Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
(End) Berdamai dengan masa lalu


__ADS_3

Hana menatap gundukan tanah yang masih basah di depannya dengan tatapan kosong. Sudah sejak satu jam yang lalu ia berada di rumah peristirahatan Papanya yang terakhir tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hana lebih memilih diam dan mengungkapkan isi hatinya saat ini lewat tatapan matanya.


"Hana..." tepukan lembut di bahunya membuat Hana menoleh ke arah belakang.


"Mama..." balas Hana.


Mama Ritan tersenyum lalu berjongkok di sebelah Hana. "Mama senang karena kau sudah mulai belajar damai dengan masa lalu kita." Ucap Mama Rita seraya mengusap rambut Hana yang tergerai.


Hana hanya diam tanpa membalas ucapan Mama Rita. Sudah satu minggu sejak Papa Rauf dimakamkan dan baru saat ini ia mau melapangkan hatinya untuk melihat tempat peristirahatan terakhir Papanya setelah berdebat cukup panjang dengan Dika.


"Mama sudah lama?" Tanya Hana setelah cukup lama terdiam.

__ADS_1


"Mama baru saja sampai. Setelah mendengar kau berada di sini, Mama memutuskan untuk menyusul ke sini." Jelas Mama Rita.


"Kenapa Mama bisa begitu mudah memaafkan Papa setelah apa yang dilakukan Papa selama ini pada Mama?" Tanya Hana dengan menatap Mama Rita intens.


"Belajar damai dengan masa lalu dan mengikhlaskan apa yang sudah menjadi jalan takdir kita. Walau begitu sulit tapi Mama selalu mencoba melakukannya." Balas Mama Rita.


Hana menghela nafasnya yang kian memberat. "Apa Mama masih ingin berada di sini?" Tanya Hana.


Mama Rita mengangguk. "Hana... Mama harap kau bisa belajar berdamai dengan masa lalu kita. Maafkanlah Papa dan biarkan Papa istirahat dengan tenang tanpa membawa beban maaf darimu." Turur Mama Rita.


Mama Rita tersenyum. "Bagaimana pun juga Papa adalah ayah kandungmu. Dia pernah memberikan sepenuhnya kasih sayangnya untukmu. Sewaktu kau kecil dia pernah meluangkan waktu sibuknya hanya untuk melihatmu belajar berjalan bersama Mama. Terlepas dari rasa sakit yang telah Papa torehkan, Papa Rauf tetaplah ayah yang bertanggung jawab untukmu." Ucap Mama Rita panjang lebar.

__ADS_1


Hana menolehkan wajahnya ke arah makam dengan tatapan sendunya. Ia baru mengetahui tadi malam jika selama ini Papa Rauf tidak sepenuhnya melepaskan tanggung jawabnya begitu saja kepadanya. Setiap bulan Papa Rauf tetap mengirimkan uang kepada Mama Rita untuk hidup mereka setelah perceraiannya dan Mama Rita sah di mata hukum. Bahkan sebelum kematian menjemputnya Papa Rauf sudah menyiapkan harta warisannya untuk Hana yang terbilang cukup besar bahkan melebihi harta peninggalan untuk istri baru dan anak tirinya saat ini.


Air mata yang sejak tadi Hana tahan akhirnya jatuh juga. Sebelah tangan Hana terulur memegang tanah yang terasa masih basah digenggamannya. "Papah... pergilah dengan tenang. Hana sudah ikhlas memaafkan Papa." Ucap Hana dengan lirih.


Mama Rita turut menangis mendengarnya. Senyuman di wajahnya pun terbit melihat Hana yang sudah mau belajar memaafkan Papa Rauf.


"Terimakasih atas kasih sayang Papa yang begitu tulus Papa berikan sejak Hana masih kecil. Walau setelah hari itu Hana harus kehilangan kasih sayang dari Papa, namun Hana masih tetap mengingat dengan jelas dan merasakan setiap kasih sayang yang Papa berikan pada Hana." Ucap Hana kemudian.


"Hana..." Mama Rita membawa tubuh Hana ke dalam pelukannya. Ibu dan anak itu pun menangis dalam diam dalam waktu yang cukup lama.


"Mama... Hana... hujan sudah semakin deras. Ayo kita pulang." Ajak Dika yang kini sudah berdiri di belakang tubuh Mama Rita dan Hana sambil memayungi mereka.

__ADS_1


***


\~ End


__ADS_2