pastikan dia tidak bisa mendekati putri ku lagi” ucap William datar namun penuh dengan penekanan.


Zain langsung mengangguk dan menyanggupi.


“Ah dan ya, teman dari Kezia. Tetap kalian jaga dan awasi. Takutnya dia akan menjadi sasaran murka dari kaparat sialan itu” jelas William lagi.

__ADS_1


Dan lagi Zain langsung mengangguk dan menyanggupi.


Setelah itu, Zain langsung berlalu meninggalkan sang tuan di ruang kerjanya.


Setelah kepergian Zain, William langsung melonggarkan dasinya yang menggantung di lehernya.


Ia lalu mengetuk-etuk jarinya di atas meja seraya menatap laporan yang di berikan detektif kemarin kepadanya.


William langsung merogoh saku jas nya mengambil ponselnya untuk menghubungi sang putri, Kezia bahwa dia sudah pulang. William juga tak lupa berpesan jikalau Kezia akan di jemput oleh sang supir beserta Damian. Jadi tidak perlu di antar oleh Ameera, temannya.


Setelah mengabari sang putri, William kembali terpaku pada informasi yang di berikan orang suruhannya. Tentang Richard dan James yang merupakan kakak beradik, Richard yang memanfaatkan Kezia dengan menjalin hubungan serta Ameera yang mengetahui niat buruk dari James dan Richard terhadap sang putri, Kezia.


Ya, semua informasi tersebut ia dapatkan dari orang suruhannya dan juga dari Zain. Zain yang memberi tahu kalau Ameera teman dari Kezia mengetahui jikalau Kezia hanya di manfaatkan semata oleh Richard kala menjalin hubungan. Sebenarnya Zain tidak akan tahu jika Ameera tidak datang menemui Zain di rumah sakit pasca mendengar pembicaraan antara James dan juga Richard di basement parkiran.


William akui teman dari Kezia ini sungguh berkualitas. Mengapa ia katakana demikian? Karena Ameera berani speak up mengatakan apa yang ia ketahui tentang rencana dari James dan juga Richard tanpa berpikir dia akan terlibat dalam masalah yang besar jika ia berani membuka mulut.


Bahkan Zain dan juga Damian meminta bantu kepadanya untuk memberitahu kepada mereka tentang apa rencana Kezia dan apa yang akan di lakukan dari temannya itu jika berhubungan dengan James atau pun dengan Richard.


Oleh karena itu, William meminta pada sang asisten, Zain untuk tetap menjaga dan mengawasi Ameera dari jauh takutnya terjadi sesuatu hal yang membahayakan nyawa gadis itu karena sudah berani membuka mulut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Lo langsung pulang, Zi?” Tanya Ameera pada Kezia kala waktu perkuliahan mereka sudah selesai.


“Iya. Aku langsung pulang. Dan lagi Papa sudah pulang, dia sedang menungguku” jawab Kezia langsung merangkul tangan sahabatnya untuk keluar dari ruangan kelas.


“Gue antar ya” tawar Ameera.


“Nggak usah, Ra. Aku di jemput sama Om Damian. Sepertinya dia juga sudah ada di parkiran menunggu ku” jelas Kezia.


Ameera yang mendengar itu hanya mengangguk saja, meski pun dia tidak mengantar Kezia sampai di mansion setidaknya sahabatnya ini tidak pulang lewat taksi. Tapi di jemput oleh sang asisten, itu berarti Kezia akan baik-baik saja.


“Oh iya, gimana sekarang perasaan lo. Udah enakan?” Tanya Ameera pada Kezia.


Hari ini Ameera bisa melihat Kezia terlihat baik-baik saja. Sudah tidak ada lagi wajah dan tatapan yang sendu.


“Aku sudah baik-baik saja, Ra” ucap Kezia sembari mengerlingkan sebelah matanya pada sahabatnya.


“Dih. Najis. Yang benar?”


Kezia langsung mengangguk mengiyakan.


“Benar. Aku sudah berhenti meminum obat yang menjadi racun itu dalam hidupku.”

__ADS_1


...----------------...


Next💗😘?


__ADS_2