Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pergilah kasih


__ADS_3

Satu minggu pun telah berlalu setelah hari wisuda Dika. Setelah hari itu Hana hanya bisa menjadi penguntit Dika kemana pun pria itu pergi. Untung saja penyamarannya tidak pernah membuat Dika curiga. Dari jarak jauh Hana memperhatikan sosok yang kini sedang melakukan salam perpisahan pada teman-teman angkatannya karena esok hari adalah hari Dika berangkat ke luar negeri untuk melakukan Koas dan melanjutkan pendidikannya di sana.


Bulir-bulir air mata mulai membanjiri pipiHana saat tangannya sangat ingin menjabat tangan kokoh Dika. Namun sayang harapannya akhirnya melebur begitu saja. Kesepuluh jemari Hana bertaut seolah tengah merasakan jika sebelah tangannya adalah tangan kokoh Dika yang dulunya sering menggenggam lembut jemarinya.


Sosok itu pun akhirnya menghilang bersamaan dengan Hana menutup kedua matanya dan membiarkan bulir air mata semakin membasahi pipinya. Hana membalikkan tubuhnya. Isakan tangisannya sekuat mungkin ia tahan agar tidak keluar. Hana mengelus dadanya saat membuka mata melihat sosok Amel tengah merentangkan tangan kepadanya.


Hana menabrak tubuh Amel lalu memeluknya erat. "Aku oke!" Ucapnya sambil terisak.


Amel menggeleng tak percaya lalu membalas pelukan sahabatnya erat. "Apa kau ingin menemuinya sebagai salam perpisahan? Aku akan menemanimu." Tawar Amel.


Hana menggeleng. "Aku tidak ingin membuat diriku semakin berat melepaskannya." Lirih Hana.


Amel menghela nafas panjang. Jujur saja hatinya turut hancur melihat kondisi sahabatnya akhir-akhir ini. "Ayo kita pulang. Tante Rita sejak tadi menghubungiku menanyakan keberadaanmu." Tutur Amel.


Hana mengangguk. Menghapus air mata yang membasahi pipinya lalu menghela nafas panjang. Kaki jenjangnya mulai melangkah menuju arah parkiran motornya. Hari ini adalah hari terakhir baginya bisa melihat sosok Dika secara langsung sebelum sosok itu hilang dimakan waktu nantinya.


Terimakasih Dika, setidaknya hari ini aku cukup puas menatap wajahmu sebelum wajahmu benar-benar lenyap dari pandanganku.


Hana kembali menolehkan wajahnya ke belakang dimana sosok Dika tadinya berdiri.


Aku sangat mencintaimu. Batinnya lalu kembali menatap lurus ke depan.


*

__ADS_1


Tin


Tin


Suara klakson motor yang memekakkan telinga pagi itu membuat Hana yang sedang menangis di kamarnya menghentikan tangisannya. "Siapa itu?" Gumam Hana. Menghapus air matanya lalu keluar dari dalam kamarnya.


"Amel?" Ucap Hana begitu terkejut melihat sosok sahabatnya tengah duduk di atas motornya.


"Ayo cepat pakai helmmu Hana. Kita lihat kepergian Dika untuk yang terakhir kalinya!" Ajak Amel.


Hana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak—"


"Hana... pergilah." Tepukan lembut di bahunya membuat Hana menolehkan wajah ke belakang dimana sosok Mamanya tengah tersenyum kepadanya.


"Ayo kita pergi atau kau akan menyesal." Tekan Amel.


Hana membalikkan tubuhnya lalu berlari ke dalam rumah. Tak lama Hana pun kembali dengan helm yang sudah terpasang di kepalanya.


"Mama, Hana pamit." Mencium pipi Mamanya lalu naik ke atas motor Amel.


Amel pun menunjukkan kemampuannya dalam mengemudi hingga dua puluh menit kemudian mereka pun telah sampai di bandara.


"Ayo Hana!" Amel menarik tangan Hana. Kedua sahabat itu nampak berlari menuju pintu utama keberangkatan.

__ADS_1


Saat sudah sampai langkah mereka dihentikan oleh seorang security yang sedang bertugas menanyakan tiket keberangkatan mereka. Hana dan Amel saling pandang lalu menghela nafas panjang. Amel pun berupaya untuk tetap masuk dengan memohon-mohon pada petugas, sedangkan Hana sibuk mencari sosok Dika di tengah banyaknya orang yang ingin berangkat.


Tak lama Hana mendengar pemberitahuan jika pesawat yang akan ditumpangi Dika akan lepas landas. Usahanya sia-sia. Dika pasti saat ini sudah berada di dalam pesawatnya.


Hana pun berlari keluar dari pintu keberangkatan yang diikuti oleh Amel. Langkahnya kian lebar menuju halaman yang cukup luas dimana ia dapat melihat pesawat yang akan lepas landas.


"Hana..." Amel menggenggam tangan Hana guna menguatkan sahabatnya.


Tak lama sebuah pesawat yang Hana yakini pesawat yang ditumpangi Dika pun mengudara.


"A-amel..." tubuh Hana bergetar. Pandangannya mulai kabur oleh genangan air mata. Hana menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"DIKA... AKU SANGAT MENCINTAIMU..." Pekik Hana ke arah pesawat yang mulai lenyap dari pandangannya.


"Hana..." Amel memeluk erat tubuh rapuh sahabatnya.


Dika... kekasih hatiku... pujaan hatiku... pergilah dan kejar impianmu... semoga kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan... aku sangat mencintaimu... begitu mencintaimu... semoga suatu saat nanti Tuhan berkenan mempertemukanku kembali pada dirimu walau harus dalam keadaan kau begitu sangat membenciku.


Pergilah kasih... aku sangat mencintaimu. \~ Hana.


***


Yeay babak pertama kisah Hana dan Dika akhirnya berakhir. Sampai bertemu kembali di babak berikutnya dimana Dika dan Hana sudah dewasa yah. Peluk hangat dari SHy untuk kalian yang selalu memberi dukungan untuk karya Shy yang jauh dari kata sempurna ini🤍

__ADS_1


Ayo berikan dukungan dalam bentuk vote, gift dan komennya yuk untuk lanjut ke babak ke dua cinta Dika dan Hana🌹🤍


__ADS_2