Borgol Cinta Pak Polisi

Borgol Cinta Pak Polisi
Part 59


__ADS_3

...“Ada seorang perempuan yang diusap kepalanya, tapi yang runtuh malah air matanya.”...


Happy reading💗😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ameera!!! Dasar anak tidak berguna!!. Mulutmu masih saja mengeluarkan sampah. Kau memang tidak berguna sama sekali” ucap seorang pria yang baru saja datang dari arah ruang tamu menuju meja makan.


“Papi” lirih Ameera pelan.


Seorang pria yang bisa dipastikan itu adalah ayah dari Ameera. Pria tersebut langsung berjalan menghampiri meja makan.


Ameera sudah mengepalkan kedua tangannya sementara Nela langsung menghampiri Yuda sang suami untuk meredam emosi suaminya. Emosi Yuda sangat terlihat dari gurat wajahnya yang sudah memerah dan menatap Ameera dengan tatapan tajam.


“Mas, kenapa pulangnya cepat? Bukankah mas pulangnya kisaran sore” tutur Nela mengalihkan keadaan namun tetap saja sudah tidak bisa.


“Karena aku ingin melihat bagaimana sosok anak yang memang tidak ada gunanya ini apa sudah ada perubahan. Namun ternyata memang tidak ada perubahan bahkan sifat buruknya semakin menjadi.”


“Mas, sudah” ucap Nela. Ia melihat Ameera di sebelah sana sudah berkaca-kaca, seperti menahan air mata yang siap mengucur dipelupuk matanya.


“Sudah bagaimana Nela. Lihat mulut putrimu yang kau pertahankan itu. Busuk sekali melebihi sampah” ucap Yuda penuh emosi.


Ameera langsung pergi meninggalkan meja makan berjalan ke tangga dan masuk ke kamarnya tanpa ingin mendengar perdebatan papi maminya seperti yang sudah-sudah.


Sementara Kezia kikuk harus bagaimana. Mau tidak mau ia harus mengikuti Ameera ke dalam kemar. Namun sebelum ia masuk ke dalam kamar sayup-sayup ia mendengar perdebatan antara Nela dan Yuda yang merupakan orang tua dari Ameera.


“Sudah cukup, Mas selalu mengutuk dan mengumpat Ameera. Hanya karena dia terlahir sebagai anak perempuan dan kau menginginkan anak laki-laki. Dia sudah rapuh, jangan menambah lukanya lagi” desis Nela sendu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dilain sisi, ketika Kezia masuk kedalam kamar ia melihat Ameera tengah berbaring diatas ranjang menangis sesegukan. Posisinya tengkurang memunggungi Kezia yang mendekatinya duduk dibibir ranjang.

__ADS_1


Perlahan tangan Kezia menyentuh bahu sang sahabat, “Ra, nangisnya jangna tengkurap gitu napa, kasian spreinya kotor” ucap Kezia mencairkan suasana.


“Hikss.. Ga mempan, Zi. But, thank you udah mau ngehibur gue.”


Ameera kembali melanjutkan nangisnya, Kezia hanya bisa menghela nafasnya kasar bingung harus melakukan apa. Ia tahu betul bagaimana sakit dan hancurnya perasaan sang sahabat.


“Ra, kamu pernah dengar anggrek merpati nggal?” tanyanya. Namun tidak ada jawaban atau pun sahutan dari lawan bicaranya, Ameera. Namun Kezia tetap melanjutkan ucapannya, ia tahu meskipun Ameera tidak menjawab sang sahabat pasti akan mendengar apa yang ia sampaikan.


“Anggrek merpati itu cuma punya kesempatan mekar sekali sebelum besok layu dan gugur karena cuaca. Sama halnya seperti luka, hari ini lukanya merekah dan sakit banget. Tapi besoknya pasti enggak lagi. Darahnya bakal kering dan sakitnya akan berkurang.”


Sontak mendengar penuturan dari Kezia, Ameera langsung menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. Matanya merah dan sedikit bengkak akibat menangis terlalu lama, belum lagi semalam ia juga memuaskan dirinya menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan kekesalan hatinya.


“Apa memang begitu?”


Kezia langsung mengangguk. “Iya, tentu saja. Percayalah.”


“Hidup itu seperti membaca buku. Beberapa bab mungkin sedih, beberapa bab terlihat menyenangkan dan beberapa bab lagi terlihat menarik. Tetapi jika kamu tidak pernah membalik halaman, kamu tidak akan pernah tahu apa yang ada dibab berikutnya” lanjut Kezia lagi.


