Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tidur bersamamu


__ADS_3

"Aku akan terus menangis karena aku sangat takut!" Balas Hana.


Dika menghela nafas panjang. Melepas tangannya dari pundak Hana lalu mengusap kasar wajahnya.


"Aku sungguh mengantuk. Bisakah kau untuk diam dan kembali ke kamarmu?" Tanya Dika.


Hana menggeleng cepat. "Aku tidak ingin kembali. Di kamar itu ada hantu." Tolak Hana.


Dika hendak menjawab namun ia urungkan saat lampu apartemennya sudah kembali hidup. Pandangan Dika pun jatuh pada wajah Hana yang nampak basah karena air mata.


"Kau bukan anak kecil lagi. Kenapa kau masih saja takut jika mati lampu seperti ini." Kepala Dika menggeleng.


"Aku menangis bukan hanya karena takut mati lampu! Tapi juga takut pada hantu di apartemenmu ini." Sembur Hana. Walau pun masih menangis, Hana tetap bisa membalas perkataan Dika dengan sengit.


"Hantu, hantu. Tidak ada hantu di sini." Balas Dika.


"Ada! Kau ini sungguh tidak percaya sekali denganku!" Cetus Hana.


Dika mengusap kasar wajahnya. Berdebat dengan Hana hanya akan menambah sakit di kepalanya.


"Lebih baik kau kembali ke kamarmu karena aku ingin tidur." Titah Dika.

__ADS_1


Hana menggeleng. "Aku tidak mau. Aku ingin tetap di sini." Tolak Hana. Mengambil guling di sampingnya lalu memeluknya erat.


"Wanita ini benar-benar memancing emosiku." Gumam Dika. Melihat wajah Hana benar-benar ketakutan, Dika pun tak lagi menyuruh Hana untuk keluar.


"Jika kau ingin tidur di sini tidurlah. Aku akan tidur di ruang tamu." Ucap Dika.


Hana kembali menggeleng. "Aku tidak mau. Aku takut tidur sendiri. Kau harus tidur di sini!" Pintanya.


"Kau jangan bercanda. Bagaimana bisa kau memintaku tidur bersamamu. Kau benar-benar gila!" Wajah kaku Dika terlihat mulai kesal.


Hana kembali menangis dengan kencang. "Kenapa kau membentakku? Aku hanya takut sendirian." Suara Hana terdengar parau.


Lagi-lagi Dika hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Hana.


"Tapi—" Hana yang hendak protes mengurungkan niatnya melihat tatapan tajam dari Dika.


Melihat Hana tak lagi berbicara, Dika pun melangkah menuju sofa yang ada di kamarnya. Untung saja sofa di dalam kamarnya cukup panjang hingga tubuhnya muat tidur di atas sofa.


Dari atas ranjang Hana memperhatikan pergerakan Dika dengan mata kembali tergenang.


Dia baik sekali. Batin Hana merasa tidak enak.

__ADS_1


"Tidurlah." Ucap Dika menatap pada Hana yang kini tengah menatapn intens wajahnya.


Hana menganggukkan kepalanya. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.


Kenapa selimut dan bantalnya harum sekali. Aku jadi sangat nyaman tidur di ranjang yang bukan milikku ini." Hana membatin.


*


Pagi itu Hana terbangun dari tidurnya saat merasa cahaya matahari mulai menyapu wajahnya.


"Sudah pagi?" Hana menguap. Memperhatikan sekita namun tak menemukan keberadaan Dika


"Hoam..." Hana menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


"Dimana Dika? Kenapa dia tidak ada?" Gumam Hana saat menyadari tidak ada siapa-siapa di dalam kamar Dika selain dirinya.


Hana buru-buru turun dari ranjang lalu melangkah keluar dari dalam kamar.


Saat baru saja melangkah keluar dari dalam kamar, langkah Hana terhenti saat melihat Dika kini tengah berbicara denga seekor kucing yang nampak memggemaskan di matanya.


***

__ADS_1


Jangan lupa berikan like, komen dan votenya untuk lanjut ke bab berikutnya🌹


__ADS_2