
"Aku hanya memberitahumu bukan meminta pendapatmu. Mau tidak mau kau harus menikah denganku." Ucap Dika dengan tegas.
"Tidak. Aku tidak mau! Menikah bukanlah jalan yang tepat keluar dari masalah ini." Hana masih bersikeras untuk menolak.
"Sudah aku katakan aku tidak meminta pendapat darimu." Dika menatap Hana tajam. Rasanya ia sungguh geram mendapatkan penolakan dari mantan kekasihnya itu. Harusnya di sini ia lah yang menolak untuk menikahinya.
"Tapi—" ucapan Hana menggantung di udara saat Dika memotongnya.
"Kau tahu sendiri akibatnya jika kau tidak ingin menikah denganku." Ancam Dika.
Hana terdiam. Hal itulah yang sejak kemarin mengganggu pemikirannya. Ia sangat takut kejadian beberapa hari yang lalu berefek pada pekerjaannya.
"Apa kau pikir aku mau menikah dengan wanita pengkhianat seperti dirimu?" Ucap Dika kemudian.
__ADS_1
Deg
Hana mengangkat kepalanya. Menatap Dika dengan tatapan tak terbaca. Hatinya benar-benar sakit mendengar penghinaan Dika padanya.
Sadar dengan perubahan ekspresi wajah Hana, Dika pun kembali melanjutkan ucapannya. "Harus kau ingat jika pernikahan kita nantinya hanya sekedar menikah. Aku tidak akan mengatur kehidupanmu begitu pula denganmu. Kau bebas melakukan apa pun yang kau mau selagi itu tidak merugikanku." Dika mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. "Baca ini." Menyerahkan selembar kertas pada Hana. "Di kertas itu sudah tertulis peraturan apa saja setelah kita menikah nanti."
Hana membaca setiap goresan tinta yang tertulis di dalam surat perjanjian pernikahan mereka. Hana dibuat tak menyangka jika Dika membuat banyaknya peraturan yang berefek tidak baik dengan kondisi hatinya.
"Pergilah. Aku rasa kau sudah cukup paham dengan perkataanku saat ini." Usir Dika.
Kening Dika mengkerut. Tidak paham dengan pertanyaan Hana yang terkesan ambigu.
"Kenapa kau bersikeras ingin menikahiku jika kau tak ingin? Bukankah kau bisa meminta bantuan pada orang yang bisa kau andalkan untuk mencari bukti jika kau tidak bersalah?" Tanya Hana dengan pelan.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki waktu untuk itu." Kilah Dika. *Lagi pula hanya dengan menikahimu Mama dan Papa mau memaafkanku. *Lanjut Dika dalam hati.
Hana menghela nafas panjang. Melihat keseriusan Dika saat ini, ia yakin jika penolakannya akan berujung sia-sia. "Baiklah. Aku setuju. Tapi kau harus ingat poin terakhir jika hubungan kita nantinya bisa berakhir sewaktu-waktu jika kau dan aku pada akhirnya tidak memiliki kecocokan satu sama lain." Ucap Hana menahan sesak di dadanya.
Dika menatap dalam kedua bola mata Hana yang sudah tergenang. Ia pun akhirnya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Hana membalikkan tubuhnya. "Aku pergi dulu." Ucapnya lalu melangkah keluar dari ruangan Dika tanpa menunggu Dika membalas ucapannya.
Hatinya benar-benar sakit mendengar Dika menikahinya hanya untuk keluar dari permasalahan yang sedang mereka hadapi. Terlebih pada surat perjanjian yang kini dipegangnya.
Setelah menutup rapat pintu ruangan Dika, Hana mengusap pipinya yang sudah basah teraliri air mata. "Hana... ini adalah bayaran atas sikap burukmu dulu pada Dika. Mungkin dengan cara ini kau bisa membayar rasa sakit hati Dika dulu padamu." Hana hanya bisa menguatkan hatinya.
Di dalam ruangannya, Dika nampak tak mengalihkan tatapannya dari pintu yang sudah tertutup rapat. Walau pun dapat merasakan Hana terluka karena ucapannya, namun Dika berusaha tak memperdulikannya.
__ADS_1
***
Jangan lupa berikan vote dan giftnya di hari senin ya🌹