
"Dika?" Hana mengelus dadanya merasa terkejut melihat kedatangan Dika secara tiba-tiba.
"Siapa yang kau bilang ganas, hem?" Tanya Dika dengan tatapan mengintimidasi.
"Ti-tidak. Aku tidak ada mengatakan ganas." Bohong Hana. Sungguh ia merasa takut melihat tatapan Dika saat ini.
Dika tidak percaya begitu saja. Ia dekatkan wajahnya dengan Hana hingga Hana memejamkan kedua matanya. "Aku tahu kau sedang berbohong." Ucapnya lalu menghembus wajah Hana. Setelahnya Dika menjauhkan tubuhnya lalu berjalan ke arah ranjang untuk mengambil ponselnya.
Sedangkan Hana mengelus dadanya setelah kepergian Dika. Huh, bagaimana bisa dia tiba-tiba sudah berada di belakangku. Ucap Hana dalam hati. Hana pun kembali melanjutkan kegiatannya memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
"Cepat bersihkan tubuhmu karena sebentar lagi kita akan keluar membeli oleh-oleh." Perintah Dika.
"Apa? Oh astaga... aku melupakan jika kita belum membeli oleh-oleh." Hana menepuk jidatnya. Kemudian bangkit dari duduknya.
"Kau ingin kemana?" Tanya Dika.
"Tentu saja aku ingin ke kamar mandi." Balas Hana lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Melihat tingkah Hana membuat Dika menggelengkan kepalanya. Karena pasti setengah jam lagi istrinya itu dibuat bingung karena lupa membawa pakaian gantinya.
__ADS_1
Dan benar saja, setengah jam kemudian kepala Hana nampak menyembul dari pintu kamar mandi yang terbuka sebagian.
"Dika... bisakah kau mengambilkan pakaian ganti untukku?" tanya Hana dengan suara sedikit keras agar Dika mendengarnya.
Dika mengalihkan tatapan dari ponselnya pada Hana. "Kenapa aku harus mengambilkannya? Kau bisa keluar dari dalam kamar mandi seperti itu saja." Cetus Dika.
Mendengar ucapan Dika membuat Hana terbelalak. "Tapi aku hanya memakai handuk dan itu sangat—" ucapan Hana terputus karena Dika menyangkalnya.
"Kau tidak perlu malu karena aku sudah melihat bahkan merasakan tubuhmu." Ucap Dika dengan wajah datarnya.
Apa? Yang benar saja dia berkata seperti itu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Hana menghela nafas panjang. Mau tidak mau ia pun keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk melilit sebagian tubuhnya.
Mendengar rintihan Hana membuat Dika sontak berdiri dari duduknya. "Dasar ceroboh!" Cetus Dika setelah berjongkok di depan Hana.
"Kakiku sakit sekali..." ringis Hana.
"Bisakah kau berjalan menggunakan mata dan kakimu dengan benar?" Tanya Dika. Tangannya pun bergerak meraih kaki Hana lalu memijitnya.
Hana terdiam. Jantungnya berdegub begitu kencang merasakan hangatnya tangan Dika yang kini memijat kakinya.
__ADS_1
"Segera pakai bajumu karena waktu kita tidak banyak!" Perintah Dika setelah memijit kaki Hana.
Hana mengangguk lalu bangkit dari duduknya. "Kenapa kakiku tidak sakit lagi?" Tanyanya sambil menggoyangkan kakinya ke kiri dan ke kanan. "Apa dia memiliki bakat seorang tukang urut?" Tanya Hana lalu tertawa kecil.
*
"Dika, tunggu aku..." Hana berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah Dika keluar dari dalam ruangan bandara sambil menyeret koper milik Dika.
Dika hanya diam sambil terus berjalan keluar tanpa memperdulikan teriakan Hana. Namun langkahnya seketika terhenti saat melihat sosok kedua sahabatnya baru saja keluar dari dalam mobil.
"Hai Dika... Hana..." sapa William dengan senyuman jahilnya.
"Hai William." Balas Hana. Sedangkan Dika hanya diam sambil menatap tajam pada William dan Gerry.
"Bagaimana bulan madu kalian? Apa berjalan dengan lancar?" Tanya Gerry sambil menaikkan sebelah alis tebalnya.
***
Lanjut? berikan vote, like dan komennya dulu yuk☺️
__ADS_1
Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_