Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Motor sewaan


__ADS_3

"Aku ingin mengolesi salep di sana." Ucap Dika menatap bagian yang ingin ia obati.


Hana mengikuti arah pandangan Dika lalu menatap salep yang dibawa Dika. Setelah mengetahui salep apa yang dibawa Dika, Hana pun mengambil salep itu dari tangan Dika.


"Biar aku saja yang mengolesinya sendiri." Ucap Hana. Wajahnya mulai merona membayangkan tangan Dika mengolesi bagian intinya.


"Apa kau bisa mengolesinya sendiri?" Tanya Dika.


Hana mengangguk. "Ini hanya hal kecil dan aku bisa melakukannya sendiri." Ucapnya lalu buru-buru melangkah ke arah kamar mandi sambil menahan rasa sakit di bagian intinya.


Saat sudah berada di dalam kamar mandi, Hana mengatur nafasnya yang naik turun. "Yang benar saja dia ingin melakukan itu padaku. Bisa-bisa jantungku melompat keluar karena sangking gugupnya merasakan elusan tangannya." Hana bergidik ngeri membayangkan apa yang ingin Dika lakukan.


Tidak ingin Dika terlalu lama menunggunya di dalam kamar mandi, Hana pun segera membuka pakaian dalamnya dan memolesi salep dari Dika.


"Jika aku tahu akan seperti ini pasti aku sudah menyiapkan diriku dengan baik." Gumam Hana lalu mendesah-kan nafas kasar di udara.


*


"Apa kita akan berdiam diri di dalam kamar ini seharian?" Tanya Hana pada Dika yang tengah sibuk mengetikkan sesuatu di layar laptopnya.


Dika menghentikan ketikannya lalu menatap pada Hana. "Kau ingin keluar?" Tanya Dika tanpa menjawab pertanyaan Hana.

__ADS_1


Hana menganggukkan kepalanya. "Aku sungguh bosan berada di dalam kamar ini." Balasnya jujur.


Dika meletakkan laptop di pangkuannya di atas sofa lalu berdiri. "Bagaimana dengan tubuhmu? Apa kau yakin bisa berjalan dengan benar?" Tanya Dika.


"Aku sudah baik-baik saja dan aku sudah sangat ingin bermain di luar." Balas Hana. Hana pun berjalan di depan Dika untuk membuktikan ucapannya.


Dika menghela nafas panjang. "Baiklah. Satu jam lagi kita akan keluar."


"Kenapa satu jam lagi? Kenapa tidak sekarang saja?" Protes Hana.


"Ada pekerjaan mendadak yang harus aku selesaikan." Balas Dika dengan wajah datarnya.


"Emh... baiklah. Aku akan menunggumu di sana." Hana menunjuk sofa yang tadi ia duduki lalu melangkah ke arah sofa. "Beraninya kau memprotes ucapannya, Hana." Rutuk Hana pada dirinya sendiri.


*


"Ayo berangkat!" Ucap Hana begitu bersemangat.


Dika menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah pintu kamar.


"Dika tunggu!" Hana menahan pergelangan Dika hingga langkah Dika terhenti.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Dika.


"Apa kau tidak memakai jaket? Cuaca di luar cukup terik dan bisa membakar kulitmu. Di dalam kopermu aku sudah memasukkan satu jaket kemarin di sana."


Dika terdiam sesaat dan berpikir. Tak lama ia pun melangkah ke arah lemari untuk mengambil jaket yang Hana maksud.


"Ayo." Ajak Dika setelah memakai jaket di tubuhnya.


Hana mengangguk lalu mengikuti langkah Dika. Hingga saat berada di luar hotel Hana dibuat terkejut dengan keberadaan motor yang sudah dipersiapkan untuk Dika dan dirinya.


"Silahkan, Tuan." Ucap pelayan hotel menyerahkan kunci motor pada Dika.


"Terimakasih." Balas Dika sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada pelayan.


"Ini motor siapa?" tanya Hana.


"Cepat naik." Titah Dika tanpa menjawab ucapan Hana.


"Tapi..." Hana yang masih penasaran seketika mengangguk saat mendapatkan tatapan tajam dari Dika.


***

__ADS_1


Lanjut? Ayuk berikan dukungannya dulu dengan cara vote, gift komen dan likenya ya🌹


Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_


__ADS_2