
Setelah menempuh dua jam kurang perjalanan akhirnya Dika dan Hana pun sampai di hotel yang akan menjadi tempat mereka untuk menginap. Dika terlihat berjalan lebih dulu menuju kamar hotel mereka dengan menarik satu koper besar milik Hana sedangkan Hana menarik koper milik Dika.
Ceklek
Pintu kamar hotel terbuka. Dika terus berjalan memasuki kamar hotel sedangkan Hana sibuk menatap kesekeliling kamar hotel.
"Apa kau masih ingin berdiri di sana?" Tanya Dika tanpa menatap pada Hana.
Hana buru-buru berjalan ke arah Dika yang kini berdiri di dekat lemari setelah meletakkan kopernya lalu meletakkan koper milik Dika di samping kopernya.
"Dika, kita akan menginap berapa hari di sini?" Tanya Hana.
Dika mengalihkan tatapannya pada Hana. "Empat hari. Karena aku tidak bisa terlalu lama mengambil cuti." Balas Dika.
Hana mengangguk paham. Pemikirannya kini melayang memikirkan hal apa yang akan ia lakukan dengan Dika selama empat hari berada di Bali. Terlebih dengan sikap suaminya yang datar dan kaku membuatnya kesulitan untuk berinteraksi dengannya.
"Istirahatlah. Nanti sore aku akan membawamu bermain ke pantai." Ucap Dika.
__ADS_1
"Apa? Bermain di pantai?" Kedua mata Hana berbinar.
Dika hanya diam lalu melangkah ke arah kamar mandi.
"Agh senangnya. Akhirnya aku bisa menikmati liburan setelah beberapa tahun ini selalu larut dalam kepedihan." Ucap Hana tersenyum lebar.
*
Senyuman di wajah Hana terus terkembang saat sore harinya Dika membawanya jalan-jalan di sekitar pantai walau tidak ada percakapan di antara mereka. Jika pasangan suami istri lain saling bergandengan tangan berjalan di sekitar pantai, Dika dan Hana justru kebalikannya. Dika berjalan lebih dulu dan Hana mengikutinya dari belakang.
Setelah cukup puas bermain di pantai, akhirnya Dika pun mengajak Hana kembali ke hotel karena hari sudah mulai gelap.
"Apakah besok kita bisa bermain di pantai lagi?" Tanya Hana saat baru saja masuk ke dalam kamar hotel.
"Aku rasa tidak." Balas Dika dengan singkat.
"Kenapa?" Tanya Hana dengan kening mengkerut. Padahal ia sudah tidak sabar kembali menikmati dinginnya air pantai yang menerpa kakinya dan duduk di atas pasir.
__ADS_1
Dika hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Sabarlah, Hana. Kau sudah tahu sejak lama bukan jika dia bisa berubah sewaktu-waktu menjadi batu?" Hana berusaha menguatkan hatinya melihat sikap suaminya. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam ada perasaan bahagia yang Hana rasakan sebab Dika mau mengajaknya bermain di pantai hingga membuatnya senang.
*
"Agh sial sekali, aku lupa membawa pakaian gantiku ke dalam kamar mandi!" Hana merutuki kecerobohannya. "Bagaimana ini? Tidak mungkin aku keluar dengan kondisi seperti ini." Hana menatap penampilannya dari atas sampai bawah yang hanya menggunakan selembar handuk menutupi sebagian tubuhnya.
Cukup lama Hana berpikir hingga akhirnya ia pun berniat untuk keluar dari dalam kamar mandi. "Lagi pula dia tidak mungkin tergoda dengan tubuhku bukan?" Gumam Hana.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat perhatian Dika teralihkan dari ponsel di tangannya ke arah sumber suara. Wajah Dika terlihat datar menatap Hana yang kini berjalan terburu-buru menuju arah lemari.
Aku bilang juga apa, dia takkan mungkin tergoda. Hana dengan perasaan tenang mulai membuka kopernya. Namun pergerakannya tiba-tiba terhenti saat merasakan sebuah tangan kini menempel di pundaknya.
***
__ADS_1