
Hana terlihat terburu-buru memasang kancing kemeja yang telah melekat di tubuhnya di dalam kamar mandi. Pagi ini ia terbangun lebih lambat dari biasanya hingga membuatnya mengejar waktu agar tidak datang terlambat ke rumah sakit.
"Apa pagi ini Dika juga akan mengantarkanku ke rumah sakit seperti kemarin?" Gumamnya setelah selesai mengancingkan seluruh kancing kemejanya. Lalu keluar terburu-buru dari dalam kamar mandi setelah memastikan pakaiannya sudah melekat rapi di tubuhnya.
Hana mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kamar namun tidak menemukan lagi keberadaan suaminya. "Mungkin dia sudah berada di bawah." Tebaknya. Hana melangkah ke arah meja rias untuk memoleskan bedak dan lip di bibirnya sejenak lalu mengambil jas kerjanya.
"Dika..." suara Hana yang terdengar mengalun membuat perhatian Dika teralihkan padanya. Hana menatap wajah kedua mertua dengan tatapan tak enak hati karena tidak membantu mempersiapkan sarapan pagi ini.
"Hana, ini Mama sudah menyiapkan bekal untukmu untuk dibawa ke rumah sakit. Jangan lupa dimakan, ya." Mama Puspa beranjak dari duduknya lalu menyerahkan kotak bekal bewarna coklat kepada Hana.
Hana menerimanya dengan wajah sungkan. "Terimakasih Mama. Maaf tidak membantu Mama tadi pagi." Tutur Hana.
Mama Puspa mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus pundak Hana. "Tak masalah. Mama tahu kau tidur larut tadi malam." Balas Mama Puspa.
Hana tersenyum lembut. Mama Puspa melepas tangannya dari pundak Hana lalu kembali duduk di posisi semula. Pandangan Hana tiba-tiba tertuju pada Liza yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tak suka. Hana segera mengalihkan pandangannya seolah enggan menatap wanita itu.
__ADS_1
"Ayo kita pergi." Dika beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Hana tanpa membiarkan Hana untuk berpamitan lebih dulu.
"Tunggu dulu." Hana menahan pergerakan Dika untuk melihat mertuanya dan kedua orang tua Liza barang sejenak. "Hana pamit pergi bekerja dulu. Mama, Papa, Om, Tante." Pamitnya.
"Hana... Dika... hati-hati di jalan." Mama Puspa sedikit berteriak saat Dika nampak tak sabar membawa Hana pergi.
"Anak kita sangat mirip seperti Papa dulu, ya." Mama Puspa tertawa kecil di akhir ucapannya sambil terus menatap kepergian Dika dan Hana.
"Mirip bagaimana?" Kening Papa Indra mengkerut.
Sial sekali. Niatku yang ingin mendekati Dika justru aku yang harus tiap hari melihat kedekatan Dika dan istrinya! Sungut Liza dalam hati dengan tangan terkepal.
*
"Dika, apa kau tadi sudah sarapan?" Hana menolehkan wajahnya pada Dika yang tengah fokus pada kemudinya.
__ADS_1
"Aku akan sarapan di rumah sakit." Balas Dika tanpa menatap wajah Hana.
"Kenapa tadi kau tidak sarapan di rumah saja?" Tanya Hana hati-hati.
Dika hanya diam tanpa berniat membalas ucapan Hana. Ia tidak berniat mengungkapkan isi hatinya jika ia tidak mungkin sarapan jika istrinya sendiri tidak sarapan. Hana pun tak lagi berniat untuk bertanya dan lebih memilih untuk diam selama dalam perjalan.
"Dika, kenapa kau menurunkanku di sini?" wajah Hana nampak cemas saat Dika tak mengindahkan ucapannya untuk turun di gerbang rumah sakit saja seperti biasanya.
Dika hanya diam lalu turun dari dalam mobilnya. Hana pun turut turun dari dalam mobil dan tak lupa membawa kotak bekalnya. Untung saja suasana di parkiran pagi itu sedang sepi hingga tidak ada yang melihat mereka pergi bersama.
"Jangan terlalu dekat dengan pria mana pun yang bukan suamimu." Ucap Dika dengan tegas.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya dulu ya😊
__ADS_1