
Dika mengelap bibirnya dengan selembar tisu yang baru saja ia tarik dari wadahnya setelah meneguk segelas air putih hingga tandas. "Jika kau sudah selesai makan maka cepat siapkan barang-barangmu!" Titah Dika menatap Hana datar. Dika mendorong kursinya ke belakang lalu bangkit dari duduknya. Ia pun berlalu begitu saja dari dapur.
Huek...
Hana menahan rasa mual yang sejak tadi mendera saat merasakan masakannya sendiri. "Aku tidak bisa memakannya. Ini sungguh tidak enak." Hana mendorong piringnya ke piring Dika. Kepalanya menggeleng beberapa kali saat melihat piring Dika sudah kosong tanpa tersisa. "Bagaimana bisa dia memakan nasi goreng buatanku yang sungguh tidak enak ini." Wajah Hana berubah sendu. Perasaan bersalah menyeruak di dadanya saat menyadari ia tidak bisa menjadi istri yang baik seperti Mamanya.
Hana segera bangkit dari duduknya lalu membawa piring kotornya dan Dika ke arah westafel untuk ia cuci. Setelah selesai ia kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan apa saja barang-barang yang harus ia bawa ke tempat tinggal barunya.
*
Hana menatap kagum pada sebuah bangunan rumah dua tingkat yang ada di depan matanya saat ini. "Rumahnya besar sekali." Gumam Hana memperhatikan sekeliling halaman rumah yang dapat ia jangkau.
__ADS_1
"Apa kau masih ingin berdiam diri di sini?" Tegur Dika dari arah belakang tubuhnya.
Hana tersentak. Pandangannya beralih pada Dika yang tengah menarik dua koper besar di tangannya. "Ini rumah siapa?" Tanya Hana dengan wajah polosnya.
Dika hanya diam sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah. Hana menghela nafas panjang. Lagi-lagi ia bertanya tentang sesuatu yang tidak mungkin Dika jawab. Ia pun mengikuti langkah Dika dari belakang masuk ke dalam rumah. Hana terus mengikuti langkah Dika hingga tiba di ruang tengah rumah.
"Kamar kita ada di lantai dua sebelah kanan. Jika kau ingin istirahat naiklah lebih dulu." Ucap Dika tanpa menatap wajah Hana.
"Apa kau tidak ikut naik?" Tanya Hana kembali.
Hana terdiam. Ia mengambil koper kecil milik Dika berniat untuk membawanya ke kamarnya. "Maaf, aku tidak bisa mengangkat koperku sendiri ke kamar. Tubuhku tidak kuat untuk mengangkatnya." Tutur Hana.
__ADS_1
"Tinggalkan koperku." Titah Dika tanpa membalas ucapan Hana.
Hana seketika meletakkan kembali koper kembali ke posisi semula. Ia memilih tidak lagi bersuara lalu naik ke kamarnya yang ada di lantai dua tanpa membawa apa-apa selain tubuhnya dan tas selempang kecil yang sejak tadi melekat di tubuhnya.
Sabar Hana... kau harus terbiasa dengan sikap dingingnya. Hana berusaha menguatkan hatinya sambil terus menaiki anak tangga menuju kamar yang ditunjuk Dika.
Ceklek
"Kamarnya besar sekali..." Hana dibuat menggeleng tak percaya saat melihat betapa luas kamar mereka. Kaki Hana terus melangkah masuk ke dalam kamar sambil memperhatikan setiap barang yang sudah tersusun rapi di dalam kamar.
"Sepertinya rumah ini masih baru." Gumam Hana menyimpulkan kondisi rumah yang menjadi tempat tinggalnya. "Apa benar ini rumah Dika? Rumah ini sungguh besar dan sangat mewah jika hanya ditempati oleh kami berdua." Hana dibuat menggeleng tak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini. "Dika... aku merasa semakin kerdil berada di sisimu." Guman Hana kemudian saat menyadari harga rumah yang kini diinjaknya pastilah sangat mahal.
__ADS_1
***
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