
Dika meletakkan kembali ponsel Hana di atas nakas lalu kembali duduk di posisi semula. Setelah melihat pesan masuk di ponsel Hana wajahnya terlihat semakin dingin. Dika menghembuskan nafas kasar di udara. Seolah apa yang baru saja dilihatnya cukup menguras emosinya. Dika memutuskan untuk menutup laptopnya lalu berbaring di atas ranjang.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi yang terbuka tak mengalihkan pandangan Dika dari langit-langit kamarnya.
Tring
Notifikasi pesan masuk kembali terdengar di ponsel Hana. Dika sontak menatap pada Hana yang kini tengah berjalan menuju nakas. Senyuman tipis nampak terbit di bibir istrinya setelah membaca pesan masuk di ponselnya.
Dika tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Melihat senyuman istrinya dikarenakan melihat pesan dari teman prianya membuat darah Dika mulai mendidih. Sedangkan Hana, tanpa menyadari tatapan dingin suaminya ia terus berbalas pesan dengan Arka di seberang sana lalu memutuskan mengakhiri pesan mereka saat matanya sudah benar-benar tidak bisa diajak berkompromi.
*
Hana terlihat berjalan terburu-buru mengejar langkah pria yang kini tengah berjalan di depannya. Senyuman manis terlihat menghiasi wajah cantiknya saat ia sudah berada dekat dengan pria yang dikejarnya.
"Kak Arka!" Hana menepuk pundak Arka hingga membuat Arka terkejut.
Arka sontak membalikkan tubuhnya. "Hana..." Seru Arka menatap wanita yang telah mengejutkannya.
"Kak Arka... Kakak sudah bekerja hari ini?" Hana memperhatikan penampilan Arka yang menggunakan jas dokternya.
__ADS_1
Arka mengangguk seraya tersenyum. "Ya, hari ini aku sudah bekerja di sini." Balas Arka.
"Benarkah?" Bibir Hana melengkung sempurna.
Arka mengangguk membenarkan. "Lagi pula semua berkas yang aku perlukan sudah siap dan aku sudah dipersilahkan untuk kembali bekerja di sini." Tutur Arka.
Hana mengangguk paham. Ia dan Arka pun kembali berjalan dengan beriringan.
"Hana, bagaimana untuk merayakan kembalinya aku bekerja di sini kita makan siang bersama di resto yang berada di seberang rumah sakit." Tawar Arka saat mereka sudah berada di depan pintu ruangan Hana.
Hana terdiam dan berpikir.
Hana seketika mengangguk. Sejak dulu ia memang selalu berupaya agar tidak makan bersama hanya berdua saja dengan seorang pria.
"Baiklah. Nanti siang aku akan membawa Fitri ikut bersamaku." Putus Hana kemudian.
Arka tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Kalau begitu aku masuk dulu." Ucap Hana.
"Sampai bertemu nanti siang." Balas Arka yang diangguki oleh Hana.
__ADS_1
Anak itu... kenapa dia selalu terlihat enggan jika diajak makan berdua saja? Batin Arka bertanya-tanya.
*
Dika terlihat sedang duduk bersama Gerry dan William menikmati makan siang dalam keheningan. Beberapa lembar tisu ia tarik saat ia telah menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya. Sedangkan Gerry dan William masih asik menikmati makanan mereka masing-masing. Sembari menunggu Gerry dan William menghabiskan makanan mereka, Dika memilih membalas beberapa pesan masuk ke dalam ponselnya.
Gerry yang sudah menghabiskan makanannya pun mengelap bibirnya dengan tisu yang baru saja ia tarik. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok yang baru saja masuk ke dalam resto bersama seorang pria yang pernah dilihatnya.
"Dika, bukankah itu Hana?" Ucap Gerry dengan pelan.
Dika seketika mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk. Dan benar saja, di sana ia melihat Hana terlihat sedang berjalan sambil bercanda tawa dengan pria yang ada di sebelahnya.
Pria itu... Dika menggeram dalam hati.
"Bukankah dia adalah pria yang bersama Hana di rumah sakit beberapa hari yang lalu?" Tanya Gerry namun Dika tak menjawabnya.
Bagaimana bisa dia tertawa seperti itu untuk pria lain sedangkan dia enggan untuk tertawa di depanku!
****
Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹
__ADS_1