Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Terimakasih, Sayang


__ADS_3

Suara tangisan bayi yang terdengar bersautan menggema memenuhi ruangan persalinan Hana siang itu. Ya, setelah melewati beberapa jam menuju pembukaan sempurna, akhirnya kedua bayi mungil yang sudah sembilan bulan bersemayam dalam perutnya pun akhirnya lahir ke dunia.


Suasana haru menyelimuti Hana dan Dika karena untuk pertama kalinya mereka berjumpa dengan dua malaikat kecil yang sudah beberapa bulan belakangan ini dinantikan kelahirannya.


"Sayang... anak kita..." Hana menangis haru menatap kedua bayinya yang kini berada digendongan suster.


"Ya... mereka adalah anak kita." Balas Dika yang turut tak dapat membendung air matanya.


Kedua bayi mungil itu pun akhirnya dibawa untuk dibersihkan sebelum kembali diberikan kepada Hana. Selama pemulihan pasca persalinan, Dika tak sedikit pun meninggalkan Hana walau hanya sejenak keluar untuk melihat keluarganya yang masih menunggu di luar. Pria yang sudah berstatus sebagai seorang ayah itu begitu takut meninggalkan sang istri yang sudah bertaruh nyawa saat melahirkan kedua anaknya tadi.


"Sayang... keluarlah jumpai Mama dan Papa." Ucap Hana untuk kesekian kalinya.


Dika menggeleng. "Sebentar lagi kita akan bertemu dengan mereka." Balas Dika.

__ADS_1


Hana diam dan tak lagi bersuara. Karena percuma saja ia menyuruh Dika melakukan sesuatu yang tidak ingin pria itu lakukan saat ini.


"Terimakasih karena telah berjuang dan bertahan sejauh ini. Aku sangat mencintaimu. Sungguh mencintaimu." Ucap Dika begitu tulus.


Bulir air mata kembali mengalir di kedua sudut mata Hana. "Tidak perlu berterimakasih. Ini adalah kodratku sebagai seorang wanita. Dan bertahan adalah caraku untuk menunjukkan jika aku juga mencintaimu." Balas Hana pelan.


Kedua sudut bibir Dika melengkung sempurna. "Aku sangat mencintaimu." Ucap Dika lalu mengecup singkat bibir Hana dan beralih mencium kening Hana cukup lama. Kemesraan di antara mereka pun harus terhenti saat beberapa suster kembali datang untuk membawa Hana pindah ke ruangan perawatan.


Hana memberikan senyuman manisnya membalas ucapan keluarga dan sahabatnya.


"Sayang, aku akan segera menyusul." Ucap Dika saat suster kembali melanjutkan mendorong brankar Hana menuju ruangan perawatan.


Hana mengangguk sebagai jawaban karena ia sudah paham apa yang ingin Dika lakukan saat ini. Setelah kepergian Hana, pandangan Dika pun beralih pada Mama Puspa yang kini sedang menatap ke arahnya. Tanpa mengucap satu kata pun, Dika membawa tubuh wanita yang telah melahirkannya itu ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Di dalam tadi sungguh mengerikan." Ucap Dika pelan yang sudah menangis tanpa memperdulikan saat ini masih ada kedua sahabatnya di sana.


Mama Puspa tersenyum mendengarnya. Ia sudah paham arti ucapan putranya saat ini.


"Terimakasih Mama. Maaf jika selama ini Dika ada menyakiti hati dan perasaan Mama." Lirih Dika.


Tangan Mama Puspa terangkat mengelus punggung Dika. "Jika kau sudah tahu beratnya peran istrimu saat melahirkan anak-anakmu maka jangan pernah berniat untuk menyakiti hatinya lagi." Ucap Mama Puspa.


Dika mengangguk. "Dika tidak akan lagi menyakitinya karena Dika sungguh mencintainya dan anak-anak kami." Balas Dika lalu semakin mengeratkan pelukannya.


"Apa kau masih ingin berada di sini tanpa berniat menyusul istrimu dan kedua anak- anakmu?" Ucap Papa Indra dengan nada meledek.


***

__ADS_1


__ADS_2