
"Dokter Hana, ada korban kecelakaan tabrak lari!" Suara panggilan dari Fitri asistennya membuat Hana yang sedang memeriksa pasiennya yang terkenan demam tinggi terhenti.
"Kenapa kau memanggilku? Dimana Dokter Galang?" Tanya Hana merasa bingung.
"Dokter Galang sedang menangani korban lainnya." Jelas Fitri.
"Oh astaga... Tunggulah sebentar." Hana pun buru-buru memasukkan peralatan pemeriksaannya lalu berpamitan keluar pada pasiennya.
"Dokter Hana tunggu dulu!" Fitri menangan tangan Hana.
"Ada apa lagi Fitri? Kau tidak sadar jika ada pasien yang harus aku tangani!"
"Bukan begitu Dokter. Tapi korbannya banyak berlumuran darah." Terang Fitri.
Hana menghela nafas panjang. "Tak apa. Ini sudah menjadi kewajibanku. Aku sudah biasa melewatinya." Balas Hana yang mengerti maksud ucapan Fitri. Hana pun kemudian berlari ke arah ruangan IGD untuk segera menangani korban tabrak lari.
*
Hana nampak berjalan sempoyongan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing setelah selesai menangani pasiennya yang berlumuran darah akibat kecelakaan.
Padahal sudah hampir lima tahun aku bekerja di rumah sakit ini dari koas sampai saat ini. Namun kenapa kepalaku masih pusing setiap menangani pasien seperti tadi. Hana memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Apa dokter baik-baik saja?" Seorang perawat wanita yang mengikuti jalan Hana nampak cemas.
"Aku baik-baik saja, Fitri. Hanya sedikit pusing dan mual. Kau tahu bukan aku selalu seperti ini?" Ujar Hana dengan nada lemah.
"Sebaiknya dokter istirahatlah lebih dulu sampai rasa pusing dokter sedikit berkurang." Saran Fitri.
"Tidak. Aku harus memeriksa kembali pasienku yang tadi." Hana bersikeras karena sebelum menangani korban kecelakaan tabrak lari itu ia belum selesai memeriksa keadaan pasiennya yang sedang di rawat akibat demam tinggi.
__ADS_1
"Dokter... Dokter Hana..." Perawat itu berusaha mengejar dokter Hana yang terus berjalan.
Bruk
"Aw..." Dokter Hana memegang keningnya yang terasa sakit akibat menabrak dada bidang seseorang.
"Sakit sekali..." Lirih Dokter Hana mengelus keningnya.
"Kenapa kau menghalangi jalanku!" Rutuk Dokter Hana tanpa melihat lawan bicaranya. Tangannya sibuk mengusap-usap keningnya yang terasa sakit.
"Dokter Hana..." lirih Fitri merasa takut melihat siapakah orang yang ditabrak Hana.
"saya sudah berjalan dengan benar. Kau saja yang tidak bisa berjalan dengan baik!" Balas seorang pria dengan nada dinginnya. "Saya heran kenapa di rumah sakit seperti ini bisa-bisanya mempekerjakan seorang dokter ceroboh seperti dirimu!" Ketus pria itu. Wajahnya nampak dingin dan datar.
Deg
Deg
Dokter Hana mematung di tempatnya saat dapat melihat dengan jelas siapa pemilik suara yang sangat dirindukannya itu.
"Dika..." Lirih Dokter Hana dengan wajah terkejut.
"Hana..." Dokter Dika tak kalah terkejut melihat wanita yang meninggalkannya begitu saja demi kekasihnya yang baru enam tahun yang lalu.
"Dokter Hana... Apa kau tidak apa-apa?" Perawat wanita itu angkat bicara karna Dokter Hana hanya diam mematung di tempatnya.
"A-aku tidak apa-apa." Dokter Hana melepas dengan pelan tangan asistennya dari bahunya.
"Dokter Dika..." Suara seorang wanita terdengar mengalun di belakangnya membuat Dika tersadar dari keterkejutannya.
__ADS_1
"Kyara..." Dika berbalik dan melihat Kyara istri dari sahabatnya yang berdiri di belakangnya.
"Apa kau ada urusan dengan dokter ini?" Tanya Kyara menampilkan senyuman manisnya pada dokter cantik di depannya.
"Tidak. Apa kau sudah mengambil ponselmu yang tertinggal di mobil?"
Kyara mengangguk. "Ini." Menunjukkan ponselnya.
"Ya sudah. Ayo!" Dika pun berlalu dari hadapan Dokter Hana dengan wajah dinginnya.
Kyara melihat ke arah dokter Hana yang menampilkan wajah sendunya. "Apa dokter baik-baik saja?" Tanya Kyara saat Dika sudah berjalan jauh di depannya.
"Eh." Dokter Hana tersentak. "Saya baik-baik saja, Nona." Menampilkan senyum yang tak kalah manis.
Kyara tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu saya permisi." Kyara pun segera berlalu dari hadapan dokter Hana setelah mendapatkan anggukan kepala dari wanita itu.
Apa wanita itu kekasih Dika? Batin Hana sendu.
"Dokter..." Tepukan lembut di lengannya membuat Hana tersadar.
"Apa Dokter tidak jadi memeriksa pasien?"
"Agh, iya. Kau ini membuatku melupakan niatku?" Gerutu Hana meninggalkan asistennya.
"Aku?" Perawat itu menunjuk wajahnya. Kemudian ia menggeleng merasa Dokter Hana sedang tidak baik-baik saja.
*
Ayuk berikan dukungan untuk karya Shy ya. Dengan cara vote, like dan komennya. Semakin banyak dukungannya, Shy semakin semangat menulisnya ini hehe☺️
__ADS_1