
"Kak Arka hentikan!" Hana berupaya menghentikan Arka yang terus menarik tangannya.
"Diamlah dan menurutlah, Hana. Kau akan menyesal jika tidak menurut seperti ini." Arka terus menarik tangan Hana hingga mereka kini menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Kak Ar—" ucapan Hana terhenti menjadi ringisan saat keningnya menabrak pundak Arka. "Kak Arka kenapa berhenti mendadak?" Gerutu Hana sambil mengelus keningnya.
Arka hanya diam karena saat ini dirinya tengah beradu tatap dengan pria yang berdiri tidak jauh dari mereka berada.
"Kak Arka kenapa di—" ucapan Hana kembali terhenti saat matanya menangkap sosok Dika yang tengah menatap tak ramah pada mereka.
"Apa kau ingin memeriksa keadaanmu bersamanya?" Tanya Arka.
"Aku..." Hana nampak ragu. Keraguannya pun akhirnya terbuang begitu saja karena Dika sudah berlalu dari hadapan mereka begitu saja.
"Sudahlah... ayo masuk." Ajak Arka melihat Hana yang kini terlihat bersedih setelah kepergian Dika.
Hana menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Arka masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
*
"Kau dengar itu Hana? Kondisimu saat ini sangat rentan untuk kau terlalu banyak berpikir." Ucap Arka setelah keluar dari ruangan pemeriksaan.
__ADS_1
Hana hanya diam dengan kepala tertunduk. Ia pun membenarkan ucapan dokter yang baru saja memeriksanya. Terlebih beberapa hari ini perutnya sering terasa keram saat ia terlalu memikirkan sikap dingin Dika kepadanya.
"Kak Arka, sepertinya aku akan izin pulang lebih awal hari ini." Ucap Hana setelah cukup lama terdiam.
"Menurutku itu lebih baik." Balas Arka.
Hana mengangguk. "Kalau begitu aku pamit kembali ke ruanganku lebih dulu. Dan terimakasih atas kebaikan Kakak telah membawaku ke sini." Ucap Hana.
Arka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah mendapat jawaban dari Arka, Hana pun melangkah dengan lesu menuju lift untuk turun menuju ruangannya.
"Hana... kenapa kau terlihat begitu menyedihkan akhir-akhir ini? Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu hingga kau sampai mengabaikan keberadaan mereka?" Gumam Arka bertanya-tanya.
*
Pemikiran Hana pun melayang memikirkan sikap Dika yang semakin tak tersentuh akhir-akhir ini. Hana paham jika saat ini Dika begitu kecewa dengan kebohongannya. Tapi di balik itu semua ia pun turut kecewa dengan diamnya Dika yang bahkan tidak menyadari adanya perubahan pada tubuhnya.
"Dika... apa kau benar-benar tidak dapat merasakan kehadiran mereka?" Hana mengelus perutnya dan wajah berubah sendu. Bulir air mata pun tanpa terasa mulai jatuh membasahi wajah cantiknya. "Sepertinya benar kalau aku harus menenangkan diriku lebih dulu atau mereka yang akan menjadi taruhannya." Hana kembali mengelus perutnya dengan sayang.
Siang itu Hana memilih mengistirahatkan hati dan pemikirannya dengan tidur hingga gelapnya malam mulai menyambut.
Ceklek
__ADS_1
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Hana yang masih malas membuka kedua kelopak matanya pun akhirnya membuka kedua kelopak matanya.
"Dika." Gumam Hana lalu bangkit dari pembaringannya. "Dika tunggu!" Hana memberanikan diri memegang lengan Dika yang hendak melewatinya. Melihat tatapan Dika yang seolah bertanya ada apa membuat Hana memberanikan diri mengungkapkan keinginannya.
"Besok pagi aku ingin pamit pergi ke rumah Mama." Ucap Hana dengan wajah tertunduk.
Dika hanya diam hingga membuat Hana mengangkat wajahnya.
"Pergilah." Ucap Dika lalu melepaskan tangan Hana yang masih memegang lengannya.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.