
Mentari pagi yang sudah naik ke peraduannya bahkan cahaya kini menyelinap masuk dari celah jendela tak membuat Hana terbangun dari tidurnya. Sedangkan seseorang yang tengah memeluk tubuh polos Hana mulai mengerjap menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam matanya.
"Sudah jam berapa ini?" Suara Dika terdengar serak. Menolehkan wajahnya ke samping untuk melihat jam gantung. "Jam tujuh pagi?" Gumamnya sedikit terkejut. Dika melepas tangannya yang berada di pinggang Hana lalu bangkit dari pembaringannya dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur Hana. Dika sedikit meringis merasakan perih di punggungnya akibat cakaran kuku panjang Hana untuk menyalurkan rasa kesakitannya tadi malam.
Sejenak Dika menatap wajah Hana yang nampak lelap dalam tidurnya lalu turun pada leher Hana yang banyak terdapat bekas percintaan mereka. Senyuman tipis nampak tercetak di sebelah sudut bibir Dika. Dika segera memutuskan pandangannya saat selimut yang menutupi tubuh Hana mulai turun akibat pergerakan Hana yang membuat dadanya sedikit kelihatan. Tak ingin berpikiran kotor di pagi hari dan kondisi Hana yang masih terlelap, Dika pun memutuskan untuk segera berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak lama setelah kepergian Dika masuk ke dalam kamar mandi, Hana pun mulai menggeliat. Sinar mentari yang kini menerpa penuh wajahnya membuat tidur Hana terganggu. Perlahan kedua kelopak mata Hana pun terbuka. Hana menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam kedua bola matanya lalu mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan.
"Aku ada di Bali." Gumamnya lalu meregangkan otot-ototnya. Beberapa detik kemudian Hana hampir saja berteriak saat menyadari jika kini tubuhnya tengah polos tanpa satu benang pun. Hana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat mengingat apa yang membuatnya seperti ini.
__ADS_1
"Di-dika... ternyata tadi malam itu tidak mimpi." Wajah Hana mulai memerah mengingat adegan panas mereka tadi malam. Terlebih Dika yang terlihat sangat agresif menguasai tubuhnya hingga membuat Hana merasa melayang.
"Aku sudah menyerahkannya kepada pria yang aku cintai." Bibir Hana sedikit melengkung. Walau Dika melakukannya mungkin tanpa dasar cinta, namun Hana tetap merasakan bahagia karena telah menyerahkan mahkotanya pada pria yang sangat dicintainya.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat perhatian Hana teralihkan ke sumber suara. Hana menundukkan wajahnya. Ia sungguh merasa malu saat matanya menangkap sekilas dada bidang Dika yang banyak terdapat bekas kecu-pannya tadi malam.
Dika buru-buru melangkah mendekat ke arah Hana. "Kau mau apa?" Hana dibuat gugup saat Dika memegang kedua bahunya.
"Berdirilah." Titah Dika tanpa membalas ucapan Hana.
__ADS_1
"Sakit sekali..." rintih Hana lagi. Air matanya pun menetes begitu saja.
Dika menghela nafas sesaat lalu kemudian membawa tubuh Hana ke dalam gendongannya setelah melepaskan selimut yang menutupi tubuh polos Hana.
"Dika, apa yang kau lakukan!" Hana dibuat terkejut dengan pergerakan Dika secara tiba-tiba.
Dika hanya diam sambil terus melangkah ke arah kamar mandi. Dika pun mengabaikan handuk yang menutupi bagian tubuh bawahnya terjatuh di atas lantai akibat pergerakan Hana.
***
__ADS_1