Ameera sendiri hanya menunduk lesu, seperti sedang meratapi nasibnya. Tak berselang lama, pintu kamar Ameera dibuka dari luar begitu pelan dan rupanya pelakunya adalah maminya.


Dari kejauhan Nela memberikan bahasa tubuh pada Kezia supaya ia dan Ameera diberi waktu berdua untuk biaca sebentar. Kezia langsung mengangguk dan berdiri mempersilahkan Nela untuk duduk di samping sang sahabat. Sedangkan dirinya, ia memilih untuk menunggu di balkon kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tangan Nela terulur mengusap pelan kepala Ameera yang sedang tertunduk, “Maafkan Mami, Ra.”


Sebuah kalimat yang keluar dari mulut Nela dan itu berhasil membuat Ameera mendongakkan kepalanya menatap manik mata sang ibu yang sudah berkaca-kaca.


“Terlambat” balas Ameera ketus. Ia kemudian menghempaskan tangan Nela yang mengusap kepalanya.


Mendapatkan perlakuan tersebut tentu membuat Nela terenyuh merasa sangat sakit mendapat perlakuan demikian. Tapi ia tahu disini Ameera tidak bersalah, Ameera hanya korban dari keinginan sang suami yang begitu besar.

__ADS_1


Nela langsung membawa Ameera kedalam dekapannya. Ameera tidak berontak tetapi malah membalas pelukan dari sang ibu. Keduanya langsung menangis menumpahkan segala pilu dihati masing-masing lewat isakan air mata.


“Kenapa, Mi? Tidak bisakah kalian menerimaku apa adanya?” tanya Ameera melemah.


Kalimat yang membuat Nela semakin merasa bersalah sebagai orang tua. Ia gagal menjadi ibu dan istri yang baik untuk anak dan suaminya.


“Maafkan Mami, Ra. Harusnya Mami selalu membelamu dan selalu berada disisimu dikala dunia sedang tidak berpihak padamu” ucap Nela penuh penyesalan.


Memang benar, selama ini ketika sang suami selalu memaki dan menghina Ameera karena terlahir sebagai perempuan, Ia juga ikut menghakimi bahkan mengutuk Ameera. Berharap dengan cara demikian emosi sang suami reda sedikit dan tidak memperpanjang masalah yang ada. Namun sepertinya Nela salah besar, seiring dewasanya Ameera, Yuda malah semakin membuat Nela serba salah apakah ia harus membela Ameera atau sang suami. Ditambah Ameera yang langsung melawan ketika Yuda memaki, mengutuk bahkan merasa sial sekali karena dikaruniai anak seperti Ameera, perkara terlahir sebagai anak perempuan.


Ameera hanya tersenyum kecut kala mendengar penuturan Maminya barusan. Ia langsung mengingat bagaimana sakitnya kala ia harus bersama kedua orang tuanya. Apakah boleh sesakit itu untuk menjalankan kehidupan?.


“Sudahlah, Mi. Sungguh Ameera sudah berada dititik paling capek. Ameera ingin pergi meninggalkan rumah yang seperti neraka bagi Ameera” ujar Ameera melerai pelukannya terhadap sang ibu.


Nela hanya mengangguk mengiyakan, dia juga tidak berniat menahan sang putri untuk tetap bertahan. Ia menghapus sisa air mata dipipi sang anak seraya tersenyum.


“Mami tidak akan menahanmu lagi, Ra. Lakukanlah jika itu memang yang terbaik untukmu. Ayo pergi dari rumah yang seperti neraka bagi mami terlebih untukmu.”


“Hah? Maksud mami?”


Ameera langsung bingung maksud dari perkataan Nela barusan. Apakah ibunya akan ikut pergi meninggalkan papinya?.


Nela hanya mengangguk mengiyakan.


“Ya, mungkin sudah saatnya mami menyerah, mami sudah muak dengan kehidupan keluarga kita yang terus menerus begini.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di luar balkon, Kezia sedang dudu disalah satu kursi dan menatap hamparan pemandangan pepohonan yang membuat matanya terpukau.


Namun itu hanya beberapa saat saja. Ia lalu menghela nafasnya kasar memikirkan bagaimana tentang Ameera selanjutnya.

__ADS_1


“Hfttt…. Pusing sekali” keluhnya dengan nada pelan. Ia lalu menatap pada bawah halaman, hanya sepintas saja. Namun pilihannya untuk menatap pada bawah halaman membuat dia langsung melototkan mata bahkan berulang melirik ke kiri dan ke kanan memastikan dia tidak mengigau.


“What!! Bagaimana bisa dia disini!!!


__ADS_2