Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Dia pantas membenciku


__ADS_3

Setelah memeriksa pasiennya, Hana kembali ke dalam ruangannya dengan langkah lesu. Wajahnya yang ceria lenyap begitu saja setelah melihat kekasih hatinya telah kembali. Perasaan senang dan sedih menjadi satu di dalam dadanya. Senang karena dapat kembali melihat wajah Dika kembali dan sedih karena jika tebakannya benar, wanita yang bersama Dika tadi adalah kekasih baru Dika.


"Tuhan... kenapa aku belum bisa merelakan Dika pergi dari hatiku..." Hana menjatuhkan wajahnya di atas meja. Genangan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Harusnya aku telah merelakannya setelah aku memutuskan untuk menyakiti hatinya." Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan membasahi meja kerja Hana.


Banyaknya pertanyaan kini menjadi satu berkumpul di benak Hana. Dika, bagaimana bisa pria itu berada di rumah sakit yang sama dengannya? Dari yang Hana lihat sepertinya Dika juga bekerja di rumah sakit yang sama melihat pin yang Dika pakai di jas dokternya.


Setelah enam tahun berlalu akhirnya Tuhan memperkenankan mereka bertemu kembali dalam profesi yang sama. Hana benar-benar dibuat terkejut dengan pertemuan mereka setelah lama berpisah. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipi Hana ketika mengingat bagaimana tatapan Dika padanya. Hana sadar arti dari tatapan Dika. Tatapan keterkejutan dan kebencian menjadi satu di benak pria itu dan Hana tak bisa memberi pembelaan apa-apa karna ia pantas mendapatkannya.


Tidak banyak yang berubah dari pria yang masih dicintainya itu. Wajahnya masih tetap tampan seperti yang Hana lihat dari beberapa tahun yang lalu. Tubuhnya yang tinggi kini sudah nampak berisi dan berotot. Hana dapat menebak jika Dika dapat merawat tubuhnya dengan baik selama ia tinggal di negeri orang. Dan tidak pernah Hana lupakan, wajah Dika masih tetap dingin dan datar seperti awal mereka bertemu. Namun satu hal yang nampak jelas berbeda, tatapan kebencian padanya.

__ADS_1


Hana menegakkan tubuhnya. Pandangannya nampak kosong membayangkan perpisahan mereka enam tahun yang lalu. "Kau pantas membenciku." Guman Hana di dalam tangisannya.


Jika ada yang mengatakan Hana begitu bodoh melepaskan bentuk terindah yang Tuhan berikan padanya, itu memang benar, dan Hana tak memberi pembelaan dalam bentuk apapun itu. Namun mereka perlu tahu, Hana melakukan itu semua bukan tanpa alasan, begitu banyak pertimbangan yang ia pikirkan hingga keputusan meninggalkan dan menyakiti Dika adalah keputusan terbaik yang ia ambil.


Beberapa lembar tisu Hana tarik dari tempatnya lalu menghapus air mata yang membasahi wajahnya dengan tisu yang ia ambil. Hana menatap jam menggantung di dinding ruangannya. Sudah waktunya ia pulang ke rumahnya. Hari ini begitu banyak pekerjaan yang menantinya di rumah. Mulai sore ini ia sudah harus mulai membereskan barang-barangnya yang akan ia bawa pindah ke apartemennya yang baru.


*


Hana mengelus dadanya. "Kau mengagetkanku, Fitri. Sedang apa kau di depan ruanganku?" Tanya Hana.

__ADS_1


"Saya menunggu anda keluar dari dalam ruangan anda, Nona. Saya lihat kondisi hati anda sedang tidak baik-baik saja dan saya ingin memastikannya." Jelas Fitri dengan wajah polosnya.


Hana menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja. Dan kau tidak perlu cemas begitu." Hana menepuk bahu Fitri.


"Apa anda yakin, Nona? Saya lihat anda nampak murung setelah bertemu dengan Dokter Dika tadi?" Tanya Fitri tanpa melunturkan raut cemas di wajahnya.


*


Lanjut lagi? Berikan vote, like, komen dan giftnya dulu yuk🌹

__ADS_1


__ADS_2