
"Mama, apa tidak masalah Mama tinggal sendirian?" Hana nampak ragu untuk berangkat ke kampusnya pagi ini. Apa lagi melihat keadaan Mamanya yang nampak masih tidak baik-baik saja.
Mama Rita tersenyum lalu mengelus rambut Hana. "Mama tidak apa-apa. Pergilah Hana. Sudah tiga hari kau tidak datang ke kampus. Pasti sudah banyak urusan yang sudah kau tinggalkan demi Mama."
Hana terdiam. Mamanya memang benar. Beberapa hari tidak ke kampus membuatnya terlambat menyerahkan hasil perbaikan skripsinya kepada pembimbingnya.
"Apa Mama benar tidak apa?" Hana masih meragu.
"Mama baik-baik saja. Pergilah agar kau lebih cepat menyelesaikan urusan di kampus." Menggenggam tangan Hana guna meyakinkan Hana.
Hana terdiam dan berpikir. "Baiklah kalau begitu. Tapi Mama harus janji akan menghubungi Hana jika Mama membutuhkan Hana."
Mama Rita mengangguk meyakinkan putrinya. Setelah memastikan apa saja yang dibutuhkan Mamanya sudah ada di dalam kamar, Hana pun berpamitan pergi ke kampusnya.
"Aku harus cepat kembali untuk menemani Mama." Gumam Hana saat motornya sudah melaju di jalan raya. Hana pun menambah kecepatan motornya agar cepat sampai di kampusnya.
*
"Untung saja tiga hari ini Dika sedang berada di luar kota sehingga aku tidak perlu mencari alasan karena tidak datang ke kampus." Hana menghela nafas panjang. Kakinya jenjangnya melangkah melewati koridor kampus.
__ADS_1
"Hana..." suara teriakan seseorang memanggil namanya membuat Hana mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Amel?" Hana mengembangkan senyumannya melihat Amel tengah berlari ke arahnya.
"Hana..." Amel menabrak tubuh Hana lalu memeluknya erat. "Aku sangat mencemaskanmu." Lirih Amel.
Hana mengelus punggung sahabatnya. "Tenanglah. Aku oke." Balas Hana.
Amel melerai pelukannya lalu menggeleng. "Kau tidak oke, Hana."
Hana kembali tersenyum. Lagi-lagi ia berusaha berbohong pada sahabatnya yang jelas saja sudah dapat mengetahui kebohongannya.
"Bisakah tidak membahasnya di sini?" Hana mengarahkan pandangan pada teman-teman mereka yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Hana..." Amel kembali memeluk tubuh Hana barang sejenak. "Bagaimana keadaan Mama?" Wajah Amel nampak cemas.
Hana tertunduk. "Mama tidak baik-baik saja." Suara Hana terdengar melemah. "Mama sangat hancur kehilangan Papa." Lanjut Hana dengan bibir bergetar.
Amel menghela nafas sejenak. "Mama wanita yang kuat. Mama pasti bisa melewati ini semua bersamamu." Amel membawa tubuh Hana ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Air mata Hana mengalir. "Aku juga sangat hancur Amel. Tapi aku tidak bisa menunjukkan kehancuranku pada Mama. Siapa lagi yang akan menguatkan Mama jika bukan aku." Hana membalas pelukan Amel dengan erat.
Amel mengelus punggung Hana yang bergetar. Hana memang sangat sulit menyembunyikan rasa sakitnya pada sahabatnya.
"Kau harus kuat demi Mama Rita, Hana... jangan merasa sendiri, ada aku dan Anin yang akan selalu mendukungmu."
Hana melerai pelukan mereka. "Terimakasih Amel. Aku benar-benar tidak menyangka Papa melakukan hal sekeji itu." Hana menutup wajahnya yang basah.
"Jangan lagi membahasnya jika itu membuatmu terluka, Hana." Amel mengelus pundak Hana.
Hana mengangguk. Melepaskan tangannya dari wajahnya lalu menghela nafas panjang. "Aku harus segera menemui pembimbingku dan pulang. Aku tidak bisa meninggalkan Mama lama-lama." Hana menghapus air mata yang membasahi wajahnya dengan jari telunjuknya.
"Hana." Amel memegang lengan Hana saat Hana hendak pergi meninggalkannya.
"Ada apa?" Tanya Hana.
"Apa Dika sudah mengetahui semua ini?"
Hana menggeleng. "Aku belum memberitahukannya dan tidak ingin memberitahukannya tentang ini." Lirih Hana.
__ADS_1
***
Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk🌹