Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Berhak untuk bertanya


__ADS_3

Astaga, apa yang Dika lakukan. Hana memalingkan wajahnya agar tak melihat pemandangan di depannya. Kenapa dia memakai cela-na da-lam di depanku? Hana dibuat tak habis pikir dengan tindakan Dika. Walau Dika adalah suaminya, namun tetap saja pemandangan seperti tadi cukup membuat jantungnya berdetak dengan cepat.


Suara langkah kaki Dika yang mendekat ke arahnya membuat Hana menatap wajah Dika yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


Dia mau apa? Hana dibuat gugup saat Dika menatapnya dengan datar. Ketakutannya perlahan luntur saat Dika membuka laci nakas lalu mengambil kaca matanya di sana.


Oh, dia hanya ingin mengambil kaca mata. Hana mengelus dadanya. Ia berusaha untuk kembali bersikap tenang.


"Dika, apa kau sudah makan?" Tanya Hana tanpa sadar hingga membuat langkah Dika terhenti. Bukan tanpa alasan Hana tiba-tiba bertanya. Karena setiap Dika pulang bekerja Hana selalu bertanya dalam hati apakah suaminya itu sudah makan atau belum. Apa lagi mengingat di rumah mereka belum tersedia bahan-bahan masakan yang bisa ia olah untuk suaminya selain makanan instan.


"Persiapkan pakaianmu. Besok siang kita akan pergi ke rumah kedua orang tuaku dan menginap di sana beberapa hari." Ucap Dika tanpa membalas ucapan Hana.


"Ada apa, kenapa kita menginap di rumah orang tuamu?" Hana merasa bingung. Apa lagi mereka baru beberapa hari tinggal di rumah baru milik Dika.

__ADS_1


"Aku tidak memintamu untuk bertanya." Ucap Dika dengan wajah yang semakin dingin.


Hana dibuat terdiam. Lagi-lagi hatinya terasa teriris mendengar ucapan suaminya. "Memangnya aku tidak berhak untuk bertanya kepadamu?" Tanya Hana dengan pelan.


Dika membalikkan tubuhnya. Tatapannya berubah tajam. "Kau berhak melakukannya namun aku tidak ingin mendengarkannya." Cetus Dika. Setelah mengatakannya Dika pun berjalan begitu saja keluar dari dalam kamar setelah mengambil laptopnya di atas meja. Entah kemana suaminya itu pergi. Hana berusaha tak memperdulikannya.


"Bisakah kau untuk memberikan sedikit hatimu untuk bersikap baik kepadaku?" Hana mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah. Helaan nafasnya kian melambat saat dadanya tiba-tiba terasa sesak.


*


Saat sudah sampai di depan rumah, Dika terlihat tengah menarik koper kecil miliknya keluar dari dalam rumah. "Dika, apa kita akan langsung berangkat?" Hana mendekati Dika yang kini tengah memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya.


Dika hanya mengangguk tanpa bersuara. "Apa aku ikut bersamamu?" Tanya Hana lagi dan Dika hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. "Tapi bagaimana dengan mobilku? Bagaimana besok aku berangkat bekerja?" Tanya Hana lagi.

__ADS_1


"Aku akan mengantarkanmu bekerja besok pagi." Balas Dika.


Hana dibuat terkejut. Apa ia tidak salah dengar jika Dika ingin mengantarkannya pergi bekerja besok hari? Tatapan memerintah dari lirikan mata Dika pun membuat Hana segera masuk ke dalam mobil Dika.


Tiga puluh lima menit berlalu, mobil Dika pun telah sampai di depan rumah kedua orang tuanya.


"Bersikaplah biasa saja pada orang yang akan kau temui di dalam nantinya." Ucap Dika setelah mengeluarkan koper Hana dari dalam mobil.


"Orang siapa yang kau maksud?" Tanya Hana dengan bingung. Kebingungannya pun akhirnya terjawab sudah saat kakinya baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dan melihat sosok wanita yang sangat dikenalinya tengah berlari ke arah Dika dan tanpa tahu malu memeluk tubuh Dika begitu saja.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya dulu ya😊

__ADS_1


__ADS_2